03 March 2008

Blogger, Sejarawan Era Internet


Lusi dan Heri telah terpisah hampir sembilan tahun. Keduanya pernah punya kenangan semasa SMA di Yogyakarta. Komunikasi antara keduanya mungkin tak akan pernah terjadi kalau Heri tidak 'usil' masuk ke sebuah blog milik seorang blogger amatiran. Semula, Heri mengotak-atik sebuah situs pencari dan lalu 'terperosok' dalam blog itu. Cerita punya cerita, Heri tertegun. Matanya tertuju pada salah satu link di blog itu yang ia yakini adalah milik seseorang dari 'kisah lama' bapak beranak tiga itu. Ya, Lusi.

Segera Heri mengirim e-mail pada pemilik blog itu dan bertanya, apa benar Lusi ini adalah temannya semasa di kota Gudeg dulu. Namun, entah bagaimana, e-mail itu tidak masuk ke dalam inbox dari e-mail si pemilik blog itu, melainkan di kotak spam. Beruntung, si pemilik blog itu -yang biasanya tanpa pikir panjang langsung mengosongkan spam di e-mail nya- iseng membuka e-mail itu. Dibuka dan diteruskanlah e-mail itu pada Lusi.

Tampak jelas bagaimana Lusi begitu terkejut atas pertemuannya di alam maya dengan Heri. Ia pun menulis di blognya, ..."Jadi teringat masa-masa nostalgia bersama H ini. Ia sempat mengisi hari-hariku sewaktu masa remaja saya yang kulewati di SMA tercinta yang berlokasi di Kotabaru, Yogya....Sewaktu saya tinggal di Asrama, kami pun sempat saling bertukar kisah. Saat saya menghadapi ujian SMA, saat bingung pilih kuliah, tempat tinggal... hingga sewaktu aku akhirnya kuliah di Mrican dan tinggal di Asrama di Jl. Colombo... Sayang, kesibukan kami yang berbeda membuat kami sulit bertemu dan jadi agak sulit untuk saling memahami..."

Bingo !!! Eureka !!! Terbukti internet, dalam hal ini blog, mampu mempertemukan dua anak manusia yang pernah merajut kisah sembilan tahun sebelumnya. Heri kini tengah menempuh studi doktoral di Institut Pertanian Bogor. Sementara Lusi menjadi pengajar di sebuah lembaga bahasa asing, kontributor untuk sebuah majalah ibukota, dan kini tengah merintis karir sebagai editor paruh waktu di sebuah penerbit.

Sebuah media pernah mengangkat, bahwa di zaman sekarang ini sangat "penting" buat kita untuk bisa "dilacak" di internet. Alangkah baiknya ketika orang mengetikkan nama kita di situs pencari seperti Google, Yahoo, dan sebagainya, akan ada beberapa situs yang akan mengarahkan netters ke situs itu, dan mendapatkan info ini dan itu tentang kita. Pengalaman Heri dan Lusi ini hanya satu kisah yang menjadi rujukan bahwa teknologi tidak hanya bisa dicaci-maki sebagai sebagai perusak mentalitas anak bangsa, arena cyber crime, pornografi tanpa batas, et cetera.

Coba kita bandingkan dengan contoh ilustratif ini. Di dunia sepakbola, paling tidak hingga era '90-an, kita bisa memastikan pengguna kostum nomor sepuluh di tiap klub maupun tim nasional sepakbola di dunia adalah pemain istimewa, bukan pemain kacangan. Sebut saja, Diego Maradona di Napoli dan tim nasional Argentina, Lothar Matthaus kapten timnas Jerman saat menjuarai Piala Dunia 1994, Gary Lineker di timnas Inggris tahun 1980-an, Roberto Baggio dari Italia era 1990-an, Ronaldinho di Barcelona, et cetera. Ketika "era nomor 10" redup, nomor-nomor "cantik" lainnya juga diburu oleh para bola mania. Kita bisa sebut, kostum Manchester United milik David Beckham bernomor punggung 7. Dengan kostum itu, Beckham mampu menghantarkan MU menjadi klub berprestasi di eropa, bahkan terkaya di dunia. Begitu juga ketika ia pindah ke Real Madrid dan memakai kostum nomor 23. Ia juga menjadi penyumbang terbesar bagi kas Madrid selain bintang-bintang seperti Luis Figo (nomor 10), Raul Gonzales (7), Zinedine Zidane (5), dan lain-lain. Sedangkan dari lapangan basket, ketika sang superstar Michael Jordan masih beraksi membela Chicago Bulls, jutaan merchandise kostum klub itu dengan nomor 23 -nomor yang menginspirasi Beckham untuk menggunakannya di Real Madrid- laris manis di seluruh dunia. Tetapi, apakah setiap pemain sepakbola atau basket di seluruh dunia yang menggunakan nomor 10 atau 23 akan begitu saja meraih hasil manis di lapangan dan membawa harum nama klub dan atau timnas negaranya ? Pastilah itu mustahil tanpa kerja keras, latihan, mental, fisik, dukungan tim, pelatih, et cetera.

Setali tiga uang dengan internet, bukan? Di tangan orang "benar" ia akan menjadi "penyalur rahmat" bagi orang lain di muka bumi. Di tangan orang "salah" ia akan menjadi monster yang akan menghancurkan peradaban dan umat manusia sendiri. Ambillah contoh Amerika Serikat, yang begitu digjaya dengan teknologi nuklir. Negara itu paham betul bagaimana memanfaatkannya untuk ilmu pengetahuan dan juga, perang ! Mereka bisa memanfaatkan teknologi nuklir untuk dunia kedokteran sekaligus untuk perang, bukan ?! Hiroshima dan Nagasaki luluh lantak karena teknologi itu. Tak hanya luka-luka, jutaan nyawa melayang di sana, sementara jutaan orang lainnya merasakan manfaat dari teknologi itu.

Kembali ke kisah pertemuan "maya" Lusi dan Heri. Pemilik blog itu turut bahagia. Ia bahagia, karena blog yang ia isi di sela-sela kesibukan, dan kadang rasa jenuhnya, berhasil mempertemukan Heri dan Lusi. Maka, para blogger, jangan pernah berpikir untuk berhenti menulis. Kisah ini membuktikan mereka bisa bertemu, berkat perantaraan sebuah blog. Pengalaman itulah yang coba dibagikan kali ini oleh pemilik blog itu, saya sendiri.

Sekarang, untuk Anda yang belum memiliki blog, apakah Anda masih ragu untuk memulai ? Bagi Anda yang sudah memiliki blog, tentu sudah merasakan manfaat dari salah satu entitas globalisasi ini, bukan ? Satu istilah, yang disebut sosiolog Amerika Serikat kelahiran Spanyol Manuel Castells, bahwa dunia sekarang bagaikan nodes yang dihubungkan satu sama lain. Tesis yang hendak diajukan Castells terkait dengan transformasi media dan masyarakat adalah bahwa pada masyarakat jaringan yang saling terhubung dalam skala global, media tak lagi merupakan media ‘massa’, melainkan bertransformasi menjadi media jaringan, atau jaringan interaktif multimedia, yang menjadikan komunikasi dunia suatu jaring-jaring raksasa, suatu dunia yang saling terhubung, interconnected dan networked—dunia dengan satu budaya yang seragam, mono-multiculture. Sebuah blog bisa "ringan" atau "berat", tergantung dari pemilik dan juga pembacanya. Ia bisa berisi curahan hati seseorang yang sangat personal, meski juga bisa berisi kritik yang bersifat sosial. Blog bisa melatih orang untuk menulis dan berpikir dengan "sistematis". Kok bisa ? Ya bisa dong ! Anda cukup memilih gaya seorang penulis fiksi yang alurnya bisa maju-mundur-maju, dst. Atau menggunakan gaya para ilmuwan yang "pasti-pasti aja deh". Atau bisa juga memilih gaya lain, yang sesuai selera Anda. Bebas, toh blog itu milik Anda. Anda bebas memasukkan apa pun...

Blog, di sekian (puluh/ratus) tahun ke depan juga bakal menjadi catatan pemikiran, perjalanan hidup setiap pemiliknya. Kita yang hidup di era internet ini tentu jauh lebih beruntung, jika dibandingkan dengan orang-orang seperti Tan Malaka, Ahmad Wahib, serta Soe Hok Gie. Mereka tak pernah bersentuhan dengan komputer, apalagi internet dan blog yang sedang kita bicarakan ini. Tapi, lewat pena dan buku harian yang mereka tulis kita bisa, sedikit banyak, merasakan suasana zaman pada saat mereka hidup dulu. Kita yang pernah menonton film Gie karya Riri Riza pasti tahu bahwa salah satu sumber yang dipakai sebagai materi film itu adalah catatan harian Soe Hok Gie, yang telah dibukukan, Catatan Harian Seorang Demonstran. Andaikan (menurut sejarawan P.Swantoro, tidak ada kata "seandainya" dalam sejarah) Soe Hok Gie tidak tekun menuliskan catatan hariannya, pasti tak akan banyak dari kita yang tahu sosok intelektual yang mati muda itu.

Maka, setujukah Anda kalau saya menjuluki blogger sebagai "sejarawan era internet" ? Tentu, bukan sejarawan dalam batasan ketat. Melainkan, orang yang menulis sesuatu yang bakal -meminjam judul lagu grup musik Sheila on 7- menjadi "kisah klasik untuk masa depan". Kita bisa merujuk pada buku Kampus Kabelnaya karya Koesalah Soebagyo Toer. Buku itu berisi cuplikan catatan harian Koesalah selama menempuh studi di Moskow tahun 1960-an. Buku Tahun yang Tak Pernah Berakhir (kumpulan sejarah lisan korban peristiwa tahun 1965) yang diedit John Roosa, Agung Putri, dan Hilmar Farid, juga merupakan salah satu genre yang ampuh untuk pembelajaran sejarah: oral history alias sejarah lisan.

Terakhir, coba ketikkan nama Anda di situs pencari. Adakah situs yang memuat nama Anda (bukan nama orang lain, yang sama dengan Anda) berikut komentar atau gagasan-gagasan Anda? Jika belum, Anda boleh coba mengetikkan nama saya, Fransiskus Pascaries. He ... he ...he... Narsis !!!

01 February 2008

Melawan Sesat Pikir Anarkisme


"Aksi Anarkis Mahasiswa". Begitu tajuk sebuah berita di sebuah stasiun televisi. Berita mengangkat kasus perusakan yang dilakukan mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Medan. Anarkis, ya anarkis...

-----

Apa yang terlintas di benak kita kala mendengar dan atau membaca kata "anarkis" atau "anarkisme" ? Tak sekali dua kali, melainkan hampir tiap hari, kita bisa menyimak di media massa pejabat yang selalu berkata,"Kita serahkan kasus ini pada aparat keamanan. Masyarakat diminta tidak bertindak anarkis." Tetapi, apa betul anarkis bisa disederhanakan atau tepatnya disalahkaprahkan begitu saja ?

Sebelum membaca buku Anarkisme: Perjalanan Sebuah Gerakan Perlawanan karya Seán M.Sheehan, yang diterbitkan Penerbit Marjin Kiri, saya menjadi satu di antara 200-an juta orang Indonesia yang mengalami kekacauan ontologis dalam memahami kata itu, anarkisme. Dalam kata pengantar buku itu Daniel Hutagalung -peneliti di Institut Riset Sosial dan Ekonomi (Inrise) dan Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D)- menjelaskan bahwa sebagai konsep dalam ilmu sosial maupun filsafat, anarkisme sering disalahartikan -atau bisa jadi sengaja disalahartikan- sebagai suatu prinsip yang berhubungan dengan hal-hal yang bernuansa destruktif, chaotic, dan ketidakteraturan (disorder). Tidak jarang, kata itu ditempatkan berseberangan dengan demokrasi. Pemahaman yang keliru itu, menurut Daniel, mencuat karena masih minimnya literatur mengenai anarkisme di Indonesia, baik mengenai sejarah perkembangannya, filsafatnya, maupun perdebatannya dengan berbagai aliran pemikiran dalam filsafat dan ilmu-ilmu sosial.

Kata "anarki" berasal dari bahasa Yunani kuno "άυαρχoς" (huruf υ dilafalkan n dan ρ dilafalkan r) yang tersusun dari άυ yang berarti "tidak", dan αρχoς yang artinya "pemimpin" atau "ketua". Sehingga, anarkisme berarti "tidak ada pimpinan, tidak adanya pemerintahan". Etimologi kata ini menandai hal yang khas dari anarkisme, yaitu penolakan terhadap kebutuhan akan otoritas tersentral atau negara tunggal, satu-satunya bentuk pemerintahan yang kita kenal sampai saat ini.

Sejumlah nama mustahil untuk dihindari saat membahas yang namanya anarkisme ini. Sederet nama seperti Pierre-Joseph Proudhon, Mikael Bakunin, Peter Kropotkin, Max Stirner, Levnikolaevich (Leo) Tolstoy, Enrico Malatesta, Emma Goldman, dan lain-lain, sungguh memainkan perannya masing-masing dalam proses dialektika seputar "anarkisme". Proudhon adalah orang pertama yang menggunakan istilah anarkisme sebagai filsafat politik.

Noam Chomsky mengacu pada konsepsi Rudolf Rocher (seorang sejarawan anarkis) saat diminta menulis Kata Pendahuluan dalam buku Daniel Guerin, Anarchism From Theory to Practice (London, 1970), bahwa anarkisme "bukan suatu sistem sosial yang baku dan tertutup, melainkan sebuah tren pasti dalam perkembangan sejarah umat manusia yang berkebalikan dengan penjagaan intelektual oleh semua lembaga pemerintah dan keagamaan..."

Kaum anarkis tidak menolak bahwa ada orang yang pendapatnya lebih otoritatif dalam bidang-bidang tertentu. Ini adalah pilihan atau pertimbangan moral yang didasarkan pada nalar. Sean M.Sheehan mengutip apa yang ditulis oleh Bakunin dalam God and The State (London, 1883) bahwa ia tidak bermaksud menolak semua otoritas. Tidak. Bakunin mengaku tak pernah sedikitpun berpikir demikian. Tulisnya:

Apakah ini berarti saya menolak otoritas ? Pemikiran demikian sama sekali tak terbersit pada diri saya. Untuk urusan sepatu saya patuh pada pendapat tukang sepatu; soal rumah, kanal,atau rel kereta, saya bertanya pada arsitek atau insinyur.Tapi saya tidak mengizinkan tukang sepatu maupun arsitek itu memaksakan otoritasnya pada saya. Saya menyimak pendapat mereka secara bebas dan dengan segala hormat [tetapi] saya tidak pernah mutlak mempercayai siapapun. Kepercayaan mutlak macam itu akan memadamkan nalar dan kebebasan saya, bahkan memadamkan keberhasilan jerih payah saya; hal itu akan langsung mengubah saya menjadi budah belian, alat bagi hasrat dan kepentingan orang lain

Sementara bagi Emma Goldman, salah seorang ilmuwan anarkis dalam Anarchism and Other Essays (1963) memahami anarkisme sebagai "kekuatan yang menggerakkan keseluruhan hidup manusia, yang terus-menerus menciptakan keadaan-keadaan baru, berjuang dalam keadaan apapun untuk menolak segala sesuatu yang bisa menghambat perkembangan manusia".

Dua anarkisme

Disebutkan di buku itu, bahwa secara umum ada dua tendensi dominan dalam tradisi anarkisme, yaitu anarkisme individual dan anarkisme kolektif (komunis). Anarkisme-individualis, antara lain digaungkan oleh Max Stirner, sementara anarkisme-kolektif/komunal diteriakkan sekurangnya oleh Mikhail Bakunin dan Peter Kropotkin. Beberapa perbedaan membentang antara dua aliran itu. Namun, yang menjadi pengikat antara keduanya adalah bahwa mereka memiliki sebuah prinsip penolakan dan kritik fundamental terhadap otoritas politik dan seluruh bentuk-bentuknya. Bakunin dalam tulisannya yang berjudul The Paris Commune and the Idea of the State, dan berada dalam buku yang diedit Sam Dolgoff, Bakunin on Anarchism (2002) mengatakan:

Negara itu seperti rumah jagal raksasa atau kuburan mahaluas, di mana semua aspirasi riil, semua daya hidup sebuah negeri masuk dengan murah hati dan suka hati dalam bayang-bayang abstraksi tersebut, untuk membiarkan diri mereka dicincang dan dikubur.

Marx dan Bakunin pernah berdebat keras dalam sidang Internasionale pertama di Den Haag 1872. Perdebatan itu membawa kaum anarkis abad ke-19 pada konflik yang tajam dengan kaum marxis. Kaum marxis meyakini bahwa pada saat Negara bersifat represif dan eksploitatif, hal itu tak lebih merupakan refleksi dari eksploitasi ekonomi dan instrumen dari kelas yang berkuasa, yang mana kekuatan politik direduksi oleh kekuatan ekonomi. Di pihak berbeda, Bakunin dan Kropotkin melihat Negara lebih dari sekadar ekspresi kekuatan kelas dan kekuatan ekonomi. Negara memiliki logika dominasinya sendiri dan merawat dirinya sendiri (self-perpetuation), sehingga Negara menjadi otonom terhadap kepentingan kelas. Negara menciptakan penindasan fundamental dalam masyarakat, dan eksploitasi ekonomi datang dari penindasan politik seperti itu. Karena Negara memiliki logika ekonominya sendiri, maka Negara tidak pernah dapat dipercaya sebagai alat revolusi sebagaimana argumen kaum marxis.

Meski demikian, anarkisme menolak dengan tegas Negara bukan dalam artian "administrasi sistem politik", tetapi yang paling pokok adalah penolakan tegas terhadap gagasan tentang suatu tatanan berkuasa yang menuntut dan menghendaki kepatuhan warganya dalam otoritas sentral yang disakralkan dalam wujud Negara. Anarkisme membedakan antara "pemerintah" (mengacu pada Negara) dengan "pemerintahan" (mengacu pada administrasi sistem politik).

Daniel Hutagalung juga menjelaskan bahwa dalam hal ontologi sosial, keduanya sama-sama menolak keberadaan subyek yang terpisah dari dunia yang obyektif. Artinya, sebagaimana marxisme, anarkisme pun menolak anggapan adanya dunia "di luar" subyek yang berdiri terpisah dari subyek yang memahami (knowing subject). Secara aksiologis, keduanya sama-sama menolak otoritas sentral yang memaksakan kepatuhan warganya. Sedangkan secara epistemologis, ada perbedaan prinsipil dalam melihat posisi subyek dalam tatanan masyarakat.

Individu dan Massa

Max Stirner, pemikir dan anarkis individualis asal Jerman, menyatakan bahwa setiap individu memiliki kebebasan untuk menentukan yang terbaik bagi dirinya sendiri, apa yang diinginkan, dan hanya individulah yang bisa menetukan apakah ia benar atau salah. Itu didasari sebuah prinsip bahwa individu memiliki keunikan sebagai nilai intrinsik. Kata Stirner, "kebebasan yang diberi atau dinisbahkan bukan kebebasan, melainkan 'barang curian'".
Sehingga, Stirner juga berprinsip bahwa hanya pada kedirian masing-masinglah setiap individu harus tunduk, bukan pada Negara, atau masyarakat.

Namun, jangan terburu-buru memberi cap 'egois' pada Stirner. Stirner tidak mengabaikan bahwa individu memerlukan bantuan dan juga orang lain sebagai teman. Itu bisa dibaca dalam kalimat ini:

Kalau di belakang anda ada sekian juta orang lain untuk melindungi, secara bersama-sama kalian bisa menjadi sebuah kekuatan besar dan menang dengan mudah. Dengan satu syarat: hubungan dengan orang lain itu harus bebas dan sukarela dan senantiasa bisa ditinggalkan.

Sementara itu, massa juga bisa menjadi sumber inspirasi bagi anarkisme. Tokoh penggagasnya adalah Pierre-Joseph Proudhon yang percaya bahwa gerakan anarkisme harus disandarkan pada kekuatan gerakan massa. Ia memetik pelajaran dari Revolusi 1848 bahwa massa merupakan sumber kekuatan revolusi. Tidak seperti para marxist, Proudhon percaya bahwa revolusi berlangsung atas suatu tindakan spontan dari rakyat. Ia juga berprinsip revolusi tidak memerlukan kepemimpinan atau kenabian. Bukan kerja satu orang, melainkan produkdari suatu bentuk universalitas, revolusi harus dilakukan dari bawah, bukan dari atas. Hal yang juga diamini oleh Bakunin.

Format gerakan

Lalu, bagaimana gagasan ini bisa dijalankan atau 'dibadankan' dalam konteks masyarakat ? Sub-judul ini sedikit coba mengangkat bagaimana yang namanya konsep bisa mewujud dalam gerakan yang tercatat dalam sejarah berhasil membuat sebuah perubahan. Kita angkat dua contoh, yaitu gerakan Ejercito Zapatista de Liberacion Nacional (EZLN) di Meksiko (yang juga memiliki Ya Basta ! [Bahasa Spanyol: sudah cukup] sebagai kelompok pendukung di Italia) dan gerakan para demonstran di Seattle, Amerika Serikat, November 1999 saat World Trade Organization menggelar konferensi. Dalam bahasa sederhananya, para anarkis tidak cuma NATO, no action talk only.

Pada 1 Januari 1994, sejumlah petani di Chiapas, Meksiko, secara konkrit melakukan perlawanan terhadap globalisasi neoliberal. Ya, petani. Bukan aktivis pro-demokrasi yang justru kerap ditunggangi kepentingan pemodal di balik "aksi mulia" mereka. Para petani itu menyebut diri mereka EZLN atau Tentara Pembebasan Nasional Zapatista yang mengangkat senjata melawan pemerintah Meksiko, dan dalam waktu singkat sukses menduduki Chiapas. Mereka mendorong 11 tuntutan, antara lain:

1. pekerjaan

2. tanah

3. perumahan

4. makanan

5. perawatan kesehatan

6. pendidikan

7. kemerdekaan

8. kebebasan

9. demokrasi

10. keadilan

11. perdamaian

Pemberontakan itu pertama kali direpresentasikan sebagai perlawanan terhadap gagasan-gagasan neoliberal atau ekonomi pasar bebas. Di hari pertama tahun 1994 itu, bertepatan dengan dimulainya Kesepakatan Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA), para pemberontak menunjukkan fakta bahwa mayoritas pedesaan miskin di Meksiko tidak sesuai dengan model neoliberal. Pemberontakan yang tak cuma berdampak secara nasional, karena akhirnya memberikan harapan baru bagi banyak gerakan sosial di masa depan dalam perjuangan anti-kapitalisme di tingkat internasional. Terlebih, kaum Zapatista berhasil mencuatkan pertanyaan-pertayaan mengenai masa depan masyarakat adat (indigenous people) di hadapan globalisasi ekonomi dan budaya.

Salah besar, kalau kita menduga Zapatista berniat untuk merebut kekuasaan. Mereka semata ingin mempromosikan demokrasi partisipatif yang memungkinkan wargaNegara menentang tatanan ekonomi yang berlaku, di mana masyarakat ada Chiapas begitu menderita akibat kebijakan neoliberal pemerintah pusat Meksiko. Secara politik, EZLN mengorganisir dan mendorong program reformasi agraria secara radikal, memperluas konstituen, dan berkeras untuk menerapkan bentuk pemerintah desentralis. Mereka menggalang dan mengorganisir dukungan internasional lewat internet, yang terbukti mendatangkan dukungan yang masif. Terbukti, Agustus 2006 EZLN berhasil menggelar Pertemuan Internasional Demi Kemanusiaan dan Melawan Neoliberalisme yang dihadiri 3.000 delegasi dari sekurangnya 50 Negara dan melahirkan gerakan anti-kapitalis global.

Itu di Meksiko. Sementara di Seattle November 1999 terjadi pula sebuah aksi yang melibatkan tak kurang dari 75.000 demonstran dari beberapa negara. Arak-arakan pertama di sepanjang Seattle dimulai 30 November pagi. Mereka memblokade jalan hingga menjelang senja, dengan teater jalan dan pesta-pesta kaki lima. Jumat, 1 Desember 1999 para demonstran anti-kekerasan ini membentuk kelompok-kelompok besar untuk melakukan aksi duduk di depan penjara kota, tempat demonstran lainnya ditahan. Sejumlah perwakilan mengadakan diskusi seputar strategi gerakan setiap sore. Bangunan gudang tempat pertemuan dilakukan berhari-hari sampai 29 November adalah tempat dilaksanakannya kursus aksi tanpa-kekerasan dan bengkel solidaritas bagi kawan-kawan mereka yang ditahan dalam aksi "Karnaval Melawan Modal" itu.

Prinsip-prinsip anarkis tampak begitu sukses dijalankan. Merebaklah suatu struktur yang tak mengenal kewenangan tersentral atau hirarki birokratis, namun yang koordinasi antar kelompoknya berlangsung sangat kompak saat menjalankan aksi berskala besar (aksi turun ke jalan, blokade rantai manusia, pengibaran spanduk, pertunjukkan dan teater jalanan) secara rapi.

Aksi damai ini terbukti membuat polisi di jalan-jalan Seattle kebingungan dan panik. Media massa merekam bagaimana demonstrasi damai ini diserbu oleh polisi anti huru-hara. Polisi menembakkan gas air mata, mengacungkan pentunggan, menyemprotkan semprotan pedas, dan melontarkan granat getar. Aksi ini juga membuat polisi terpaksa melakukan tindakan ilegal, sebagaimana terbukti bahwa dari 631 demonstran yang ditahan, hanya 14 orang yang sah untuk diajukan ke pengadilan. Saat aksi di Seattle itu meletus -dengan keberhasilan awal menggagalkan pembukaan sidang WTO- protes masyarakat juga membahana dari seantero Prancis, Amsterdam (Belanda), Berlin (Jerman), Buenos Aires (Argentina), Kolombo (Sri Lanka), Jenewa (Swiss), India, Manila (Filipina) dan Milan (Italia).

Media massa banyak mengangkat soal perusakan terhadap simbol-simbol kapitalis seperti Starbucks, Planet Hollywood, dan Nike. Media dinilai Sheehan berkesempatan membangkitkan kembali momok anarkisme dan menjelek-jelekkan para demonstran sebagai orang-orang sinting dan berbahaya. Namun, media massa kurang memberi porsi secara memadai pada kaum anarkis lainnya, seperti kaum pecinta damai, petani, serikat-serikat dagang, dan aktivitas lingkungan dan sebagainya, yang selama lima hari bergerak dengan amat terorganisir itu.

Pencerahan

Tulisan ini tak lebih dari semacam 'remah-remah' (bisa terasa gurih, bisa juga tidak) dari buku Anarkisme: Perjalanan Sebuah Gerakan Perlawanan karya Seán M.Sheehan, yang diterbitkan Penerbit Marjin Kiri. Semoga setelah membaca buku itu, atau sekurangnya kupasan singkatnya di sini, pengunjung blog sekalian bisa sedikit tercerahkan bahwa "anarkisme" yang sering disalahartikan oleh media massa dan para tokoh, tak lain adalah salah satu wilayah kajian tersendiri dalam tradisi ilmu filsafat.

Saya sendiri -yang hanya belajar filsafat secara 'eceran'- sekadar ingin berbagi pencerahan, agar kita tak serta merta percaya pada apa yang disebut oleh media massa, yang kadang justru menyesatkan pemirsanya. Bagi pembaca yang pernah belajar filsafat secara akademis, tentu itu tak menjadi masalah. Tetapi, bagi yang tidak atau belum ? Semoga tulisan ini bisa sedikit memberikan sumbangsihnya. Agar semangat yang coba diusung dalam tulisan ini yaitu "melawan sesat pikir anarkisme" bisa ditularkan ke sebanyak mungkin orang. Jangan terlalu mudah percaya pada media massa yang kerap "tidak tahu di tidak tahunya". Kekritisan adalah kuncinya !

29 January 2008

Jenderal Besar Itu Telah Pergi

Gandaria, Jakarta Selatan sekitar pukul 13.30, Minggu 27/1. Tangan saya tengah memijit-mijit stick Playstation 2, bertarung sepakbola dengan Daniel Awigra di kosnya di bilangan Gandaria, Jakarta Selatan. Satu meter di belakang saya, di atas sebuah meja kecil, ponselnya bergetar. "Kamu sudah tahu kabar terbaru ?" kata orang di seberang sana, yang ternyata adalah Daryadi, Kepala Biro Jakarta Riau Mandiri, atasannya.


Awi menjawab, "Ya, Soeharto kritis kan ?".

"Udah meninggal di RSPP! " ujar Daryadi.

Segera kami mematikan player PS 2 itu dan beralih ke sejumlah stasiun televisi yang tengah menayangkan secara langsung kondisi mantan penguasa Orde Baru itu, yang nafas dan denyutnya telah berhenti pukul 13.10. Usai sudah 87 tahun perjalanan hidup cah ndeso yang akhirnya berhasil menaklukkan tidak hanya Jakarta, tetapi Indonesia ! Bahkan ia pernah menjadi salah satu kepala negara yang paling disegani di kancah internasional, sekurangnya Asia Tenggara. Tidak cuma satu atau dua tahun, namun 32 tahun !

Setelah mencatat informasi-informasi penting ini dan itu dari layar televisi, Awi pun bersiap untuk melaksanakan tugas -tepatnya panggilan- jurnalistiknya. Semula, saya berniat untuk segera pulang ke rumah saya di Cibitung. Namun, setelah menimbang-nimbang bahwa ini adalah momentum bersejarah saya memutuskan untuk ikut bersamanya ke Rumah Sakit Pertamina (RSPP) Jakarta Selatan, tempat tokoh yang dijuluki 'Bapak Pembangunan' itu berbaring sejak 4 Januari lalu.

Sekitar pukul 14.00, dengan sepeda motornya, kami tiba di RSPP. Sebelumnya, kami menyusuri eks lokasi Pasar Barito yang belum lama ini digusur oleh Pemprov DKI Jakarta. Berbelok di sebelah Gereja St.Yohanes Pemandi Blok B, kami menyusuri Jalan Mahakam, Warung Apresiasi Bulungan, hingga tiba di RSPP.

Masuk dari gerbang timur RSPP, sembari menunjukkan kartu pers pada petugas keamanan, kami pun masuk ke lahan parkir tak jauh dari Instalasi Gawat Darurat RS langganan Soeharto itu. Ratusan orang, terutama wartawan, tengah berkerumun di depan pintu keluar IGD. Puluhan petugas keamanan, yang pelan tapi pasti terus didatangkan untuk berjaga-jaga.

Menggotong wartawan

Sebuah mobil jenazah bergerak mundur dan menempatkan 'pantatnya' tiga meter dari pintu keluar IGD. Para juru kamera dan fotografer mulai berancang-ancang. Mereka masing-masing mulai mencari lokasi strategis, untuk bisa membidikkan lensa mereka dengan nyaman dan mendapat hasil yang seeksklusif mungkin.

Sekitar pukul 14.35, setelah terjadi proses dorong-mendorong antara puluhan wartawan, anggota Kopassus, polisi, dan warga sipil, mobil jenazah yang membawa Soeharto ke Jalan Cendana pun bergerak perlahan. Kekacauan tak terelakkan. Di antara kilauan blitz puluhan kamera, aksi dorong-mendorong itu membuat seorang petugas keamanan harus mendaratkan bogem mentahnya ke dada seorang wartawan. Saya mengetahui itu dari Awi, yang kebetulan berada di samping korban dan ikut menggotongnya ke ruang IGD untuk mendapat perawatan.

Lebih kurang pukul 14.54, kami menuju tempat parkir yang terletak sekitar 100 meter dari IGD. Di tengah hiruk-pikuk warga dan aparat keamanan, di depan tiang yang benderanya telah diturunkan setengah, motor kami berlalu dari RSPP melewati sisi utara Kejaksaan Agung, yang tak pernah mampu menyeret Soeharto ke pengadilan. Kami pun lalu menyisir Jalan Sisimangaraja, Depdiknas, Senayan, dan seterusnya untuk menuju Cendana.

Lima belas menit berlalu dari pukul 15.00, kami tiba di Jalan Teuku Umar. Kondisi jalan sudah ramai dengan motor dan kendaraan yang lalu lalang. Kebingungan mencari tempat parkir, membuat kami harus memarkir motor di Jalan Suwiryo sebelah timur. Kami pun melewati bundaran air mancur antara Jalan Teuku Umar dan Jalan Suwiryo, lalu berjalan menuju rumah Soeharto dan keluarga sekitar 300 meter dari situ.

Ratusan orang ternyata telah berada di sana. Puluhan wartawan telah berada dalam posisinya masing-masing guna mendapatkan sudut pandang yang pas ke dalam rumah Soeharto, maupun ke sisi jalan ketika ada pejabat yang hilir-mudik keluar masuk. Seorang kameramen -entah dari stasiun teve mana- nekat memanjat pohon setinggi sekitar empat meter untuk mendapat gambar ekslusif. Bagaimana tidak, dari pohon itu ia bisa membidikkan kameranya ke sisi dalam pekarangan rumah Soeharto, tamu yang keluar dan masuk, dan sebagainya. Ketika ada satu wartawan foto yang ikut-ikutan memanjat pohon lain, orang di sekitar pun segera menyorakki seraya tertawa lebar.

Sepertinya aparat segera belajar dari pengalaman di RSPP tadi. Pagar betis diperkuat. Puluhan personil Kopassus bersenjata laras panjang segera membentuk barikade yang menghalangi masyarat dan wartawan untuk melintasi jalan. Pukul 16.10, mantan Gubernur DKI Jakarta yang baru 'turun tahkta,' Sutiyoso, datang disusul sejumlah pejabat dan mantan pejabat negara. Sekitar lima menit kemudian, rombongan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan sejumlah menteri pun tiba di rumah duka. Suara sirene motor patroli Polisi Militer meraung-raung menembus kerumunan.

Mereka berdoa di dalam rumah duka selama lebih kurang 30 menit. Presiden SBY segera menaikki mobil kepresidenan dari dalam rumah, sedangkan beberapa menteri yang mendampinginya bergegas menuju sejumlah mobil yang akan beriringan dengan mobil Presiden SBY.

Lima menit menjelang pukul lima sore, tenda mulai didatangkan entah dari mana ke dalam rumah Soeharto. Saya dan Awi berjalan perlahan mencari air minum. Tepat di sisi selatan mulut Jalan Cendana kami membeli dua botol air mineral. Tenggorokan kami -yang sempat dibasahi air putih di rumah seberang kediaman Soeharto- kembali terbasahi.

Awi kemudian mencatat apa-apa saja yang telah ia temui dalam liputan kali ini. Kami pun lalu bergerak ke Cikini untuk mencari warnet, agar ia bisa mengirimkan segera berita terkini ke Kantor Riau Mandiri di Riau sana.

Bahasa Langit

Percaya atau tidak, suka atau tidak, bangsa ini ditinggal pergi salah satu pemimpin besar, yang dibenci sekaligus dicintai rakyatnya. Trilogi pembangunan (stabilitas, pemerataan, dan pertumbuhan) yang ia jadikan pegangan selama memerintah menjadi pisau bermata dua. Tetapi, banyak pakar yang bisa memberi analisis akan hal itu di banyak media, bukan di blog ini.

Di pelataran parkir RSPP, beberapa saat setelah iring-iringan mobil jenazah meninggalkan RSPP, Dwi Anggia dari SCTV mewawancarai seorang ibu separuh baya yang dengan mata berkaca-kaca mengaku telah kehilangan tokoh yang disebut Bapak Pembangunan itu. Komentar khas kaum ibu di Indonesia, bahwa di masa Soeharto harga-harga kebutuhan pokok begitu terjangkau, tidak seperti sekarang.

Tetapi, kita yang (mau) belajar sejarah bangsa ini juga tidak bisa menutup mata terhadap kelaliman yang dilakukan Soeharto selama 32 tahun. Coba tanyakan pada orang Aceh, Timor-Timur (sekarang Timor Leste), Irian Jaya (sekarang Papua), korban kekerasan sepanjang tahun 1965, tragedi Tanjung Priok, dan lainnya: apa pandangan mereka tentang Soeharto ? Dialah yang dituding paling bertanggungjawab atas hilangnya ratusan ribu hingga jutaan anak bangsa, karena pertikaian politik. Hingga peredaran darah di tubuh Soeharto terhenti, tak satu pun presiden -Habibie, Gus Dur, Megawati, dan sekarang SBY- yang bisa mendudukkan Soeharto di kursi pengadilan.

Nafas dan denyut nadi Si Jenderal itu telah terhenti untuk selamanya. Sang Jenderal pergi tanpa pernah menduduki kursi pengadilan seperti sejumlah mantan presiden di luar negeri. Bangsa ini gagal menunjukkan bahwa hukum adalah untuk semua warga negara. Gagal membuktikan bahwa dalil 'semua warga negara setara di hadapan hukum' itu benar adanya. Padahal, betapa sering kita mendengar pejabat yang dengan berbusa-busa selalu berbasa-basi dan berkata, "Kita serahkan saja pada aparat hukum. Negara kita kan negara hukum."

Mungkin itu kiranya yang membuat langit di Jakarta -sekurangnya Bulungan, Radio Dalam, dan Gandaria- tampak pucat dan memilih untuk cemberut di hari Minggu sore itu. Gumpalan awan, meski tak terlihat begitu gelap, enggan menunjukan kecerahannya. Ia tampak kompak dengan sang mentari yang biasanya begitu galak memanaskan Jakarta. Kiranya langit bukan bersedih karena Soeharto berlalu dari dunia ini. Langit bermuram durja, karena bangsa ini tak pernah bisa memberikan keadilan, tidak hanya bagi para korban kekerasan tersebut di atas, melainkan juga bagi Soeharto sendiri. Tak berlebihan kiranya, apa yang ditulis Baskara T Wardaya di Kompas 17/1 bahwa Soeharto bukan seorang pengecut. Yang pantas dituduh sebagai pengecut adalah orang-orang dekatnya yang bakal ikut terseret, jika Soeharto duduk di hadapan meja hijau.

Ada pepatah latin yang berbunyi de mortuis nihil nisi bene, yang lebih kurang berarti 'tentang orang yang sudah meninggal, tak ada dikatakan kecuali yang baik'. Entah siapa yang pertama kali mengucapkan kalimat itu, dan diucapkan dalam konteks apa. Tetapi, seperti kita bisa simak di media, ketika Soeharto meninggal, bahkan ketika ia masih menderita sakit, wacana untuk mikul duwur mendem jero (pepatah Jawa yang juga bisa diartikan sebagai: 'ingat yang baik-baik saja') selalu didengungkan para Soehartois.

Kita tidak perlu sewot karena Soeharto mendapat perawatan kesehatan kelas satu. Itu adalah tanggungjawab negara, sekaligus hak setiap mantan presiden yang dilindungi Undang-Undang negeri ini. Meminjam istilah Budiarto Shambazy saat diwawancara Meuthia Hafid di Metro TV 28/1, itu semua adalah wajar adanya. Tetapi, sebagaimana kita bisa lihat di beberapa media akhir-akhir ini, ketika Soekarno tahun 1970 sakit dan akhirnya meninggal, ia tak pernah mendapatkan perawatan serupa, itu yang tak wajar. Saat itu Soekarno hanya mendapat perawatan dar dokter biasa (ada yang menyebut dokter hewan), yang tidak pernah stand-by menungguinya. Ia bahkan dipersulit untuk bersua dengan anak-anak dan istri-istrinya. Entah bagaimana pemerintah akan memperlakukan Habibie, Gus Dur, Megawati, dan SBY, jika mereka meninggal suatu saat.

Kita juga tak perlu memprotes, jika ada jutaan ibu rumah tangga di republik ini yang menangis setelah mengetahui Soeharto meninggal. Mereka adalah orang-orang biasa yang di masa orde baru tak pernah kesulitan mendapatkan minyak tanah, beras, dan sembako dalam harga murah. Toh, terbukti hingga saat ini kita seperti bangsa yang kehilangan orientasi pembangunan. Minyak tanah mahal dan langka, gas sering ditimbun para spekulan sehingga harganya terus naik, dan sebagainya. Bahkan, akhir-akhir ini kita semua tahu harga kedelai melonjak tak terkendali, sehingga banyak pengusaha tahu dan tempe yang sekarat tak berdaya.

Saya teringat dengan apa yang ditulis Ahmad Wahib dalam buku hariannya. Pada 1 Desember 1969 ia menulis " .... aku bukan Wahib. Aku adalah me-Wahib. Aku mencari dan terus mencari, menuju dan menjadi Wahib. Ya, aku bukan aku. Aku adalah meng-aku, yang terus menerus berproses menjadi aku. Aku adalah aku pada saat sakratul maut". Kiranya, itu juga bisa menjadi catatan kita atas diri Soeharto. Ibarat neraca keuangan dalam perusahaan, ia sudah tutup buku. Laba atau rugi telah diketahui.

Air hujan pun tertumpah dengan derasnya dari langit saat kuberada dalam bis Agra Mas yang membawa saya dari UKI. Hujan mulai melebat diringi petir sejak kami melalui tol Bekasi Barat. Saya pun harus berteduh sekitar 15 menit di sekitar lampu merah tol Cibitung, sebelum melanjutkan perjalanan ke rumahku.

Ternyata, saat manusia terlalu banyak berbasa-basi hingga mulutnya berbusa, sang langit punya bahasanya sendiri...

18 January 2008

Kedelai, Minyak Tanah, Soeharto dan SBY (Lamunan Awal Tahun)

“Mulai besok kayaknya kita nggak makan tempe lagi. Nggak tahu sampai kapan,” kata ibu saya, Kamis 17/1/2008. Saat itu saya tengah mencomot sepotong tempe dari piring lauk di meja makan rumah saya. Bibir saya tak bisa berkata. Tak tahu harus bagaimana. Marah ? Harus marah pada siapa?

Kata-kata ibu saya makin menyadarkan, bahwa kondisi ini bukan main-main. Apalagi sebelumnya, saya membaca di Kompas Rabu,16/1, bahwa ini salah satu sejarah baru 'pertempean' di negeri ini. "Zaman perang, zaman Bung Karno, zaman geger G30S, zaman Pak Harto, enggak pernah tempe sampai hilang seperti sekarang," kata Mu’min, pemilik Warung Nasi Ojo Lali, yang berlokasi di Jalan Melati, Kelurahan Cengkareng Barat, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat.

Di Suara Merdeka online tanggal 29/8/2007 kita juga bisa melihat bahwa legalitas produk-produk Genetically Modified Organism (GMO) dari pemerintah Indonesia masih menuai pro dan kontra. Namun tanpa disadari masyarakat Indonesia telah mengkonsumsi kedelai dan jagung transgenik impor dari Amerika Serikat.

“Lebih dari 50 persen komoditas kedelai dan jagung yang diekspor Amerika Serikat ke Indonesia merupakan hasil transgenik atau GMO,” ungkap Ketua Panitia Workshop on Current Status of Biosafety of Genetic Engineering Products Dr Suharsono pada 28-30 Agustus di Ruang Sidang Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi Kampus Institut Pertanian Bogor Dramaga.

Berita senada juga saya simak beberapa hari lalu di Liputan 6 Siang. Bahkan, dikabarkan bahwa tidak jelas kapan hal itu akan berakhir. Karena, AS kini telah menggunakan kedelai sebagai bahan dalam membuat bahan bakar alternatif bio fuel. Entahlah, saya tak terlalu paham perkara-perkara itu.

Sudah sekitar 10 hari media massa secara kontinyu memberitakan tengah sakitnya sang Jenderal Besar Soeharto. Mantan penguasa orde baru itu harus terbaring lemah di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta Selatan karena komplikasi berbagai penyakit. Sabtu, 12/1 lalu, seusai kursus bahasa Spanyol di Aula Cervantes, Universitas Trisakti Jakarta, saya menemani teman saya Daniel Awigra yang meliput isu besar itu. Dengan motor barunya, kami meluncur dari Grogol menuju RSPP.

Puluhan wartawan telah berhari-hari nongkrong di sana. Beberapa tamu ’penting’ membesuk Soeharto siang hingga sore itu. Sebut saja Pollycarpus Budihari Priyanto, yang tengah diusut kembali terkait kasus terbunuhnya aktivis HAM Munir. Ada juga beberapa pejabat lain, yang tak saya ingat jelas.

Berhari-hari ini, media selalu mengangkat polemik mengenai perlu tidaknya memaafkan Soeharto. Apa yang ditulis Baskara T Wardaya di Kompas Kamis, 17/1 rasanya tak berlebihan. Simak saja:

“...Jangan-jangan yang takut pada proses hukum dan pengadilan atas Pak Harto itu bukan Pak Harto sendiri, tetapi para kroninya. Para kroni itu takut, jika sampai Pak Harto diadili, merekalah yang akan kena. Mereka takut ketahuan bahwa selama ini telah menggunakan kuasa dan pengaruh Pak Harto demi kepentingan sendiri. Itu sebabnya orang-orang itu bersikeras agar Pak Harto jangan sampai diadili. Semua itu dilakukan bukan demi Pak Harto, tetapi demi diri sendiri,” tulis Baskara. Entah bagaimana perasaan para kroni Soeharto saat membaca tulisan itu. Upss, tapi apakah mereka peduli ?

Apa yang sedang terjadi dengan bangsa ini ? Kedelai mahal. Harga minyak tanah dan gas elpiji terus naik. Soeharto harus diampuni ? Politik menjelang Pemilu 2009 ? Kenapa Gus Dur, dan Presiden Soekarno yang sakit tak pernah mendapat perlakuan serupa ? Kenapa SBY -yang pernah jadi orang dekat Soeharto- (terkesan) takut dan ragu? Entahlah. Tetapi, saya yakin jauh di lubuk hati 200 juta rakyat Indonesia tahu jawabannya.

Semoga ini menjadi catatan bagi anak-cucu saya berpuluh tahun ke depan... karena, historia vitae magistra est, sejarah adalah guru kehidupan.

Lamunan awal tahun 2008

30 December 2007

Benazir Bhutto dan Dua Kata Sakti

Lampu kamar telah saya padamkam. Mata saya terasa berat untuk terus dipaksa berjaga. Waktu itu, Kamis 27/12 sekitar pukul 21.30 sewaktu bapak saya menggedor pintu kamar saya dan berkata, “Benazir Bhutto tertembak !”. Dari berita teks berjalan di Metro TV dikabarkan Benazir tewas setelah kepala dan dadanya ditembus peluru.

Di Stasiun Pasar Senen keesokan paginya, saya langsung merogoh kocek untuk membeli Kompas. Saya ingin segera mendapatkan berita yang lebih lengkap daripada yang telah saya dapat semalam. Foto utama di Kompas pagi itu, yang agak kabur, menggambarkan detik-detik terakhir Benazir sebelum timah panas menembus tubuh dan kepalanya. Ia tewas beberapa saat setelah menyampaikan pidato kampanye bagi Partai Rakyat Pakistan (PPP) di Lapangan Liaqat Bagh, Rawalpindi.

Wanita kelahiran Provinsi Sindh, Pakistan, 21 Juni 1953 itu tewas ditembak pelaku yang lalu meledakkan bom yang terlilit di tubuhnya. Selain tentu saja sang pelaku, dikabarkan 20 orang tewas di lokasi dan sekitar 56 orang menderita luka.

Wanita nekad

Jika kita tarik ingatan kita mundur ke tanggal 18 dan 21 Oktober 2007, tentu kita tidak akan terlalu terkejut dengan pembunuhan sadis itu. 18 Oktober2007, ia kembali dari pengasingan dan disambut puluhan ribu pendukungnya di Karachi. Sorak-sorai pertanda kebahagiaan sontak berubah menjadi teriakan histeris saat insiden bom bunuh diri terjadi. Setidaknya 136 nyawa melayang dan 387 orang terluka. Namun, Benazir beruntung dan lolos dari maut.

Tiga hari setelah insiden itu, Benazir menunjukkan nyalinya dengan menyatakan akan tetap tampil di depan publik. Entah ada hubungannya atau tidak, tanggal 23 Oktober 2007 ia menerima surat ancaman yang dikirim oleh kelompok yang mengaku sebagai Al- Qaeda, yang menyatakan akan membunuhnya “di mana pun dan kapan pun ada kesempatan”.

Tetapi, nyalinya tak kunjung ciut. Keesokan harinya ia malah menyatakan akan segera memulai kampanye untuk memperebutkan kursi parlemen bagi partainya, PPP, ke berbagai daerah di Pakistan. Melalui PPP yang dipimpinnya, ia memutuskan untuk menggunakan strategi ‘menjemput bola’.

Awal November tahun ini, Presiden Pervez Musharraf menyatakan negara dalam keadaan darurat. Tetapi, lagi-lagi wanita yang tetap terlihat cantik di usia 54 tahun dan tengah berada di Dubai, UAE, menyatakan tidak takut dan akan segera kembali ke Pakistan untuk sementara. Akhirnya, di Kamis sore yang kelabu itu ia menghadap penciptanya dengan cara yang menggenaskan.

"Masih ada ancaman serangan, tetapi Allah melindungi siapa saja. Jadi saya tidak takut," ujar Benazir saat ziarah ke makam ayahnya di Naudero, Provinsi Sindh di selatan. Ini setelah dia lolos dari bom bunuh diri yang menewaskan 150 orang saat kembali ke Pakistan, Oktober lalu. (Kompas, 29/12)


Bukan pertama

Benazir bukanlah tokoh politik pertama di dunia yang harus bernasib tragis akibat kekerasan politik. Ayahnya sendiri, Zulfikar Ali Bhutto (Presiden tahun 1971-1973, PM tahun 1973 -1977), juga tewas karena latar belakang yang sama, intrik politik.

Sekitar 28 tahun yang lalu, 4 Januari 1979, di tengah dinginnya udara penjara Rawalpindi –tak jauh dari lokasi Benazir ditembak– Ali tewas di tiang gantungan atas perintah Mohammed Zia Ul Haq, seorang jenderal yang ketika menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Bersenjata Pakistan menggulingkan Ali dari kursi PM pada 5 Juli 1977. Saat itu, Ali dikenai dakwaan tendensius: terlibat dalam konspirasi pembunuhan –yang gagal– atas ayah politisi Ahmed Reza Kasuri.

Mungkin kita hanya mengetahui atau mengingat sebagian kecil nama petinggi negara di dunia yang tewas karena kiprah politiknya, seperti John F Kennedy (Amerika Serikat) dan Indira Gandhi (India). Tetapi, berikut daftar yang dibuat kantor berita Associated Press dan dikutip oleh P. Swantoro dalam buku Masalalu Selalu Aktual (Kompas, 2007):

  1. Amerika Serikat, Amerika Utara dan Amerika Latin
    1. Presiden AS John F Kennedy, tewas 22 November 1963 di Dallas, Texas.
    2. Presiden AS William McKinley (1901).
    3. Presiden Meksiko Francisco Madero (1913).
    4. Presiden Meksiko Jenderal Venustiano Carranza (1920).
    5. Presiden-terpilih Meksiko Alvaro Obregan (1928).
    6. Presiden Nikaragua Anastacio Somoza García (1956).
    7. Presiden Nikaragua Anastacio Somoza Debayle (1980).
    8. Presiden Guatemala Carlos Castillo Armas (1957).
    9. Diktator Dominica Leonida Trujillo Molina (1961).
    10. Presiden Cile Salvador Allende (1973).
    11. Mantan PM Grenada Maurice Bishop (1983).

  1. Eropa
    1. Raja Umberto (Italia, 1900).
    2. Raja George (Yunani, 1913).
    3. Pangeran Franz Ferdinand (Austria-Hongaria, 1914).
    4. Bekas Tsar Rusia Nikolas II (1918).
    5. Kanselir Engelbert Dolfuss (Austria, 1934).

  1. Asia
    1. PM Sri Lanka Solomon Bandaranaike (1959).
    2. Presiden Vietnam Selatan Ngo Dihn Diem (1963).
    3. PM Iran Hassan Ali Mansour (1965).
    4. Presiden Iran Mohammed Ali Rajai dan PM-nya Mohammed Bahonar (1981)
    5. PM Yordania Wasti Tal (1971).
    6. Raja Arab Saudi Faisal (1975).
    7. Presiden Bangladesh Sheik Mujibur Rahman (1975).
    8. Presiden Bangladesh Zia ur-Rahman (1981).
    9. Presiden-terpilih Lebanon Bashir Gemayel (1982).
    10. Presiden Korea Selatan Park Chung-Hee (1979).
    11. Presiden Afghanistan Nur Mohammed Taraki (1979).
    12. PM India Indira Gandhi (1984).
    13. PM India Rajiv Gandhi (1991).

  1. Afrika
    1. Mantan PM Kongo Patrice Lumumba (1961).
    2. Presiden Republik Kongo Marien Ngouabi (1977).
    3. PM Afrika Selatan Hendrik Verwoerd (1966).
    4. Presiden Madagaskar Richard Ratismandrava (1975).
    5. Kepala Negara Nigeria Jenderal Murtala Ramat Mohammed (1976).
    6. Presiden Liberia William Tolbert (1980).
    7. Presiden Mesir Mohammed Anwar Al Sadat (1981).

Daftar yang sangat panjang itu baru mencakup mereka yang ketika tewas tengah atau telah menyandang jabatan publik. Ada pula tokoh besar lain yang walau tidak menjadi tokoh puncak di negerinya, namun turut tewas karena pertikaian politik. Berikut sebagian di antaranya.


1. Mohammad Karamchand Gandi alias Mahatma Gandhi Politikus utama dan pemimpin spiritual India (1948).

2. Anna Politkovskaya, 7 Oktober 2006 tewas ditembak. Diduga kuat ia dibunuh oleh kaki tangan Vladimir Putin, terkait kritik yang ia lontarkan seputar kebijakan Kremlin di Chechnya.

3. Alexander Litvinenko, 21 November 2006 tewas diracun dengan thallium dan mungkin juga bahan-bahan lain yang mengandung radio aktif. Ia adalah mantan agen dinas rahasia Rusia KGB, yang lalu menjadi FSB. Ia tewas saat menyelidiki kematian Anna Politkovskaya.

4. Lev Davidovitch Bronstein, yang lebih kondang disebut Leon Trotsky. Ia tewas di Meksiko 21 Agustus 1940 sehari setelah ditembak oleh Jaume Ramon Mercader del Rio Hernadez, seorang komunis Catalan, yang “menerima order” dari Leonid Eitington, seorang perwira Dinas Rahasia Rusia saat itu NKVD.

Trotsky dikenal sebagai lawan tangguh bagi Stalin, pejuang revolusi Bolshevik, teoritikus Marxis kelas wahid, politikus ulung di masa awal berdirinya Uni Soviet, pendiri dan komandan Tentara Merah, pendiri Politbiro.

Konteks Indonesia

Kamis malam 27/12, atau beberapa jam setelah Benazir tertembak, Presiden Yudhoyono menyatakan akan mengeluarkan instruksi resmi kepada Polri dan dan aparat keamanan lainnya, seperti intelijen dan TNI yang menjalankan tugas keamanan khusus, untuk meningkatkan kewaspadaan dan melakukan langkah-langkah efektif dan proporsional.

“Ini supaya tidak terjadi di negeri kita. Kompetisi di negeri kita terus berlangsung. Sekarang ini baru pilkada. Tahun 2009 dan tahun depan sudah mulai ada kegiatan dan kompetisi politik,” kata presiden kepada wartawan sebelum menerima calon KSAD dan KSAU di kantornya.

Memang, di negeri ini sangat jarang terjadi peristiwa pembunuhan politik terbuka seperti di Pakistan dan negara-negara lain. Walau tentu kita semua tahu bagaimana Presiden Soekarno “dibunuh secara perlahan” sebelum meninggal karena sakit tahun 1970.

Kita juga tak mungkin menutup mata atas pembunuhan konspiratif kelas atas yang menelan korban sejumlah perwira tinggi dan perwira menengah ABRI tahun 1965. Belum lagi pembunuhan massal sepanjang tahun 1965 lainnya. Selain karena perkara politik-kekuasaan, adakah alasan lain yang mendorong pembunuhan itu ?

Selamat jalan, Benazir Bhutto. Kita memang tak pernah saling kenal. Bahkan, ribuan kilometer jarak membentang antara kita. Tetapi, dari semua yang telah kau lakukan dan ucapkan, kau mengajariku dua kata sakti: “Tidak Takut !”. Tentu, itu berbeda dengan slogan iklan sabun Lifebuoy, “Kotor ? Tidak Takut !”. Berbeda pula dengan slogan iklan Rinso, “Kalau nggak kotor, ya nggak belajar”. Semua karena, nyawa manusia terlalu berharga untuk digadaikan.

Kau mengajari saya, bahwa ketakutan bukan bukanlah alasan untuk menghentikan perjuangan. Saya yakin, darahmu yang tertumpah dan membasahi Rawalpindi –juga darah para pemimpin dunia lain seperti tersebut di atas– tidak akan pernah sia-sia.

Meminjam istilah Goenawan Mohammad perihal kematian sejarawan Ong Hok Ham, “... Ia tidak mati. Ia hanya pergi entah ke mana”.

Benazir, Rest In Peace ...

Keterangan foto (dari atas):
1. Benazir Bhutto dalam sebuah kampanye
2. Detik-detik penembakan Presiden Anwar Sadar, di Kairo 6 Oktober 1981. Ia tengah duduk di
podium kehormatan pada upacara parade militer Mesir, saat diberondong peluru Khaled
Ahmed dan kelompoknya.

Biodata singkat Benazir Bhutto

Lahir di Sindh, Pakistan, 21 Juni 1953

  1. Tahun 1969-1973 menempuh kuliah politik hingga meraih gelar BA di Harvard, AS.
  2. Tahun 1973-1977 menempuh kuliah filsafat, politik dan ekonomi di Oxford, Inggris. Lalu kembali ke Pakistan.
  3. Tahun 1979 ayahnya, Zulfikar Ali Bhutto, tewas digantung.
  4. Tahun 1980 saudara laki-lakinya, Shahnawaz, tewas dibunuh di Prancis.
  5. Tahun 1988 pertama kali terpilih menjadi PM Pakistan.
  6. Tahun 1990 dipecat presiden Farooq Leghari karena dituduh korupsi.
  7. Tahun 1993 kembali ke kursi PM, setelah Nawaz Sharif, suksesornya dipaksa mundur karena berselisih paham dengan presiden Farooq Leghari.
  8. Tahun 1996 saudaranya yang lain, Mir Murtaza, tewas dibunuh.
  9. Tahun 1999 didenda dan dikenai hukuman lima tahun penjara. Saat tuduhan dijatuhkan ia berada di luar negeri dan memilih untuk tidak kembali ke Pakistan. Hukuman itu lalu dibatalkan, namun ia tetap mengasingkan diri.
  10. Tanggal 18 Okt 2007 kembali ke Pakistan dari pengasingan. Penyambutan atas dirinya diwarnai aksi bom bunuh diri yang menewaskan sekitar 136 orang dan 387 menderita luka.
  11. Tanggal 27 Des 2007 tewas ditembak di Rawalpindi

03 September 2007

Ontosoroh, Korban Lapindo dan Kemerdekaan (seonggok lamunan agustusan)

“Kita telah melawan, Nak, Nyo. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya!”
====

Kalimat itu terucap dari bibir artis cantik Happy Salma, pemeran utama pementasan teater “Nyai Ontosoroh”. Tiga hari berturut-turut, ia tampil di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki (GBB TIM) Jakarta, 12-14 Agustus 2007. Saya hadir di hari kedua, Senin 13/8.


Di adegan terakhir pementasan itu ditampilkan Ontosoroh dan Minke melepas kepergian Annelies, putri Ontosoroh, yang dipaksa pulang ke negeri Belanda. Kalimat itu terlontar setelah Minke berkata,” Kita sudah kalah.” Namun, Ontosoroh digambarkan sudah melakukan segala daya dan kecerdasannya untuk mempertahankan Annelies. Jalur pengadilan tak terkecuali.

De javu! Ontosoroh juga mengalami hal serupa ketika pada usia 14 tahun dijual seharga 25 gulden oleh orangtuanya pada Williem Bivers, seorang pengusaha Belanda di Surabaya. Sebelum menjadi gundik Bivers, namanya adalah Sanikem.


Jujur saja, salah satu motif yang mendorong saya untuk menonton teater itu adalah melihat paras ayu dara kelahiran Sukabumi, 4 Januari 1980 itu, Happy Salma. Motif naluriah seorang lelaki. Sementara motif lainnya, barangkali sedikit heroik, adalah mencoba memaknai kata kemerdekaan dari seorang Nyai Ontosoroh, yang diangkat dari roman sejarah karya begawan sastra Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia.


Saya bukan pelahap karya-karya Pram, memang. Tetapi, saya bisa meraba-raba semangat yang senantiasa menyuluh dalam Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca) dan juga yang lainnya.

Tiket hibah
Pertunjukan hasil kolaborasi Institut Ungu, Jaringan Nasional Perempuan Mahardika dan Perguruan Rakyat Merdeka itu terdiri dari 31 adegan. Perpindahan antaradegan berlangsung rata-rata 5-10 detik, di tiga panggung: satu panggung besar di tengah dan dua panggung kecil di sisi kiri dan kanan.


Mata saya berkelana dari sisi kiri belakang tempat duduk saya ke segenap penjuru ruang berpendingin itu. Tak ada bangku kosong tersisa di GBB yang berkapasitas sekitar 800 orang itu. Dari kantor saya di Kebon Jeruk, Jakarta Barat, bergegas saya pacu Yamaha Vega-R saya guna menembus kemacetan antara kawasan Batusari, Kemanggisan, Tanah Abang. Saya memilih untuk berputar di bawah jembatan tak jauh dari Hotel Peninsula, untuk menghindari kemacetan yang begitu menyiksa. Ternyata, pilihan saya tak salah. Dengan melewati terminal dan Pasar Tanah Abang, laju motor saya bisa jauh lebih cepat. Tak lagi merayap bagai cicak di dinding.


Saat saya datang sekitar pukul 19.30, GBB telah ramai oleh ratusan orang yang tengah menanti pementasan itu. Dari pakaian yang mereka kenakan, saya melihat ada karyawan swasta yang tampak necis. Ada pula orang-orang muda, sepertinya mahasiswa. Tak sedikit pula tampak kalangan generasi tua yang mengantri di depan pintu untuk masuk. Di sisi pintu ada dua meja yang sarat dengan tumpukan tiket yang telah dipesan.

Pelatihan jurnalistik di kantor, membuat saya tidak berani untuk memesan tiket beberapa hari sebelumnya. Akibatnya, saya yang datang tanpa tiket harus berharap-harap cemas, akan ada yang membatalkan tiket. Tetapi, saya beruntung. Romo Greg Soetomo SJ yang terjebak kemacetan menghibahkan tiketnya pada saya. Melalui frater-frater yesuit yang serumah dengannya, saya mendapatkan tiket itu. Alhamdulilah, setelah sekitar 30 menit menanti di depan penukaran tiket, saya masuk ke dalam ruangan itu, dan memelototi pertunjukan itu selama lebih kurang 195 menit.

Anak-anak melawan. Kita ?
Sementara itu, tanggal 13-15 Juli digelar Festival Budaya Anak Pinggiran-Ciliwung Merdeka (FBAP). Acara itu diprakarsai oleh komunitas Ciliwung Merdeka (CM), suatu komunitas kerja yang terdiri dari anak, remaja, dan warga Bukit Duri di bantaran Kali Ciliwung, Kelurahan Tebet, Jakarta Selatan, dengan Jaringan Kemanusiaan Ciliwung Merdeka sebagai pendamping.

Di depan patung sang dwi tunggal proklamator, Soekarno – Hatta, 2.150 anak dari 39 komunitas anak "pinggiran" se-Jabotabek bernyanyi, bermain musik dan juga berdiskusi. Di hari kedua, 14/7, diadakan diskusi panel, yang menghadirkan anak-anak muda. Mereka membagikan pengalaman mereka masing-masing. Ada Neni, remaja usia duapuluhan korban lumpur Lapindo, Sidoarjo. Ada Hartati, aktivis usia belasan dari Sangar Garasi. Juga Handoko, korban Lapindo, di Pasar Baru Porong, Sidoarjo; plus Suningsih, Toni dan Diana.

Neni hadir di Jakarta dengan kaki kanan yang telah melepuh karena terkena lumpur panas. Ia hadir dan beberapa kali meneriakkan dengan lantang,” Esia Untung, Korban Lapindo Buntung....”. Karena kelalaian Lapindo, ia harus mengalami cacat seumur hidup. Ia mempertanyakan, di mana keadilan yang seharusnya ia dapat dari Lapindo dan juga pemerintah yang seakan menutup mata.

Ganti rugi tak kunjung ia rengkuh. Namun, semangatnya tidak pernah runtuh untuk menuntut haknya di Jakarta. “Saya adalah tulang punggung keluarga yang harus membiayai dua adik saya. Saya ingin pemerintah mendengarkan rintihan hati saya,” ungkap Neni.


Sementara Hartati, yang tinggal di belakang kampus Universitas Negeri Jakarta (UNJ)Rawamangun, Jakarta Timur, berkisah tentang penggusuran demi penggusuran di daerahnya. ”Di tanah bekas rumahku akan dibangun mal, apa sih gunanya mal? Indonesia tidak butuh mal, Indonesia cuma butuh kesejahteraan, bebas dari intervensi negara lain, bebas dari kemiskinan,” tukas Hartati.


Maria Hartiningsih di Kompas edisi 14/7/07 meminjam penjelasan sosiolog Inggris, Pete Alcock dalam buku Understanding Poverty (1997). Dikatakan bahwa anak pinggiran adalah produk dari kebijakan sosial dan ekonomi yang diciptakan dan terus diciptakan untuk menanggapi atau mengontrolnya. Peminggiran merupakan persoalan politik karena kebijakan itu diambil dalam konteks politik tertentu.

Saya melamun di bulan Agustus ini. Benarkah bangsa saya telah benar-benar merdeka ? Akan atau telahkah ada Ontosoroh-Ontosoroh lain di negeri ini ? Semoga setiap anak bangsa ini, terutama kaum perempuannya, tersuluh oleh bara perjuangan seorang gundik itu. Ia tak pernah mengenyam pendidikan formal, namun ia belajar banyak tentang eropa, mulai dari tata niaga, bahasa Belanda, hukum, hingga wilayah sastra.

Semoga anak-anak yang telah melakukan perlawanan itu tidak bertepuk sebelah tangan. Semoga teriakan-teriakan mereka tak hanya memantul dari dinding-dinding langit karena tidak didengar oleh para pemimpin bangsa ini. Forum Warga Kota Jakarta mencatat sampai tahun 2006 terjadi 210 penggusuran permukiman dengan lebih 30.000 keluarga kehilangan tempat tinggal.

Tujuhbelas hari lalu rakyat Indonesia memperingati dibacakannya teks proklamasi. Sebuah pertanyaan menyeruak: sudahkah kita melawan dengan sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya ?

Fransiskus Pascaries