05 August 2009

Tak Ada Si Doel di Ragunan

Arak-arakan itu benar-benar mengganggu lalu-lintas. Menurut Traffic Management Centre (TMC) Ditlantas Polda Metro Jaya, ada sekitar 15 ribu anggota dan simpatisan FBR diperkirakan yang terjun dalam arak-arakan itu. Mereka datang dengan menggunakan sepeda motor dan Metro Mini. Kemacetan terparah terjadi, ketika bus Transjakarta harus mengalah, demi gerombolan massa FBR yang memenuhi semua sisi jalan. Bahkan, mereka tidak segan-segan menggunakan sisi jalan untuk kendaraan dari arah Ragunan. Beginikah cara mereka menunjukkan eksistensi?


Sepasang kaki ini terasa pegal. Bagaimana tidak, dari halte busway Kuningan Timur –tidak jauh dari Hotel Gran Melia– saya harus berdiri sampai pemberhentian akhir di Kebon Binatang Ragunan. Jarak belasan kilometer itu harus saya tempuh selama lebih kurang 60 menit. Dari Halte Mampang, bus yang saya tumpangi berangkat pukul 11.18, dan turun sebelum Halte Ragunan jam 12.14. Meski itu pertama kalinya saya naik bus Transjakarta jurusan Halimun-Ragunan, saya berani bertaruh paling lama jarak itu bisa ditempuh dalam waktu lebih cepat. Bagaimana tidak, ratusan pengguna jalan –sekurangnya dari Kuningan– harus mengalah pada arak-arakan anggota dan simpatisan Forum Betawi Rempug (FBR) yang menuju ke Kebun Binatang Ragunan. Mereka menuju ke sana, untuk menghadiri Milad ke-8 FBR, sekaligus peringatan 100 hari wafatnya KH Fadloli El Muhir, pendiri FBR. Arak-arakan itu benar-benar mengganggu lalu-lintas. Menurut Traffic Management Centre (TMC) Ditlantas Polda Metro Jaya, ada sekitar 15 ribu anggota dan simpatisan FBR diperkirakan yang terjun dalam arak-arakan itu. Mereka datang dengan menggunakan sepeda motor dan Metro Mini. Kemacetan terparah terjadi, ketika bus Transjakarta harus mengalah, demi gerombolan massa FBR yang memenuhi semua sisi jalan. Bahkan, mereka tidak segan-segan menggunakan sisi jalan untuk kendaraan dari arah Ragunan. Beginikah cara mereka menunjukkan eksistensi?

Di Minggu 2 Agustus lalu itu, berkali-kali, ponsel saya bergetar. Artinya, berkali-kali pula saya harus merogoh saku celana untuk membaca dan mengirim pesan pendek dari beberapa teman, di antara himpitan para penumpang bus transjakarta yang lain. Dua dari delapan teman yang rencananya akan bersenang-senang di Kebon Binatang Ragunan telah tiba di sana. Saya membalas pesan-pesan pendek mereka seraya menggerutu. Menggerutu, karena rencana untuk tiba di Ragunan sekitar jam 11 siang harus tertunda, lantaran pawai kendaraan FBR itu.

Ngomong-ngomong soal orang Betawi, saya tidak bisa memalingkan pikiran saya dari sosok Si Doel, yang sempat kondang diperankan aktor Rano Karno di layar kaca. Sosok Si Doel yang diperankan Rano sungguh santun. Ia sungguh menghargai tetangga dan kerabatnya. Tentu, saya tidak perlu panjang lebar menceritakan bagaimana keluarga Si Doel menjalin relasi dengan Mas Karyo, Pak Bendot, dan tokoh-tokoh lain dalam sinetron itu. Meski digambarkan sebagai sosok yang santun, Si Doel juga bisa bersikap tegas. Silahkan mengingat-ingat lagi sinetron itu.

Tetapi, apa lacur. Kemarin saya justru menyaksikan dengan sepasang mata sendiri, sekitar 15 ribu orang yang mengaku orang Betawi, namun melakukan hal yang bertolak belakang dengan apa yang coba diperankan oleh Rano Karno, yang sekarang jadi Wakil Bupati Tangerang itu, di sinetron. Tentu kita tahu, ini bukan pertama kalinya FBR melakukan aksi seperti ini. Mereka juga bukan satu-satunya ormas di republik ini, khususnya di Jakarta, yang doyan unjuk kekuatan massa dengan cara seperti ini.

Di sepanjang jalan, terutama selepas perempatan Departemen Pertanian, terlihat jelas betapa massa FBR ini betul-betul melumpuhkan lalu-lintas. Satu badan jalan ternyata tidak cukup untuk mereka. Mereka akhirnya juga harus memaksa pengguna kendaraan dari arah Ragunan mengalah, dan memberikan jalan itu untuk mereka. Sejumlah kendaraan pribadi dan angkutan umum harus menyingkir, demi massa FBR itu. Dan kami, penumpang Bus Transjakarta juga harus mengalah, dengan turun sekitar 100 meter menjelang halte terakhir, Ragunan.

Bang Doel, di mana engkau berada hari Minggu lalu? Mengapa kau tak ada di Ragunan?
Dalam hati, saya teringat kembali syair lagu ini…

Anak betawi, ketinggalan zaman..katenye!
Anak betawi, gak berbudaye...katenye!
Aduh, sialan!! Nih si Doel anak betawi asli.
Kerjaannye sembahyang mengaji
Tapi jangan bikin die...sakit hati..
Bikin perih sekali..hey!! orang bisa mati...


03 July 2009

Tiga Jenderal itu Bertarung

Sepuluh tahun (1988-1998) adalah waktu yang lebih dari cukup buat saya untuk mengetahui bagaimana militer Indonesia melakukan kekejaman, penistaan dan politik adu domba di antar warga Timor Leste sendiri. Selama masa jajak pendapat 1999 kebetulan saya berlibur ke Kefamenanu, ibukota dari Kabupaten Timor Tengah Utara, yang berbatasan dengan Kabupaten (sekrang distrik) Ambeno, Timor Leste. Maklum, orangtua saya dipindahtugaskan dari Dili ke Ambeno, Februari 1999. Ambeno sendiri bisa ditempuh dengan sepeda motor dalam waktu sekitar satu jam perjalanan dari Kefamenanu.

Saya waktu itu berada di sana selama lebih kurang dua minggu, di bulan September 1999. Kefamenanu itu kota kecil yang sepi. Selepas magrib, situasinya tak ubahnya kota mati. Satu hal yang membuatku risih dan kesal adalah tingkah polah dari personil paramiliter yang disponsori tentara Indonesia. Jelas Wiranto tidak mungkin lepas tangan, karena waktu itu dia adalah Panglima ABRI. Pernahkah teman-teman membayngkan, untuk duduk bersebelahan di angkot dengan orang yang membawa senapan dan senjata rakitan dengan bau minuman yang menyengat dari mulutnya? Itulah yang terjadi selama saya berada di Kefamenanu lebih kurang dua minggu. Di Timor Leste, sekurangnya ada dua kelompok paramiliter yang 'disuapi' oleh tentara Indonesia: Sakunar (dlm bahasa Tetun, artinya kalajengking) dan Aitarak (dlm bahasa Tetun, artinya duri). Mereka ini rata-rata pemuda-pemuda jobless dari kampung yang direkrut untuk mengabdi pada kepentingan tentara! Saya teringat dengan wawancara saya untuk Majalah HIDUP dengan Uskup Belo di Sunter sekitar Juni 2007. Waktu itu, ia bilang: "Anak-anak muda itu dengan mudahnya menerima bayaran orang-orang tertentu – entah siapa – untuk merusak ini dan itu." Dalam bahasa Tetun, mereka itu disebut "Mauhu". Dalam bahasa Indonesia, ya "mata-mata" atau "pengkhiant". Tulisan hasil wawancara saya dengan Uskup Belo sudah diterbitkan Majalah HIDUP dan juga saya rilis unedited version –nya di Facebook ini. Lagi-lagi, kita harus berterimakasih pada Mark Zuckerberg untuk inovasi briliannya ini.

Beberapa tidur malam saya di Kefamenanu sungguh tidak nyaman. Beberapa kali terdengar bunyi tembakan dan suara orang berlarian, berkejaran, dan sesekali berteriak. Tetapi, entah kenapa tidak ada korban luka atau meninggal di sana waktu itu, setahu saya. Entahlah.

Di hari pelaksanaan pencoblosan (atau pencontrengan?) jajak pendapat kebetulan bapak saya bertugas di salah satu tempat pemungutan suara di Ambeno. Demi tanggungjawab profesi ia bertahan di sana, saat semua bawahannya di Departemen Agama Kabupaten Ambeno telah mengungsi ke daerah-daerah terdekat dari Timor Leste: Nusa Tenggara TImur, bahkan ke Pulau Jawa, dan daerah-daerah lain di Indonesia. Situasi di hari itu, relatif aman. Tetapi, beberapa hari setelah itu, Ambeno dibumihanguskan !!! Nyaris tak ada rumah di sisi kanan-kiri jalan yang lolos dari api. Ratusan ternak (di)lepas(kan) begitu saja dari kandangnya. Efeknya jelas: harga daging sapi, babi, kerbau menjadi anjlok. Saya tidak tahu persis harganya turun dari berapa ke berapa, tapi menurut ibu saya, anjloknya drastis!. Hampir setiap hari saya makan daging itu selama di Kefa. Satu harga yang anjlok ikan laut. Tetapi, karena konon (saya hanya mendengar, tidak menyaksikan sendiri) banyak orang yang dibunuh paramiliter, dan mayat mereka dibuang ke pantai dan laut Ambeno, bisa dibilang tidak ada orang yang mau membeli ikan laut hasil tangkapan para nelayan.

Tiga jenderal di masa orde baru bertarung memperebutkan kursi presiden dan wakil presiden di tahun ini. Apa kita akan memilih mereka? Apa pula arti dari semua tulisan ini? Silahkan pembaca membuat kesimpulan masing-masing. Tulisan ini menggunakan asas "do not tell, but show". Saya hanya memaparkan apa yang saya lihat, apa yang saya rasakan, selama sekitar dua minggu berada di Kefamenanu. Masih ada waktu beberapa hari untuk menentukan pilihan: memilih salah satu dari mereka? Atau memilih untuk tidak memilih.

Membayangkan wajah tiga capres dan cawapres itu, tidak bisa tidak, pikiran saya langsung mengarah pada mereka yang menjadi korban penculikan, perkosaan di negeri ini 11 tahun silam. Entah trauma berlebih atau apa, saya sedikit alergi dengan seragam loreng. Saya pernah menentang habis-habisan adik laki-laki saya yang berniat menjadi tentara. Alhamdulilah, ia gagal dalam tes fisik. Dalam hati, saya menyanyikan dengan lirih, lagu Imagine dari almarhum John Lennon:

Imagine there's no heaven
It's easy if you try
No hell below us
Above us only sky
Imagine all the people
Living for today...

Imagine there's no countries
It isn't hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion too
Imagine all the people
Living life in peace...

You may say I'm a dreamer
But I'm not the only one
I hope someday you'll join us
And the world will be as one

Imagine no possessions
I wonder if you can
No need for greed or hunger
A brotherhood of man
Imagine all the people
Sharing all the world...

You may say I'm a dreamer
But I'm not the only one
I hope someday you'll join us
And the world will live as one



Mgr.Carlos Filipe Ximenes Belo SDB, Mendorong Perdamaian Dari Belakang

Suatu ketika telepon di salah satu komunitas Salesian Timor-Timur (sekarang Timor Leste) berdering. Seseorang di ujung telepon mengabarkan bahwa Mgr Carlos Filipe Ximenes Belo SDB menjadi penerima Nobel Perdamaian tahun 1996 bersama Jose Ramos Horta. Bruder yang menerima telepon lantas mengabarkan hal itu kepada sang Uskup yang sedang memimpin misa lewat secarik kertas. Beberapa detik membaca, Uskup Belo melanjutkan perayaan ekaristi setelah meletakkan secarik kertas itu. Dari wajahnya nyaris tak ada perubahan ekspresi. Datar. Dingin.



Kisah singkat itu diungkap oleh Kepala Paroki St.Yohanes Bosco Sunter Pastor Noel Villafuerte SDB dalam perayaan ekaristi yang dipimpin oleh Uskup Emeritus Carlos Filipe Ximenes Belo SDB sebagai konselebran utama, didampingi Pastor Noel Villafuerte SDB, Benedictus Sunarjoko Pranoto SDB, Pastor Petrus Pehan Tukan SDB, dan Pastor Yosep Suban Ola SDB. Misa itu diadakan untuk memperingati Hari Semua Orang Kudus, 1/11 lalu.

Lama tak terdengar kabarnya, mantan Uskup Titular Lorium Dili Mgr Carlos Filipe Ximenes Belo SDB, muncul di Gereja St Yohanes Bosco Sunter, Jakarta Utara. Peraih Nobel Perdamaian 1996 (bersama Ramos Horta) ini memimpin Ekaristi konselebrasi bersama Kepala Paroki Yohanes Bosco Sunter Pastor Noel Villafuerte SDB, Pastor Benedictus Sunarjoko Pranoto SDB, Pastor Petrus Pehan Tukan SDB, dan Pastor Yosep Suban Ola SDB. Misa itu diadakan untuk memperingati Hari Semua Orang Kudus, 1/11.
Kedatangan Uskup Belo – demikian kalangan pers biasa menyebutnya – ke Indonesia, adalah kelanjutan dari lawatannya di Timor Leste. Kelahiran Wailacama, Baucau, 3 Februari 1948 yang kini bermukim di Portugal ini diundang Pemerintah Timor Leste menjadi pembicara dalam seminar yang diselenggarakan Ministerio de Justiçia (Kementerian Kehakiman) di Dili, 21/10.

Uskup yang sempat berkarya sebagai misionaris di Mozambik ini selama sepekan berada di Timor Leste. Di tanah kelahirannya ini, ia menjalankan misi perdamaian dengan mengadakan sejumlah pertemuan dengan tokoh berpengaruh di negara itu. Ia menemui Presiden Xanana Gusmao, Perdana Menteri Ramos Horta, beberapa menteri, dan pimpinan partai oposisi. Tak ketinggalan, pimpinan angkatan bersenjata dan polisi nasional, juga komandan tentara pemberontak Alfredo Reinado yang masih berada di hutan di Distrik Suai, Pantai Selatan Timor Leste.

Sungguh. Pertemuan saya dengan Uskup Belo kali ini sangat emosional. Ingatan saya melayang ke tanggal 12 Desember 1992, saat saya menerima Sakramen Krisma darinya, di Gereja Sagrado Coração de Jesus, Venilale, Baucau, Timor Leste. Kedatangan Uskup Belo ke Jakarta kali ini, sungguh tak terduga. Sebelumnya, seorang teman berbaik hati mengabarkan saya via pesan pendek perihal kedatangan Uskup Belo. Tanpa pikir panjang jarak Cibitung-Sunter saya tempuh dengan sepeda motor dalam waktu lebih kurang dua jam, demi mengikuti misa kudus itu. Seusai misa, saya meminta seorang frater salesian, yang tak lain dulu adalah teman satu angkatan di Seminari Venilale, Florentino Gil SDB untuk meminta jadwal wawancara saya dengan Uskup Belo, keesokan harinya (kalau saya tidak salah ingat) di Wisma Salesian Don Bosco, Sunter. Saya khawatir, Uskup Belo tidak bisa mengenali saya dengan baik.

Di hari wawancara, saya terlebih dulu menikmati "Merenda" di Wisma itu. Jangan bayangkan "merenda" dengan kegiatan menenun atau sejenisnya. “Merenda” lahir dari kosakata Portugis, yang kira-kira berarti snack. Aktivitas itu menjadi tradisi di semua rumah Salesian di seluruh dunia, sebelum memulai aktivitas olahraga di setiap sore. Saat "merenda" satu meja dengan sang Uskup, kami sedikit bernostalgia dengan kenangan selama saya di Timor Leste. Ia menanyakan kabar Bapak saya, karena beberapa kali Bapak saya (yang kebetulan bekerja di Bimas Katolik, Kanwil Departemen Agama Provinsi Timor-Timur) berurusan kerja dengannya.

”Semua itu saya lakukan untuk mendengar harapan-harapan mereka,” katanya saat ditemui di Wisma Salesian Sunter, beberapa jam sebelum merayakan Misa bersama komunitas Timor Leste di Jakarta. Itu ia katakan untuk menjelaskan ‘posisi’nya dalam proses mediasi ini. Setelah tokoh-tokoh di Timor Leste ia temui, ia berkesimpulan semua tokoh dan pimpinan organisasi di Timor Leste menginginkan adanya dialog yang dilakukan secara terbuka di antara mereka. Pihak-pihak itu menginginkan ada pihak yang bisa menjadi mediator. Dan, menurutnya, mediator itu harus netral.

Ia menambahkan, ada kelompok dan pribadi yang mengusulkan hierarki Gereja menjadi mediator. Dalam hal ini Uskup Baucau Bacilio do Nascimento dan Uskup Dili Alberto Ricardo. Pihak-pihak yang bertikai di Timor Leste berharap, kedua uskup itu bisa mengambil inisiatif mempertemukan tokoh-tokoh yang berseberangan. ”Saya bersedia mendorong dari belakang supaya dialog ini cepat dilakukan. Agar mereka bisa memperbaiki situasi dan membantu para pengungsi kembali ke daerahnya masing-masing,” imbuhnya.

Kaum muda
Di Negeri Matahari Terbit (Lorosae, dalam bahasa Tetun berarti matahari terbit), peran Gereja Katolik sudah terasa sejak masa kolonial, pendudukan Indonesia, dan saat ini. Uskup Belo mengaku terkesan dengan apa yang sudah dan masih dilakukan jajaran Gereja Katolik di sana. ”Selain karena karya pastoral dan evangelisasinya, saya juga memuji para pastor dan suster yang telah ikut membantu saudara-saudara kami yang selama enam bulan ini berada di kamp-kamp pengungsi,” katanya.
Ia berharap Gereja Katolik di sana bisa lebih giat memberikan ajaran nilai-nilai moral dan etika kepada kaum muda dan awam untuk memahami ajaran Kristus, yaitu saling mencintai, saling menghormati, dan terutama saling memaafkan. Ketiga hal itulah yang menurut Uskup Belo penting karena masih ada kekerasan di sana-sini.

Sejak dulu hingga saat ini, ia menaruh perhatian mendalam pada generasi muda Timor Leste. Setelah kemerdekaan diraih, mereka hidup dalam krisis. Sebagian dari orang muda tetap menempuh pendidikan di sekolah-sekolah dan universitas. Ada sebagian lagi yang tidak mau bekerja. ”Mereka itulah yang dipakai pihak-pihak tertentu, saya tidak tahu siapa. Tapi, kelompok-kelompok itulah yang muncul untuk melempar batu, membakar, melukai sesama yang lain, dan juga membunuh,” ungkapnya prihatin.

Menurutnya, hal itu adalah sesuatu yang sangat penting bagi pemerintah, Gereja, dan masyarakat sipil untuk diselesaikan. Perlu ada alternatif-alternatif bagi kaum muda agar dapat keluar dari situasi ini. Ia berpandangan, selain pembinaan dari segi moral, penyediaan lapangan kerja adalah hal yang perlu dikedepankan. ”Kalau tidak ada lapangan kerja, mereka akan berada di pinggir jalan, di bawah pohon sepanjang hari, sepanjang malam, tidak berbuat apa-apa selain kekerasan,” kisahnya lirih.

Dalam kunjungan empat hari di Jakarta, ia menemui Pimpinan Provinsial Salesian Indonesia-Timor Leste Pastor Andres Calleja SDB guna melaporkan lawatannya selama sepuluh hari di sana. Ia pun menemui Uskup Agung Jakarta Julius Kardinal Darmaatmadja SJ, Pastor Markus Wanandi SJ yang pernah bertugas di Timor Leste. Juga ahli sejarah Pastor Adolf Heuken SJ sehubungan dengan buku sejarah Gereja Katolik di Timor Leste yang sedang digarapnya.

Sebelumnya, ia juga berkunjung ke Denpasar (28/10) untuk bertemu dengan sejumlah mahasiswa Timor Leste sekaligus merayakan Misa bersama mereka di Gereja St Fransiskus Xaverius, Denpasar.

Kini ia mengaku kesehatannya berangsur membaik. Namun, para dokter sebuah RS di Coimbra, Portugal selalu mendampinginya. ”Menurut mereka, saya harus tetap di sana supaya mereka bisa mengikuti perkembangan,” ujar pria yang ditahbiskan menjadi imam tahun 1980 ini.

Setelah kemerdekaan Timor Timur, Mei 2002, tekanan dari berbagai peristiwa perlahan mulai memukul kesehatannya. Paus Yohanes Paulus II menerima pengunduran dirinya sebagai Uskup Dili, 26 November 2002.

Penugasan baru
Setelah mengundurkan diri, Uskup Belo pergi ke Portugal untuk menjalani perawatan kesehatan. Awal 2004, ia menerima panggilan berulang-ulang untuk kembali ke Timor Timur dan mencalonkan diri menjadi presiden. Namun, Mei 2004, ia mengatakan kepada televisi pemerintah Portugal, RTP, ia tidak akan membiarkan namanya dicalonkan. ”Saya telah memutuskan untuk menyerahkan politik kepada para politikus,” katanya.

Sebulan kemudian, 7 Juni 2004, Pascuál Chavez, Pemimpin Serikat Salesian, mengumumkan dari Roma bahwa Uskup Belo akan mendapat penugasan baru. Dalam persetujuan dengan Takhta Suci, ia akan pergi ke Mozambik, tepatnya di Diosis Maputo, sebagai misionaris dan akan tinggal di negara itu sebagai anggota Serikat Salesian. ”Di sebuah paroki Salesian saya membantu pastor paroki mengadakan Misa, memimpin retret, dan mengadakan pertemuan dengan kaum muda,” tuturnya.

Sesudah berangkat ke Mozambik permulaan tahun 2003, ia beranjak ke Portugal untuk berobat karena harus menjalani beberapa kali operasi prostat. ”Hampir satu tahun saya berada di novisiat Portugal. Saya merasa lebih baik saya berkarya sebagai seorang misioner yang tidak punya tugas apa-apa,” ujarnya.

Sejak remaja, Belo memang memimpikan menjadi misionaris. Selama 19 tahun pelayanannya sebagai Uskup Dili (1983-2002), salah satu pokok yang paling sering ia bicarakan adalah tentang misi dan pentingnya menjadi misionaris. ”Hari ini waktunya telah tiba untuk menjalankan apa yang saya katakan kepada orang-orang Kristen di Timor Timur,” tutur monsinyur yang kini menetap di Lisboa, Portugal untuk waktu yang belum ditentukan ini.

Biodata
Carlos Filipe Ximenes Belo SDB
Tempat, tanggal lahir: Wailacama, Baucau, 3 Februari 1948
Orangtua: Domingo Vas Filipe - Ermelinda Baptista Filipe

Perjalanan karya:
1968: Menyelesaikan studi di Seminari Dare, Timor Leste.

1969 – 1981: Studi Filsafat dan Teologi di Italia dan Portugal.

26 Juli 1980: Tahbisan Imamat di Lisboa, Portugal.

1981: Kembali ke Timor Leste sebagai Direktur Kolese Salesian, Fatumaka, Baucau.

1983: Ditunjuk Administrator Apostolik Diosis Dili, menjadi pemimpin Gereja Timor Timur dan bertanggung jawab secara langsung kepada Paus.

19 Juni 1988: Ditahbiskan menjadi Uskup di Lorium, Italia.

1996: Bersama José Ramos-Horta menerima hadiah Nobel Perdamaian atas ”Kerja keras mereka menuju solusi damai atas konflik di Timor Leste.”

2002: Mengundurkan diri dari jabatan Uskup Dili.




Dimuat di Majalah HIDUP edisi No. 49 Tanggal 03 Desember 2006 dalam rubrik Eksponen.
Tulisan ini tidak persis seperti yang dimuat, karena saya menambahkan beberapa poin yang 'disunat' redaksi.

01 July 2009

Kesehatan, Beban atau Tanggungjawab?

Kasus Prita Mulyasari versus RS Omni Internasional yang begitu menyedot perhatian jutaan pasang mata dan telinga, memberi kita gambaran betapa layanan kesehatan di negeri kita tercinta ini, tak ubahnya komoditas yang diperjualbelikan. Mustahil untuk membantah statement Kartono Mohammad (Kompas 26/5/2009) bahwa, “Jika dikatakan pelayanan kesehatan di Indonesia liberal, pasti muncul penyanggahan dari para penyedia layanan kesehatan dan departemen kesehatan. Namun, dalam kenyataan, pelayanan kesehatan kita memang amat liberal, bahkan lebih liberal dibandingkan pelayanan di AS yang dikatakan biang liberalisme.” Lagi pula, mengapa kita selalu menengok ke negeri Paman Sam? Padahal, inspirasi dan pengalaman juga bisa kita timba dari Amerika Latin, misalnya, yang notabene bukan negara yang “kaya-kaya amat” seperti Amerika Serikat.


Dari hari ke hari, kita semakin diyakinkan bahwa neoliberalisme sudah sedemikian lekat dalam segala sisi kehidupan kita, termasuk kesehatan. Tetapi, pada kenyataannya, sekurangnya akhir-akhir ini, kata “neoliberalisme” itu sendiri lebih sering dijadikan komoditas politik ketimbang dipahami secara ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Ketiga capres-cawapres yang tengah bersaing, merasa ini isu 'seksi' untuk menghantam rival. Isu ini dianggap lebih 'seksi' ketimbang isu-isu pelanggaran Hak Asasi Manusia seperti kasus Munir, penculikan mahasiswa, Lumpur Sidoarjo, dan sebagainya. Saya pernah bertanya kepada seorang wartawan, kenapa isu neoliberal ini kerap dikedepankan ketimbang isu-isu HAM. Melalui pesan singkat, teman saya yang bekerja sebagai wartawan sebuah media online, mengaku kesulitan untuk menggali isu tersebut karena parpol pendukung koalisi salah satu pasangan capres-cawapres kerap mengelak, saat ditanya soal keberlanjutan Pansus Orang Hilang di DPR.

Tak banyak gunanya bagi kita untuk terus-menerus mendengarkan perdebatan, mengenai “capres A menganut paham neoliberalisme”, atau “cawapres B adalah antek asing penganut neoliberalisme”. Semua ungkapan itu, meski tidak selalu salah, tetap saja tak ubahnya pepesan kosong. Semua jargon itu juga tidak lahir dari sebuah pemahaman yang komprehensif. Saya juga tidak berpretensi untuk membahas soal neoliberalisme secara ontologis, epistemologis, dan aksiologis lewat tulisan ini.

Belajar dari Kuba
Kiranya isu neoliberalisme dalam dunia kesehatan relevan untuk kita singgung, sehubungan dengan kasus Prita versus Rumah Sakit Omni Internasional. Tetapi, di sini kita tidak akan membahas soal teori A atau teori B. Di sini kita berbicara perihal hak warga negara yang diabaikan oleh pemerintah yang tidak bisa menjadi “wasit yang tegas” dalam mengatur bidang kesehatan di negeri ini. Pemerintah lebih memilih untuk melakukan komersialisasi di banyak sektor, termasuk kesehatan.

Di Kuba, sebuah negeri mungil di selatan Amerika Serikat yang tidak lebih luas dari Pulau Jawa, kesehatan sudah menjadi perhatian sejak Fidel Castro menggulingkan rezim Fulgencio Batista setengah abad lalu. Kesehatan, selain pendidikan, menjadi sektor yang diberi prioritas tertinggi sepanjang pemerintahan Fidel Castro, bahkan hingga saat ini
Saking majunya pendidikan kedokteran di Kuba, puluhan negara di dunia seperti Indonesia dan Timor Leste mengirimkan mahasiswanya untuk belajar di sejumlah perguruan tinggi di sana. Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, hingga negara-negara dunia ketiga dan miskin di Amerika Latin, Afrika, dan Asia mengirimkan ribuan mahasiswa mereka ke Kuba.
Sektor kesehatan mendapat perhatian khusus dari pemerintah Kuba, tidak dengan jargon-jargon para petingginya. Sejumlah langkah konkrit telah mereka rintis perlahan namun pasti, sejak gerakan revolusioner Fidel Castro bersama 82 orang tentara -termasuk sang dokter pejuang, Ernesto “El Che” Guevarra- di tahun 1959. Negeri itu tidak hanya mendidik ribuan mahasiswa kedokteran dari berbagai negara. Kuba juga mengirimkan ribuan dokternya untuk terjun ke sejumlah negara di dunia yang dilanda peperangan dan atau bencana alam. Kita juga tentu masih ingat ketika Juni hingga Agustus 2006 pemerintah Kuba mengirimkan satu tim berkekuatan 135 dokter dan paramedis, untuk membantu korban gempa di Jateng dan DIY.

Dalam blognya, dr.Samsuridjal Djauzi mengatakan, salah satu faktor yang diperhitungkan dalam peningkatan taraf kesehatan warga Kuba adalah layanan kesehatan keluarga. Pemerintah Kuba menyediakan layanan itu di pemukiman penduduk di rumah susun di kampung-kampung. Dokter dan perawat ditugaskan untuk melayani tetangga kanan dan kiri mereka, karena rumah mereka berada tidak jauh dari poliklinik keluarga di kampung-kampung itu. Para dokter dan perawat itu bahkan secara rutin mengunjungi rumah atau kamar rumah susun yang dihuni warga, untuk mengawasi kebersihan lingkungannya. Dan, satu hal yang harus dicatat: semua itu didapatkan secara gratis!

Tidak seperti puskesmas di Indonesia, puskesmas (health centre) di Kuba dijadikan rujukan layanan klinik dokter keluarga. Semua puskesmas di sana menyediakan layanan rawat inap yang lengkap, rawat jalan yang didukung dokter-dokter spesialis, dan menyediakan layanan gawat darurat dan rehabilitasi medis untuk masyarakat setempat. Saya membayangkan, pasti tidak pernah ada warga Kuba yang keburu meninggal dunia dalam perjalanan karena terjebak kemacetan seperti di Jakarta. Angka kematian bayi di Kuba pun sangat rendah: 5,8 bayi per 1000 kelahiran (bandingkan dengan Indonesia yang masih 30 bayi per 1000 kelahiran). Angka kematian ibu 31 ibu per 100.000 kelahiran (Indonesia 300/100.000). Angka kematian bayi di Kuba juga lebih baik dari negara yang sudah maju seperti Amerika Serikat. Dan, yang juga perlu dicatat, setiap tahun ribuan pasien datang ke Kuba untuk mendapat layanan kesehatan berkualitas. Jumlah pasien yang cukup besar datang dari Venezuela, karena Kuba dan negeri Hugo Chaves itu menjalin kerjasama pertukaran minyak dengan layanan kesehatan. Artinya, layanan kesehatan di Kuba juga bisa menjadi sumber pemasukan devisa, ketika embargo ekonomi yang mengisolir Kuba belum dicabut oleh Amerika Serikat.


Komoditas Politik Praktis

Tentu saja, tidak bisa dinafikkan bahwa kesehatan bisa, sudah dan akan terus menjadi isu politik praktis. Di setiap pemilu, pilkada, dan bahkan pemilihan presiden ada saja kandidat yang menjadikan kesehatan sebagai isu kampanye. Tetapi, ternyata kita lebih sering -untuk tidak mengatakan selalu- 'gigit jari' tatkala sang kandidat sudah menduduki empuknya kursi kekuasaan. Kali ini, kita juga melihat ketiga capres dan cawapres memanfaatkan momen ini untuk membela Prita Mulyasari, yang tengah berkonfrontasi dengan RS Omni Internasional. Bahkan, ada wacana untuk meninjau kembali keberadaan rumah sakit mewah itu. Banyak pihak mendadak menjadi pahlawan kesiangan dalam kasus ini. Tetapi, apalah artinya menyelesaikan satu kasus seperti ini, kalau perbaikan sistem kesehatan tidak pernah dilakukan? Akan ada korban-korban lain seperti Prita yang akan dikriminalisasi. Bahkan, pasti sudah banyak dari kita yang mengalami kasus serupa, namun tidak mencuat ke permukaan.

Sebagai penutup, kita mungkin perlu mempertanyakan dua hal. Pertama, apakah kesehatan lebih menjadi beban pemerintah? Bisakah hal ini dipandang sebagai tanggungjawab pemerintah pada warga negaranya? Kedua, di musim kampanye presiden sekarang ini semua hal bisa dikomodifikasi untuk menarik simpati publik. Namun, apakah presiden RI periode 2009-2014 bisa mewujudkan kesehatan murah dan berkualitas untuk rakyatnya? Kita tunggu.



Photo caption:
Anggota tim kesehatan Kuba yang melayani masyarakat di Kecamatan Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, ketika gempa mengguncang Jateng-DIY Juni-Agustus 2006.

Photo by Kartini Hardjosuwignjo, yang saat itu juga menjadi salah satu relawan penerjemah di posko kesehatan Prambanan.

28 May 2009

Kesetiaan Pada Ideologi

Jutaan pasang mata di dunia menyaksikan, dinihari tadi waktu Indonesia, bagaimana anak-anak Catalan, asuhan pelatih muda Barcelona nan rendah hati Josep Guardiola, menaklukan pasukan Opa Alex Ferguson. Barcelona bukan hanya mengagumkan secara teknis permainan, tim ini juga bermain dengan hati. Mereka tampak menikmati setiap detik permainan, dengan emosi stabil meski Carles Puyol dan kawan-kawan kerap menerima kekasaran para pemain MU seperti Cristian Ronaldo. Barcelona membuktikan, mereka tidak ‘berselingkuh’ dari ‘ideologi’ sepakbola menyerang. Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari sini?


Masih berat rasanya mata saya untuk sedikit dibuka. Selepas menuntaskan perkerjaan di kantor di daerah Kebayoran Baru, menemui seorang teman di daerah Menteng Raya dan Kayumanis, saya beranjak pergi ke rumah seorang sahabat, Daniel Awigra, di daerah Bangka, Jakarta Selatan. Sekitar jam dua dinihari Awi membangunkan saya untuk pergi mencari kafe dan sejenisnya untuk menonton final Liga Champions, yang mempertemukan Barcelona dan Manchester United. Sebenarnya saya bukan penggemar Barcelona, apalagi Manchester United. Tetapi, berhubung tim jagoan saya AC Milan tak berpartisipasi di Liga Champions, melainkan di UEFA Cup, saya akhirnya menjagokan Barcelona. Saya berpikir, tak ada ruginya saya menonton Barcelona bermain. Tim ini mengingatkan saya pada total voetball a la Belanda yang begitu indah dipandang.

Akhirnya, saya dan Awi berangkat menuju Kemang Food Festival (KFF). Kurang dari 10 menit kami tiba di lokasi, dan mendapati ratusan orang sudah memadati kawasan itu. Sejumlah kafe dan restoran di kawasan itu tampak sudah dipenuhi para penggila bola. Suara puluhan televisi di sana terdengar cukup memekakkan telinga. Setelah memarkir motor tak jauh dari KFF, kami pun segera membeli tiket seharga Rp.35 ribu per orang. Tiket itu sudah termasuk sekaleng Draft Beer.


Saat kami tiba, ratusan orang sudah sudah memadati area KFF. Satu layar besar dipasang di tengah, mungkin ukurannya sekitar 3x4 meter. Ada juga sekitar empat hingga lima televisi layar datar di sana. Sudah sekitar 10 menit pertandingan berjalan saat saya dan Awi tiba. Terpampang di layar: “Shot on goal 5:0 untuk MU”. Saya sedikit terkejut, mengetahui betapa Barcelona ‘tersiksa’. Tetapi, akhirnya Samuel Eto’o membungkam suporter MU dengan golnya di menit kesepuluh. Sontak, saya dan Awi yang (karena kursi telah penuh) tadinya menyandarkan pantat di lantai, segera berdiri, bersorak, berteriak dan melompat-lompat bersama barangkali dua ratusan suporter Barcelona di KFF itu. Tanpa sadar, kaleng Draft Beer yang ada di tangan kanan saya mengeluarkan buihnya, karena terguncang-guncang. Buih itu pun mengalir ke sela-sela telapak kanan saya.

Seperti kita bisa saksikan dinihari tadi, sejak gol pertama tercipta praktis permainan menjadi milik Barcelona. Lini tengah Barcelona yang digalang Sergio Busquet, Andres Iniesta dan Xavi Hernandez tampak begitu dominan mengatur tempo pertandingan. Permainan tic-tac mereka tak bisa diimbangi para punggawa MU, yang setelah kebobolan gol pertama seolah kehilangan karakter juara. Mereka kerap kehilangan bola, grogi, kalah berduel satu lawan satu. Apalagi setelah Lionel Messi memperbesar keunggulan Barcelona di babak kedua.

Di tangan Guardiola, satu yang harus digarisbawahi dari apa yang diperagakan Barcelona sepanjang musim ini, baik di Liga Spanyol, Piala Raja dan Liga Champions adalah filosofi sepakbola menyerang yang mereka anut secara fanatik. Menurut Guardiola, sukses yang ia rengkuh musim ini adalah buah dari sebuah keberanian untuk terus menyerang, tak peduli apa pun konsekuensinya. Di tangannya, Barcelona tetap menerapkan gaya dan permainan menyerang, meski krisis pemain tengah melanda. "Jika Anda mengambil bola dan menyerang disertai keberanian, maka akan banyak mendapat peluang mencetak gol. Kami tak mau jadi pengecut. Itu tak pernah kami lakukan dalam pertandingan. Tak ada cara lain. Akan lebih berbahaya jika kita tak berani mengambil risiko," kata Guardiola.

Buat saya, pilihan yang diambil Guardiola menunjukkan mentalitas tak kenal menyerah yang sudah menjadi tradisi Barcelona. Konon, sejak zaman Rinus Michles, Johan Cruyff, Frank Rijkaard, hingga Guardiola sebuah doktrin ‘menyerang’. Ada ungkapan yang membandingkan Barcelona dengan Real Madrid: “Kalau di Madrid, anda cukup menang. Tetapi di Barcelona, orang akan bertanya bagaimana anda menang, dan berapa gol yang anda ciptakan.” Bahkan ketika sejumlah pemain pilar Barcelona tidak bisa tampil di final karena cedera dan hukuman kartu, ideologi menyerang sama sekali tak ditinggalkan.

Lesson learned
Berangkat dari sini, mungkin kita bisa menarik sejumlah pelajaran berharga. Pertama, kita sama sekali tidak punya alasan untuk bermalas-malasan dalam menjalani apa pun. Totalitas, singkatnya. Bagaimana pun, hidup harus tetap dijalani dengan “lebih hidup”, tak peduli apa cobaan yang datang menghantam. Memang, hidup sebagai warga Indonesia yang penuh dengan hiruk-pikuk yang kerap menyiksa ini tak pernah mudah. Sama sekali tidak mudah.

Contoh di depan mata, bisa saya angkat di sini. Silang sengkarut tentang isu neoliberalisme sedang jadi dagangan semua capres-cawapres: SBY-Boediono, JK-Wiranto, dan Mega-Prabowo. Sekurangnya tiga pekan terakhir ini, tim sukses ketiga pasangan itu berlomba-lomba untuk menuduh pesaing mereka berhaluan neoliberalisme, sembari mengklaim bahwa pasangan merekalah yang menganut faham ekonomi kerakyatan. Sebuah pertanyaan menyeruak, mengapa isu-isu lain relatif tenggelam di balik gencarnya isu “ekonomi kerakatan versus ekonomi neoliberal” di media massa? Kita patut bertanya-tanya, mengapa isu-isu lain seperti lingkungan, hak asasi manusia, budaya, dan sejumlah isu penting krusial lainnya nyaris tak terdengar. Sejumlah pakar ekonomi jelas-jelas berpandangan, para capres dan cawapres ini sama sekali tidak memahami apa itu neoliberalisme dan ekonomi kerakyatan.

Mengenai isu lingkungan, sejak 27 Mei 2006 tahun masyarakat Sidoarjo kehilangan rumah, perkebunan, dan semua yang mereka miliki karena daerah itu terendam lumpur akibat pengeboran PT.Minarak Lapindo Jaya. Pelanggaran lingkungan seperti illegal logging juga masih bisa kita simak di media massa. Kasus pembunuhan almarhum Munir juga masih penuh misteri, setelah Muchdi Pr dibebaskan dari segala tuntutan akhir tahun lalu.

Terakhir, tetapi mungkin yang cukup mendasar, adalah isu mengenai masih adanya sekelompok partai politik yang masih mengedepankan dan atau memperjuangkan politik aliran. Isu ini juga yang cukup menyita perhatian saya selama ini. Diterbitkannya ratusan peraturan daerah bernuansa syariah di negeri ini, adalah indikasi kuat bahwa politik aliran masih dan entah sampai kapan akan menguat.
Kita juga mengetahui, begitu kerapnya sebuah isu diseret ke masalah agama. Gerah dengan isu ini, seorang tokoh nasional (saya lupa namanya) pernah berkata, “Ketika orang lain di luar negeri sudah mengirim orang ke bulan, kita masih meributkan diri kita dengan soal ideologi.” Artinya, kalau kita masih terus disibukkan dengan persoalan-persoalan fundamentalisme, kapan kita sebagai bangsa bisa membangun dengan ‘tenang’ ? Apakah ini sebuah utopia? Entahlah, biarkah waktu yang menjawabnya....

24 February 2009

Somos parte de la Solución y también Parte del problema del Tráfico

El tráfico en las calles puede ser un problema clásico de Yakarta, como otras ciudades grandes en el mundo. Ya tenemos unos gobernadores hasta ahora, pero no se ve ninguna solución general para la ciudad.

Para resolver el problema del tráfico en Yakarta, se necesita la conciencia no solo de los funcionarios público de la ciudad pero también todos los miembros de la ciudad. Cada ciudadano en la sociedad tiene su responsabilidad. El gobierno juega su parte, y cada ciudadano jugar su parte en su entorno. Porque se dice que somos parte de la solución y también parte del problema.

Por lo tanto, para resolver el problema del tráfico en la ciudad muy grande y ocupado como Yakarta, el gobierno tiene que desarrollar los facilidades transportación como autobuses, paradas del autobuses, pavimentos para peatones, etc que pueda se usa por los ciudadanos.

Aparte de todo esto, la disciplina de cada ciudadano se necesita también si una sociedad o un país quería ganar cómodo en las calles. Si no hay disciplina, los facilidades que se provisto sea inútil.

Tenemos unos ejemplos que puede explicar muchas sobre desobediencia de los ciudadanos. Muchas personas que usa moto cada mañana, siempre parar sus motos delante de la línea blanco en las lámparas del tráfico. Muchas personas también no se lleva timón aunque es muy importante para la salud de nosotros.

31 December 2008

Here Comes The New Year

Gembira. Sedih. Bangga. Marah. Kecewa... Semua datang silih berganti di tahun ini. Semua manusia pasti mengalaminya.

Tahun 2008, tahun yang misterinya sudah tersingkap ...

Tahun 2009, semoga ku dapat membaca pertanda-pertanda misterimu ...

here comes the new year...
Gracias a Dios

aries,
penulisyangtaktahuapayangharusditulisdisaatsaatsepertiinientahkenapa

30 August 2008

Dili, Lain Dulu Lain Sekarang

“Nilai kami di tangan guru, keselamatan guru di tangan kami”. Kubaca tulisan itu di papan tulis di salah satu ruang kelas di SMA Negeri 1 Dili. Cerita di masa SMA itu kembali terngiang ketika sohib seperjuangan saya semasa di Dili, Timor Leste, Hendrikus Rarang, menelpon saya pada Minggu, 13 April 2008. Ia bukan teman sembarang teman. Hendrik, Made Endra Wiguna, dan Iryanto Sirait adalah sebagian teman yang pernah merasakan bagaimana kerasnya hidup sebagai pendatang di Timor-Timur, yang sekarang sudah berdiri sebagai negara sendiri bernama Republik Demokratik Timor Leste (RDTL).

Saya mengenal “Si Flores (begitu saya, Iryanto dan Endra biasa memanggilnya) ketika dia pindah sekolah dari tanah leluhurnya di Ende, Flores tahun 1997. Ia langsung ditempatkan di kelas 2C dan dikenal sebagai jagoan menggambar. Kebetulan, ia tinggal bersama kakaknya di daerah Bebonuk, Dili Barat, yang hanya berjarak sekitar satu kilometer dari tempatku tinggal di Pantai Kelapa, Dili Barat. Jadilah ia teman semikroletku setiap hari.

Hendrik datang 10/4 lalu untuk menjalani pelatihan selama tiga hari di sebuah instansi pemerintah, di Jakarta. Mengikuti jalan Iryanto sudah menjadi aparat pemerintah di Papua, bapak dua anak ini akan menjadi PNS di sebuah instansi pemerintah di tanah kelahirannya. Obrolan kami serasa tak lengkap. Biasanya – sepuluh tahun lalu – bersama Endra dan Iryanto kami kerap jalan-jalan di Dili, termasuk ke Patung Kristus Raja di Fatucama, yang berada di luar kota sisi timur kota Dili. Tetapi, apa lacur, jarak dan (barangkali) nasib memang memisahkan kami berempat. Seperti layaknya teman yang tak berjumpa, kami mengobrolkan banyak hal lucu, menegangkan, menakutkan, selama menetap di Dili. Dalam beberapa hal, tulisan ini barangkali sangat subyektif. Entah, apakah pengalaman yang saya tuliskan ini bisa memberi secuil gambaran bagaimana keadaan Dili pada waktu itu, dan membandingkannya dengan kondisi terkini di sana. Semoga saja...

Ibarat anak kecil yang kerap terkena demam, ‘suhu’ kota Dili juga sangat fluktuatif. Pagi hari, ketika berangkat sekolah, mungkin kondisi ‘aman dan terkendali’. Tapi, bukan tidak mungkin siang hari kami kebingungan mencari jalan aman untuk bisa sampai di rumah dengan nyawa dan raga yang utuh. Ungkapan yang sedikit hiperbolik, tapi begitulah adanya. Pertengkaran dan atau perkelahian antara pedagang pribumi dan pedagang di pasar, misalnya, hampir bisa dipastikan akan meluas menjadi aksi pencegatan dan razia terhadap kaum pendatang, termasuk siswa sekolah. Pada masa itu, belum ada teknologi SMS via telepon seluler. Tapi, kejadian di pasar tadi dalam hitungan jam akan segera menyebar ke seantero kota. Apalagi, jika perkelahian itu sampai memakan korban jiwa. Kerap kali, razia di sekolahku – yang terletak di Becora, Dili Timur – dilakukan beberapa jam setelah info perkelahian di pasar itu. Saya sendiri tak pernah merasa takut jika masih berada di lingkungan sekolah. Saya bisa memastikan para sahabat seperti João Paulo, Natalino, Tauro, Arthur Garcia, Benicio, Mario Mesquita, dan lain-lain akan mati-matian melindungi. Bahkan, saya masih ingat dengan pasti, bagaimana João Paulo secara terbuka di depan siswa-siswa pribumi berkata, “Imi bele baku sira seluk. Maibe, imi baku Aries, hare deit!.” (Tetun: Kalian boleh pukul mereka (pendatang) yang lain. Tapi, kalian pukul Aries, lihat saja!). Dengan mimik serius, ia melontarkan ancaman itu sambil mengarahkan jari telunjuknya ke muka siswa-siswa pribumi yang kerap memukuli siswa pendatang. Tentu, tidak semua siswa pribumi ‘gemar’ melakukan aksi pemukulan seperti itu.

Mungkin di sini perlu saya jelaskan, apa arti kata ‘razia’ itu. Kalau sudah ada yang memulai (selalu berlangsung spontan, tidak ada ‘koordinator’ resmi dalam setiap operasi ‘razia’), aksi itu akan berlangsung dari kelas ke kelas. Ada dua ‘jenis’ razia. mereka ‘hanya’ meminta sejumlah uang, yang biasanya berkisar antara Rp 100 hingga Rp.1000 per siswa, untuk membeli minuman keras, atau sekadar makan di kantin. Mereka bisa ‘hanya’ mendatangi satu hingga dua kelas, atau hampir semua kelas di SMA 1, yang berjumlah 10 – 12. Sekadar perbandingan, ongkos bis dan mikrolet di sana pada waktu itu Rp.100 untuk pelajar. Satu potong gorengan di kantin sekolah dihargai Rp.100. Kalau mereka mengadakan ‘operasi’ di lima kelas, yang masing-masing berisi 30 orang, dan masing-masing memberi Rp.100 saja, maka jumlah uang yang didapat adalah Rp.15.000. Itu angka minimal., mereka tidak meminta uang, melainkan memukuli setiap anak laki-laki pendatang di semua kelas. Biasanya, mereka basa-basi bertanya pada si ‘korban’, “Kamu pendatang ya?” Sebelum dijawab, bogem segera melayang ke pipi atau dada. Di satu sisi, saya merasa miris setiap kali melihat kejadian itu.

Namun, di sisi berbeda saya, yang tidak pernah dipukul selama tiga tahun bersekolah di sana, tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah. Biasanya, setelah kejadian itu tanpa dikomando, dan tanpa bisa dicegah oleh para guru, siswa-siswa pendatang segera ambil langkah seribu, pulang! Suatu ketika, seorang adik kelas bernama Agusto hampir saja mendaratkan bogem mentahnya ke rahangku. Siswa kelas 1 di SMA 1 – saat itu saya di kelas tiga – itu adalah seorang petinju yang menurut teman-temanku pernah mengikuti seleksi Pekan Olah Raga Daerah (Porda). Peristiwa terjadi di saat usai jam sekolah. Hati berdegup kencang. Sekitar 30 meter dari gerbang sekolah, terlihat segerombolan siswa pribumi tengah berteduh di bawah pohon. Entah kenapa, firasatku mengatakan satu dari mereka akan datang dan menyerangku.

Saya sengaja memperlambat langkah, sembari menunggu João Paulo, Natalino, Tauro, Arthur Garcia, Benicio, Jose Maria, dan beberapa teman di belakang. Tak lama kemudian, beberapa siswa (entah dari sekolah mana) di bawah pohon itu menunjuk ke arahku. Agusto yang ternyata ‘diutus’ untuk menyerangku, segera berlari kecil dan mendekat. Kuatur sedemikian rupa, sehingga jarak antara saya dan teman-teman lain tidak lebih dari dua meter. Saya hanya melirik ke arah Agusto yang telah berdiri sekitar dua meter di depanku untuk sekadar bersiap-siap., rupanya ia baru saja menenggak minuman keras. Aroma alkohol terasa kencang menyengat hidungku. Ia hanya mengenakan kaos oblong karena baju seragam telah ia ikatkan ke pinggangnya. Dalam beberapa detik, ia mengayunkan tinju kanannya ke arah pipi kiriku. Karena sudah siap menghadapi serangan itu, saya segera menundukkan kepala dan mundur sekitar dua langkah.

João Paulo dan kawan-kawan yang tengah bercanda sendiri kontan terkejut. Secara spontan, mereka membentuk lingkaran dan melindungiku. Saya tak tahu persis siapa yang lalu berbicara dengan Agusto, mungkin João Paulo. Agusto diberitahu agar jangan memukulku. Setelah ditenangkan, Agusto mendekat ke arahku. Jika sebelumnya ia melayangkan tangan untuk meninjuku, kali ini ia menyodori tangannya untuk menyalami, bahkan merangkulku dan meminta maaf. “Desculpa, hau la hatene”. (Tetun: Maaf, saya nggak tahu –kalau kamu temannya João Paulo dan kawan-kawan). Saya hanya menjawab, “La iha buat ida”, yang artinya “nggak apa-apa”. Jantungku yang sempat berdegup kencang, akhirnya berdetak normal. Saya tidak tahu persis, apakah ia benar-benar berniat memukulku karena tidak mengenalku sebagai bagian dari ‘gang’ João Paulo, atau ia hanya pura-pura dan lalu diperalat entah oleh siapa untuk memukulku. Memang, ada beberapa adik kelas yang penasaran dan bertanya-tanya, kenapa mereka bisa dengan bebas memukul siswa pendatang yang lain, sementara João Paulo dan kawan-kawan selalu membela saya. Sejak saat itu, Agusto tak pernah berniat memukulku. Bahkan ia selalu menyapa saya dengan akrabnya. Entah bergurau atau serius, suatu hari ia pernah mengajakku untuk menjadi warga negara Timor Leste jika kelak mereka merdeka dan berdaulat. Ungkapan yang membuatku tertawa, dan berkata “Orsida mak ita hare deit” (Kita lihat saja nanti).

Tidak ada yang berani menyerangku di sekolah. Tetapi, di luar sekolah? Tidak ada yang bisa menjamin. Seperti satu kejadian di perempatan arah Taibesi (tak jauh dari pemakaman Santa Cruz yang menjadi terkenal karena tragedi berdarah 12 November 1991) suatu siang. Saya tak ingat persis, di tahun berapa itu dan duduk di kelas berapa saya waktu itu. Yang saya ingat, siang itu saya pulang bersama temanku Nivio Leite Magalhaes (wakil Timor Timur dalam Paskibraka tahun 1996). Kami memilih tempat duduk di sebelah sopir mikrolet.

Tak ada kejadian apapun yang bisa memicu terjadinya kekerasan di Dili siang itu. Namun, mata saya terbelalak ketika mikrolet yang kami tumpangi berbelok ke arah Taibesi. Segerombolan anak muda menunjuk ke arah saya. Batinku berkata, “Habis lah...” Saya tidak bisa berbuat apa-apa, selain bertanya, “ Hau sala saida?"(Tetun: Apa salahku?). Namun, mereka hanya berkata satu sama lain, “ Bapa ne, baku deit!"("Bapa", sebutan mereka untuk pendatang).” Artinya, “pendatang nih, pukul saja”. Satu-satunya yang bisa saya lakukan hanya ‘mengunci’ lengan kiriku, agar bisa sedikit meredam rasa sakit. Saya hanya berusaha sebisa mungkin agar mereka, yang berjumlah sekitar sepuluh orang, tidak menghantam pipiku. Saya hanya membatin,”Kalau kalian cuma mau mukul lengan, silahkan. Tapi, jangan di pipi.”

Tapi, upssss.... ada yang membuka pintu mobil sebelah kiri. Jantungku serasa berhenti. Semula saya menduga, dia akan menyeret dan menghajar saya habis-habisan. Tapi, ternyata saya salah. Orang yang membuka pintu mobil itu justru menyuruh saya untuk bergeser sedikit ke tengah, sehingga kabin depan yang hanya untuk tiga orang (termasuk sopir), harus diisi empat orang. Entah siapa dia, tapi yang jelas tidak ada yang berani menghalanginya. Saya hanya bisa berkata,” Obrigado, maun” (Tetun: makasih, bang). Dia yang membela saya, bukan Nivio ! Keesokan harinya, Nivio dimarahi habis-habisan oleh João Paulo dan kawan-kawan, karena tak membela saya. Saya pun ikut marah, karena sikapnya itu. Mereka marah, karena biasanya mereka selalu membela jika ada pemuda Timor Leste yang berniat memukulku di bis kota atau di perjalanan pulang ke rumah.

Ada begitu banyak pengalaman kekerasan lain di Dili, yang tak akan cukup diceritakan di sini. Tapi, saya bersyukur hanya kejadian itu yang membuatku merasakan bagaimana dipukuli. Tiga tahun, satu penyerangan ? Tak terlalu jelek...Jika diberi kesempatan untuk bertemu João Paulo dan kawan-kawan, ingin rasanya saya berterimakasih pada mereka yang telah melindungiku selama tiga tahun itu. Tanpa mereka, entah apa jadinya. Tulisan ini saya buat di saat hubungan diplomatik antara RI dan RDTL sedikit menegang. Di Kompas edisi Sabtu 19/4 diberitakan bagaimana Presiden SBY terkejut mendengar pernyataan Presiden Timor Leste Ramos Horta mengenai pihak yang terlibat dalam kasus penembakan terhadap dirinya pada 11 Februari lalu.

Dalam jumpa pers 18/4 Presiden SBY menyatakan,”Saya terkejut. Saya beritahukan kepada para menteri dan seluruh pihak terkait untuk tidak memublikasikan masalah ini agar pencarian (pelaku) dapat berlangsung dengan efektif.” Seiring dengan berlangsungnya investigasi untuk mengusut kasus penembakan terhadap Presiden Horta dan PM Xanana Gusmao, Presiden SBY mengatakan telah berkomunikasi melalui telepon dengan Presiden Horta pada 10/4. Dibahas hasil investigasi untuk mengusut kasus penembakan itu. “Ada sejumlah informasi terkait percakapan telepon antara Alfredo Reinado (yang tewas tertembak dalam aksi penyerangannya ke kediaman Horta), dan berbagai pihak. Namun, kemudian saya tahu, pihak-pihak yang dimaksud bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di Australia dan negara-negara lainnya,” kata Presiden SBY. Tetapi, kita juga harus ingat beberapa media menyebutkan Reinado beristrikan seorang Flores, yang ia ‘ungsikan’ ke Australia sejak beberapa tahun lalu. Presiden SBY menambahkan, ia dan Horta bersepakat untuk bekerjasama dalam mengungkap dan menangkap siapa pun yang terlibat dalam usaha pembunuhan kedua petinggi negara jiran itu. Presiden lantas mengutus Kapolri untuk mengambil langkah-langkah kerjasama dengan Timor Leste. Pada 13 dan 15 April 2008, Polri mengirim dua pejabat seniornya untuk bertemu dengan Jaksa Agung Timor Leste.

Pertemuan itu, dijelaskan Presiden, membuahkan hasil positif. Pada 18/4 Polri berhasil membekuk tiga warga negara Timor Leste yang terlibat dalam kasus penembakan itu. Mereka adalah Egidio Lay Carbalho, Jose Gomes, dan Ismail Sansao Moniz Soares. “Ketiga-tiganya adalah oknum tentara Timor Leste, bukan warga negara Indonesia,” ungkap Presiden. Di Kompas artikel yang sama, juga dikatakan bahwa situasi yang sempat memanas itu setidaknya dipicu oleh pemberitaan di dua media, yaitu The Sydney Morning Herald, edisi 15/4 dan Kantor Berita Associated Press The Sydney mengutip penyidik kasus pembunuhan Horta, mengatakan, Reinado melakukan 47 kontak telepon dari dan ke Australia pada malam sebelum penembakan. Laporan ini berkaitan dengan pernyataan Horta dalam wawancaranya dengan CNN yang mengakui adanya “elemen luar” di balik upaya pembunuhan dirinya. Sementara AP memberitakan pernyataan Horta yang mengaitkan “elemen luar” itu dengan Indonesia.

Dua hari setelah tulisan itu terbit, Kompas menurunkan ‘perimbangan’ dengan mengutip pernyataan Horta yang menuduh media telah salah dalam mengutip pernyataannya soal keterlibatan Indonesia dalam upaya pembunuhan terhadap dirinya. Dia menyatakan tidak berniat menuduh Indonesia. “Ini penafsiran yang keliru oleh media. Saya menegaskan, individual di Indonesia. Individu ini bisa saja orang Timor Timur atau barangkali yang sudah menjadi warga Indonesia,” ujar Horta.

Entahlah. Polemik ini berada di wilayah politik, sehingga sama sekali tidak mudah untuk menentukan mana yang benar-benar berkata jujur, atau sebaliknya. Media turut menjadi pemain penting dalam hal ini. Pengalamanku selama menetap di sana sejak 1988 hingga 1998, mengajarkan bahwa ‘jangan mudah percaya pada media’. Dulu, setiap kali terjadi kerusuhan di Dili, pemerintah dan ABRI beberapa hari kemudian menyatakan bahwa kondisi ‘aman dan terkendali’. Padahal, saya sering muak membaca koran yang baru bisa kami baca sore hari, karena pesawat yang membawa paket koran dari Jakarta baru tiba sekitar jam 15.00 setiap harinya. Berangkat dari pengalaman itu, saya tidak bisa menduga-duga bagaimana kondisi faktual di Timor Leste, khususnya di Dili, saat ini

Entah bagaimana hubungan antara Metro TV dengan Alfredo Reinado. Di edisi 24 Mei 2007 Kick Andy menayangkan wawancara Andy F Noya dengan Mayor Alfredo di suatu tempat yang dirahasiakan. Waktu itu, Reinado masih berstatus ‘buronan’ negara. Belakangan, salah satu wartawannya, Desi Anwar, dituduh Ramos Horta turut berada di belakang percobaan itu. Tuduhan yang berbuntut pengelakan dan somasi terhadap Presiden Timor Leste itu. Entah bagaimana, kapan dan di mana drama politik ini akan berujung.

Kalau kita ingat, saat itu pihak Metro TV melalui Andy Noya mengatakan wawancara dilakukan di satu tempat rahasia. Kita pantas bertanya-tanya, mengapa hal itu dilakukan secara ‘kucing-kucingan’. Kalau diadakan di Indonesia, siapa yang memfasilitasi kedatangan Alfredo? Kalau diadakan di Dili, bisakah semudah itu Metro TV mengadakan kontak dengan buronan negara?

Di Kompas 25/4/08 dikutip apa yang sudah diangkat di beberapa media internasional. Beberapa kejanggalan terjadi dalam peristiwa percobaan pembunuhan terhadap Horta dan Xanana. Arsenio Ramos Horta, adik Ramos Horta, menuding ada konspirasi untuk membunuh abangnya. “Polisi PBB bukannya segera bereaksi mengejar pelakunya, tetapi hanya berdiri sambil memblokir jalan dan merintangi ambulans masuk,” Bahkan João Carascalao, ipar Ramos Horta, mengungkapkan bahwa ia ragu Mayor Alfredo bermaksud menuduh iparnya. Ia lebih yakin bahwa Alfredo dijebak untuk dibunuh di kediaman Presiden. Pelaku kemudian bermaksud membunuh Ramos Horta. Dengan demikian, seolah-olah peristiwa ini didalangi kelompok Alfredo. Masyarakat Dili sendiri tidak percaya pada penjelasan resmi di atas. Terlebih-lebih Horta justru akan memberi amnesti kepada kelompok militer pembangkang pada HUT kemerdekaan Timor Leste, Mei mendatang.

Budaya Kekerasan
Meski pernah mengalami tiga tahun menegangkan di Dili, saya tak pernah menyesal pernah menetap di sana. Apalagi berkenalan dengan Hendrik, Endra, Iryanto, João Paulo, Natalino, Tauro, Arthur Garcia, Benicio, Jose Maria, Mario Mesquita, dan lain-lain. Biarlah ketegangan dan kekerasan yang terjadi menjadi sejarah. Satu yang pasti, saya ingin bertandang kembali ke sana. Saya ingin bermain lagi di pantai pasir putihnya yang indah. Saya ingin mengenang bagaimana kami dulu bergelayut di mikrolet dan bis kota dan kemudian merasakan bagaimana betis kami dipukul dengan tongkat polisi lalu lintas. Bukannya marah, kami malah ngakak. Ha..ha...ha, atau kadang ngompori si polisi, dengan berkata, “Ya tuh Pak, pukul aja.”

Menurutku, kita harus mencoba untuk berpikir proporsional dalam mengamati Timor Leste. Tidak bisa dengan alasan nasionalisme kita dengan serta-merta mengutuk mereka, tanpa pernah mencoba untuk melakukan introspeksi sebagai bagian dari bangsa ini. Bolehlah kita mencaci maki kalangan ABRI (saya tidak mau menggunakan kata ‘oknum’ yang kerap ‘menyesatkan’) yang dulu melakukan kelaliman di sana. Saya sering melihat bagaimana kesewenang-wenangan militer di sana. Tetapi, fakta bahwa setelah menjadi provinsi ke-27 dari republik ini pembangunan infrastruktur publik begitu pesat, juga tidak bisa ditampik. Sarana transportasi (bandara, terminal, jalan raya), listrik, air, dan sebagainya cukup bisa dijadikan contoh bahwa pembangunan sarana-sarana fisik itu benar adanya. Bahkan, konon Lanud di Baucau – kota kabupaten termaju kedua setelah Dili yang berjarak 130 kami arah timur Dili – adalah bandara dengan landasan berstandar internasional yang bisa disinggahi pesawat tertentu.
Walau memang, masih cukup banyak dari 13 kabupaten (sekarang mereka menyebutnya distrik) yang belum merasakan manfaat pembangunan. Tetapi, seperti yang dikatakan Uskup Belo saat kuwawancara untuk majalah HIDUP sekitar satu tahun lalu kini mereka benar-benar kesulitan untuk sekadar hidup damai dengan sesama warga pribumi sendiri. Banyak anak muda yang hanya berdiri di jalan tanpa berbuat apa-apa selain kekerasan.

Minimnya lapangan kerja, menurut Uskup Belo, membuat anak-anak muda itu dengan mudahnya menerima bayaran orang-orang tertentu – entah siapa – untuk merusak ini dan itu. Memang, kekerasan demi kekerasan masih saja terjadi di Timor Leste. Zaman demi zaman berganti, namun kekerasan terus saja menghantui Timor Leste. Dari zaman Portugis, pendudukan Indonesia sejak tahun 1975, yang berpuncak pada peristiwa pembunuhan pasca-jajak pendapat 1999, bahkan hingga saat ini.

Timoreses, peace be with you all ... God, please bless all my friends there



26 May 2008

In Memoriam Oey Hay Djoen (18 April 1929 - 18 Mei 2008): Siapa Mau Jadi Penerjemah ?


"Ibarat kerikil yang dilempar dalam air. Jika kita genggam kerikil dan melemparnya ke air, maka permukaan air akan kacau. Tapi jika kita melempar satu kerikil ke tengah air, maka riaknya akan terus bergelombang ke tepian" (Njoto)



Perpustakaan Nasional, Salemba, Jakarta Pusat, 25 Maret. Saya tiba di gedung yang terletak di sisi utara perempatan Pramuka-Matraman-Salemba. Saya datang guna menghadiri peluncuran dan bedah buku terbitan Institut Sejarah Sosial Indonesia dan Hasta Mitra, Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto karya John Roosa, seorang profesor sejarah dari University of British Columbia, yang juga adalah penulis buku Pretext for Mass Murder: The September 30th Movement and Suharto's Coup d'État in Indonesia (University of Wisconsin Press, 2006). Telah banyak orang tiba di aula gedung itu. Saya menuju ke meja penerima tamu, untuk menandatangani daftar hadir, dan menerima satu kotak berisi makanan ringan dan air mineral. Melangkah masuk ke arah kiri, mata saya langsung tertumbuk ke arah pria sepuh yang tengah duduk di atas kursi roda. Bukan pria yang asing di mata saya. Ia tak lain adalah Oey Hay Djoen. Spontan saya menyapanya, dan ia balas dengan jabatan erat a la 'anak muda'. Saya menanyakan kabarnya, yang ia jawab "baik...baik". Ia pun menanyakan kabarku, dan kujawab dengan kalimat serupa. Tak kulihat istrinya, Jane Luyke, yang selalu setia berada di sampingnya. Mungkin, sedang berada di bagian lain ruangan itu. Ternyata, jabatan erat dari Oey siang itu adalah jabatan erat kami yang terakhir. Sepuluh hari sebelumnya, 15/3, bersama Hera dan Awi, saya turut menghadiri peluncuran buku tentang perjuangan perempuan Malaya melawan kolonialisme, Hidup Bagaikan Mengalirnya Sungai karya Agnes Kho, yang juga diterjemahkan oleh almarhum Oey.

Saat bertemu untuk terakhir kalinya di Perpusnas itu, saya tak tahu persis apa ia benar-benar masih mengingatku dengan baik. Memang, saya pernah sedikit nekat, mendatanginya rumahnya di Cibubur, September 2006 silam. Awalnya, sekitar di awal September itu seorang sahabat, Arifadi Budiarjo, mengajakku untuk datang pada peluncuran buku Kapital yang Oom Oey - begitu Oey biasa disapa - terjemahkan, di kediaman pematung kesohor Dolorosa Sinaga di seberang Carefour Tamini Square. Ia tampil sebagai pembicara bersama John Roosa. Jujur, saya tidak menguasai sama sekali topik bahasan di malam itu. Keterbatasan pengetahuan memaksa saya untuk hanya menjadi 'pendengar yang baik'. Namun, ada satu sosok yang begitu menyita perhatianku malam itu, Oey Hay Djoen. Di mata saya, ia bukan orang sembarangan. Bagaimana tidak, di usia saat itu, 77 tahun, ia mampu menerjemahkan buku kesohor karya Karl Marx setebal 929 halaman itu. Itu baru jilid pertama, sedangkan jilid keduanya berketebalan 580, dan jilid ketiga berketebalan lebih fantastis lagi, 1100 halaman !


Kekaguman, keheranan, dan keterkejutanku bertambah saat ia memberiku tiga lembar kertas berisi daftar karya pemikir-pemikir barat yang telah ia terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Di kertas yang hingga kini masih saya simpan itu, tercantum 28 buku yang telah purna ia terjemahkan. Di luar 28 buku itu, ada empat buku yang saat saya temui tengah ia garap, yaitu: Kapital Vol III, Conditions of the Working Class in England karya F.Engels setebal 400 halaman, serta dua buku lain karya Karl Marx yaitu Civil War in France, serta Class Struggles in France. Ada daftar lain, yaitu "program berikutnya", yang memuat Grundrisse (Marx), History and Class Consciousness (Georg Lukacs), Theories of Surplus Value (Marx), dan Limits of Capital (Harvey). Jika buku Agnes Kho itu ditambahkan, berarti sudah 30 lebih buku yang ia terjemahkan. Di bagian terbawah, tertera dua baris kalimat: "Nama penerjemah: SAMANDJAJA = IRA IRAMANTO = OEY HAY DJOEN". Maklum, ia digolongkan oleh kalangan militer sebagai "orang berbahaya" sehingga dengan sejumlah cara, Oey harus menyamarkan dirinya untuk tetap bisa berkarya.


Seusai acara bedah buku Kapital September 2006 itu, saya nekat mendekati almarhum dan sang istri. Saya bersama beberapa teman seperti Dian, dan juga Alex dan adiknya, Jerry, memperkenalkan diri pada almarhum. Segera saya bertanya apa saya boleh datang menemuinya. Jawaban spontan segera terlontar dari bibirnya, "Oya, silahkan. Tapi, telpon dulu sehari sebelumnya ya..." Saya senang bukan kepalang. Kebetulan, saat itu saya dan beberapa teman termasuk Arifadi, Dian, Anita, dan Alex tengah menyiapkan sebuah jurnal online yang di edisi perdananya mengangkat persoalan Peristiwa 1965. Oey langsung kubidik untuk jadi narasumber. Dan begitulah ceritanya. Singkat kata, tanggal 6 September saya bersama Alex dan Jerry bertandang ke rumahnya. Namun, karena Oey tidak punya cukup banyak waktu untuk bercerita tentang pengalamannya, kami sepakat untuk menunda wawancara hingga keesokan harinya. Saya datang sendiri dua hari sesudahnya. Dari pukul 11.15 hingga 14.15 kami berbincang di ruang tamu rumahnya. Obrolan tak berhenti ketika harus beranjak ke meja makan. Kesanku, ia sangat menghargai orangmuda yang datang untuk menemuinya. Jadilah sebuah transkrip sepanjang 14 halaman A4 yang berisi pengalamannya dipilih menjadi anggota Konstituante/DPR, diisolir oleh militer ke Pulau Buru, dan sejumlah hal lain mengenai orang muda, dan sebagainya.


Kabar kepergian Oey dari dunia fana ini kuterima dari Arifadi melalui pesan singkat pada Minggu 18 Mei sekitar pukul 10.30 saat saya berada di Kebon Jeruk. Oey meninggal di RS Carolus beberapa menit awal dini hari Minggu itu. Sekitar pukul 15.30 bersama Yohanes Prayogo (sahabatku yang juga wartawan Mingguan HIDUP) dan Arifadi meluncur ke Cibubur. Setelah mengarungi jalan raya Jakarta yang cukup lancar sore itu, kami tiba di kediaman putri dari Oey Hay Djoen, Mado, tempat jenazah disemayamkan, yang berada satu kompleks dengan rumah almarhum. Sejumlah aktivis yang juga orang-orang terdekat almarhum seperti Hilmar Farid, Agung Putri, John Roosa, dan sebagainya telah berada di tempat itu. Segera kami bertiga masuk ke dalam rumah yang berada di kompleks yang juga didiami sejumlah jenderal TNI itu. Kami menyalami istri almarhum Jane Luyke, yang pernah saya wawancara untuk HIDUP pada September 2006 untuk Sajian Utama tentang peristiwa 1965 itu. Di ruangan tengah rumah Mado, saya juga melihat Rieke Diah Pitaloka yang matanya tampak sembab. Sepertinya, ia cukup banyak menangis. Saya tak tahu pasti apa dan bagaimana hubungannya dengan keluarga almarhum.


Bernafas panjang
Sebuah pepatah usang berbunyi Gajah Mati Meninggalkan Gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia Mati meninggalkan nama. Jika kalimat itu disematkan pada almarhum Oey, tentu kita bisa membuat daftar apa saja yang telah ia "tinggalkan" bagi Indonesia, negeri yang sangat ia cintai. Sebanyak 30 lebih buku telah ia terjemahkan, sejumlah cerpen, esai dan sebagainya telah ia hasilkan sejak tahun 1950-an. Saya membayangkan, bagaimana Oey di masa kondisi tubuh yang tentu tak lagi "sehat setiap saat" masih mampu menerjemahkan belasan ribu halaman karya filsafat, sejarah, ekonomi politik, dan gerakan sosial. Sejarawan Hilmar Farid di mailing list Jambore_Kebudayaan 22 Mei 2008 menulis: "Justru dalam sepuluh terakhir, ketika kesehatannya mulai menurun, ia (Oey) mencurahkan sebagian besar waktunya untuk menerjemahkan belasan ribu halaman karya filsafat, sejarah, ekonomi politik dan gerakan sosial. Hampir seluruhnya adalah karya-karya klasik dari Marx dan Engels, ditambah beberapa buku kunci dari Rosa Luxemburg dan G.V. Plekhanov." Saya sungguh malu pada diriku sendiri yang masih kesulitan untuk sekadar membuat dua-tiga tulisan untuk blog-ku sendiri. Saya baru berusia 28 tahun, sedangkan Oey lahir di Malang, 18 April 1929 . Artinya, ia berusia 51 tahun lebih tua dariku, walau tanggal kelahiran kami cukup berdekatan, 11 hari. Betapa panjang napas yang ia punyai untuk mengerjakan itu semua. Ia juga cukup kerap menghadiri seminar ini dan itu.


Di milis itu, Hilmar Farid juga menuliskan bagaimana ia terkesan dengan persahabatan Oey yang tulus. Hilmar Farid menulis:
"Ia selalu sedia menerima kawan yang kehabisan tenaga dan semangat menghadapi tumpukan masalah. 'Kita tidak mungkin melakukan semua hal. Kemampuan kita ada batasnya. Yang penting adalah bagaimana mengorganisasi kekuatan kita yang terbatas ini.'Sering ia menyitir ucapan Njoto, sahabat dan gurunya, 'ibarat kerikil yang dilempar dalam air. Jika kita genggam kerikil dan melemparnya ke air, maka permukaan air akan kacau. Tapi jika kita melempar satu kerikil ke tengah air, maka riaknya akan terus bergelombang ke tepian.' "

Di blog ini, 23 Juli 2007, juga sudah ku-posting sebuah tulisan berjudul Oey Hay Djoen: Spirit Seorang Penerjemah. Saya menampilkan dalam tulisan itu, mengapa Oey memilih untuk menerjemahkan karya-karya Marx dan Engels. Ia ingin agar kita menggunakan metode berpikir yang dipakai Marx dan Engels, "Critical,"katanya. Ia berpandangan, Marxisme tidak menciptakan teori. Seluruh tulisan Marx adalah suatu polemik terhadap semua ilmu yang sudah ada. Jadi, ilmunya benar, tidak benar, itu yang harus dikrtisi. Marx dan Engels tidak menciptakan ilmu seperti tetes kebenaran dari langit. "Semua itu kan polemik: tesis, antitesis, sintesis. Metode berpikir inilah yang benar-benar aku gandrung supaya kita semua punyai. Jauhilah epigonisme segala macam itu. Cuma menerima, mengambil, mencangkok
dari segala sesuatu lainnya yang sudah mati itu. Ilmu harus berkembang terus," ungkapnya.


Ingin Jadi Tapol !

Peristiwa 1965 turut menyeret Oey ke Tefaat (tempat pemanfaatan) Pulau Buru, Maluku. Oey, yang diasingkan ke Pulau Buru sejak 1969, menceritakan bagaimana penduduk di Pulau Buru 'diracuni' dengan pandangan bahwa para tapol, termasuk Oey, adalah para pembunuh yang harus dihindari. Awalnya, 'pencucian otak' itu berhasil. Namun, selang 2-3 tahun ia dan beberapa rekannya berhasil menjalin kontak dengan penduduk Pulau Buru. Ia mengajari penduduk untuk bercocok tanam, membuat minyak kayu putih, bersawah, dan beberapa keterampilan lain. Kepadanya, secara sembunyi-sembunyi tentu saja, para penduduk memberikan sebuah radio transistor. Sejumlah tapol dipergoki oleh para tentara, dan langsung dihukum siksa dan sebagainya. Namun, kelincahan Oey dan beberapa rekannya berhasil mengelabui para tentara itu. "Akhirnya, kami bisa membuat suasana begitu rupa, sehingga bukan kami yang (datang) ke rakyat, tapi rakyat yang datang. Mereka pergi ke ladang-ladang kami, kami ajari mereka bagaimana bertani, bercocok tanam. Kami lebih pada melayani mereka," ia berkisah.

Menurut cerita Oey, penduduk asli di sana masih primitif. Hidupnya hanya dari mukul sagu, bikin tepung sagu. Seminggu, misalnya, atau untuk beberapa lama, mereka menganggur tidak bekerja. Paling-paling, mereka nawuh ikan di rawa-rawa. "Bukan dengan memancing. Ikannya kan bersembunyi di bawah. Itu dikeringkan, untuk makan mereka," lanjut Oey.
 Keterampilan demi keterampilan yang Oey dan kawan-kawan ajarkan terbukti mampu mendekatkan mereka dengan penduduk Buru waktu itu. Ia menceritakan, bagaimana ia mengajari penduduk setempat untuk memetik cabai. Oey bercerita, bahwa sebelum ia ajari, para petani cabai tidak memetik bahan baku sambal itu, melainkan mencabut pohon beserta seluruh akar-akarnya. Setelah Oey ajari, para penduduk bisa memetik cabai berkali-kali dalam setahun.

Demikian juga halnya dalam pembuatan minyak kayu putih. Sebelum ia berinteraksi dengan penduduk setempat dan mengajari mereka, dalam semalam hanya mampu dihasilkan sebotol minyak kayu putih. Setelah Oey 'turun tangan', mereka mampu menghasilkan tiga hingga empat botol ! Dalam hal penanaman padi pun setali tiga uang. Di surat-surat kabar tahun 1970-an kita bisa temukan bahwa mendadak Indonesia Timur, Maluku, menjadi lumbung padi. Darimana ? Dari Pulau Buru. Seperti sekarang juga. Waktu Pulau Buru ditinggalkan oleh para tapol tahun 1979, ribuan ternak telah mereka piara. Ribuan hektar sudah kami jadikan sawah. "Itu semua dimanfaatkan oleh militer, dijadikan daerah trasmigrasi dsb," kata Oey. 
 Begitu dekatnya para tapol 'berideologi' (begitu Oey mengidentifikasi dirinya dan teman-temannya yang 'licin' itu) dengan penduduk setempat, sehingga sejumlah anak kecil ketika ditanya, "Ale, besok mau jadi apa?" Mereka hampir bisa dipastikan akan menjawab, "Jadi tapol !". Oey menceritakan itu pada saya sembari terbahak.


Bukan Selebriti

Penerjemah bernafas panjang itu telah tiada. Perjalanan hidupnya yang sarat dengan tekanan, hantaman dari kalangan militer, telah terhenti. Saya bertanya-tanya dalam hati, siapa kira-kira yang akan menekuni penerjemahan teks-teks "berat" di masa-masa mendatang ini. Butuh lebih dari sekadar kemampuan berbahasa asing. Diperlukan lebih dari sekadar kecerdasan untuk mempu membaca belasan ribu halaman karya filsafat, sejarah, ekonomi politik, dan gerakan sosial. Di atas itu semua, diperlukan cinta yang mendalam. Dalam pertemuanku dengan almarhum pada September 2006 itu, diceritakan bahwa sekitar tahun 1986 silam, ia didatangi sejumlah anak muda yang, menurut Oey, kemampuan berbahasa Inggrisnya "jongkok". Spontan Oey bertanya, "Apa yang bisa aku bantu ?" Di hadapan mereka saat itu tergeletak sebuah buku High Waves of Emancipation karya W.Wertheim, ilmuwan yang pernah menjadi momok bagi rezim Orde Baru. Buku itu ia terjemahkan secara 'mencicil' untuk lalu ia beri pada para mahasiswa aktivis itu, sampai buku setebal 670 halaman itu ia selesaikan. Peristiwa itu coba saya rekonstruksi dalam alam pikirku. Hanya cinta yang bisa mendorong Oey melakukan hal itu. Bisa dipastikan, ia melakukan itu tanpa mendapat bayaran.

Oey terbukti telah memainkan peranannya bagi umat manusia, sekurangnya bagi sejumlah aktivis muda di negeri ini, negeri yang para penguasanya pernah membuang Oey ke Pulau Buru. Tetapi, mungkin karena ia digolongkan "berbahaya", tidak cukup banyak media yang mengangkat peran yang telah dimainkan Oey. Bahkan, sejauh yang saya tahu, media besar Kompas atau TEMPO sama sekali tak menurunkan tulisan obituari saat ia wafat. Mungkin juga, Oey sendiri enggan untuk menjadi "ilmuwan selebriti" yang begitu kerap menjadi "banci tampil" alias haus publikasi, dengan mengisi halaman dan reportase media massa.

Oom Oey, beristirahatlah dalam damai ! Kami, generasi sekarang ini, berutang padamu. Berutang janji, untuk melanjutkan perjuanganmu. Berjuang melawan kebodohan, melawan tirani a la neo-imperialisme di negeri yang 100 tahun lalu mencanangkan Kebangkitan Nasional-nya. Tulisan ini saya buat dua hari setelah pada tengah malam 24/5 pemerintah menaikkan harga BBM hingga 29 persen. Melihat kondisi Indonesia saat ini, bisa jadi, Oey menangis di 'sana'.




















Mengabdi Tanpa Sorotan


Untuk mendapatkan nuansa serta suasana bersahaja di Sekolah Melania itu, tidak perlu bantuan Doraemon untuk meneriakkan, “Mesin Pemutar Waktu”. Kalender telah berganti 81 kali, kebersahajaan masih saja mewarnai setiap karya pelayanan YMJ di bidang pendidikan, kesehatan, serta Panti Wredha.

Selasa, 20/5 di Cibitung. Hari yang cukup emosional buat saya. Pukul 04.30 saya bangun tanpa harus menunggu ibuku menggedor pintu kamar, sebagaimana biasanya. Bergegas kubuka pintu kamar dan meraih handuk biru tebal yang menggantung di tali jemuran di sisi belakang rumahku. Segera kumandi di pagi yang tak terlalu dingin itu. Dalam waktu satu jam saya berpakaian, menyantap sarapan, dan tiba di Stasiun (tepatnya, perhentian) Kereta Api Cibitung, tapi ternyata saya tak mampu mengejar kereta yang telah bergerak perlahan tapi pasti. Terpaksa, saya harus menggunakan jasa supir bus untuk mengantar ke Gedung Aneka Bhakti I, Departemen Sosial RI, yang letaknya bersebelahan di Salemba, kurang 500 meter dari SMA 68 dan RS Carolus yang tersohor itu.
Bukan tanpa alasan, saya begitu excited dan agak emosional pagi itu. Hari ini adalah resepsi peringatan 50 tahun Yayasan Melania Jakarta (YMJ). Kusebut emosional karena hasil kerja kerasku dalam mewawancarai sejumlah orang sejak November 2006 akhirnya berbuah. Bagaimana rasa “buah” itu, persoalan lain. Malam sebelumnya, hatiku tak tenang karena sang desainer yang berurusan dengan pihak percetakan buku itu mengabarkan via SMS bahwa baru antara pukul 20-21 tanggal 19/5 malam, buku akan tiba di kantor YMJ di Rawasari. Saya membatin, semoga tak ada sesuatu menimba mobil pengangkut, yang bisa menghalangi tibanya buku itu. Keesokan paginya, Joseph dan Manto, dua karyawan YMJ yang selalu dengan ramah menyapa saya menceritakan mereka harus lembur menunggu buku yang tiba sekitar 30 menit sebelum tanggal 19/2 berakhir, alias 23.30. Namun, alhamdulilah, buku yang diberi judul Karya Cinta: Lima Puluh Tahun Peziarahan Melania Jakarta itu tiba dengan selamat di Jakarta, dan bisa dibagikan secara simbolis kepada beberapa ‘orang penting’ di acara syukuran di Depsos itu.
Keterlibatanku dengan para Melanian itu berawal ketika Romo Greg Soetomo SJ (Pemimpin Redaksi Majalah HIDUP) sekitar bulan November 2006 menawariku untuk membantu A.Sandiwan Suharto (Pemimpin Perusahaan Majalah HIDUP) dalam penulisan buku Melania. Dalam hitungan detik, tawaran Romo Greg via pesan pendek itu segera kubalas dengan “Ya”. Tanpa basa-basi, tanpa berpikir berapa honor yang bakal kutangguk dari situ. Motifku hanya satu, mencari pengalaman menulis buku. Itulah mengapa, buku ini sedikit punya makna emosional, karena ... maklum, pertama nih booo...
Ibarat proses memasak, dalam proyek ini saya bertugas untuk “berbelanja”. Saya mewawancara para pengurus dan mantan pengurus yayasan, sejumlah pribadi yang bekerja di unit-unit layanan, serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya. Setelah “berbelanja” saya menyerahkan hasil pekerjaanku pada sang “chef” , Sandiwan Suharto, untuk dimasak. Bersyukur, saya diberinya kepercayaan untuk turut “meramu” sejumlah bahan yang telah saya “beli”. Setelah saya “masak”, akan diberi penyedap dan sebagainya oleh bos-ku itu.

Tak perlu Doraemon
Membuka buku Kenangan 50 Tahun Karya Melania di Jakarta yang dicetak tahun 1977, tak ubahnya mereka-reka kembali kepingan-kepingan peristiwa cikal-bakal karya YMJ. Sejumlah foto hitam putih menampilkan murid-murid beserta guru di masa-masa itu. Tertulis pula di situ, tanggal 12 Mei 1927, Perkumpulan Sosial St.Melania Cabang Batavia (Jakarta) memulai usahanya yang pertama, dengan membuka Sekolah Melania pertama khusus puteri, di daerah Weltevreden (Standaardschool, Kebon Jeruk). Bangunannya masih terbuat dari gedek (anyaman bambu) dan berada di tengah-tengah kampung. Di bangunan nan sederhana itulah 40 murid dan seorang guru berada.
Di tahun 1927 itu pula, Yayasan Melania didirikan oleh ibu-ibu Belanda bersama dengan ibu-ibu alumni Normaalschool (SGB) Mendut Jawa Tengah. Hal itu ditandai dengan membuka Volkschool (SD kelas 1 hingga 3) pertama di Kebun Jeruk Mangga Besar disusul Voekschool yang kedua di Kramat tahun 1933 kemudian dipindah ke Salemba.
Pada masa pendudukan Jepang, kegiatan sekolah ini dikelola oleh Keuskupan Agung Jakarta/Strada. Dan pada tahun 1958 kembali dikelola oleh ibu-ibu pengurus Melania. Ciri khas yang masih dipertahankan hingga kini adalah, semua pengurus di YMJ adalah Wanita-Awam-Katolik. Kaum adam "hanya" dilibatkan di posisi-posisi lain di luar yayasan.
Pada tahun 17 Mei 1958, YMJ resmi mendapatkan status badan hukum sipil Indonesia sebagai kelanjutan dari "Het Melania Werk voor Java" atau Karya Santa Melania untuk Jawa, yang pada 1928 didirikan di Yogyakarta oleh ibu-ibu Katolik lulusan sekolah Mendut. Sejatinya, sudah sejak 1921 ibu-ibu Katolik berkebangsaan Belanda merintis karya itu dengan tujuan untuk meningkatkan derajat dan kemampuan perempuan pribumi dalam mempersiapkan diri berumah tangga.
Untuk mendapatkan nuansa serta suasana bersahaja di Sekolah Melania itu, tidak perlu bantuan Doraemon untuk meneriakkan, “Mesin Pemutar Waktu”. Kalender telah berganti 81 kali, kebersahajaan masih saja mewarnai setiap karya pelayanan YMJ di bidang pendidikan, kesehatan, serta Panti Wredha.
Tengoklah TK-SD-SMP Melania yang berada tak jauh dari Jembatan Serong, Rawasari, Jakarta Pusat. Sangat kontras, jika kita membandingkannya dengan Kolese Kanisius di Menteng, yang juga didirikan pada 1927 oleh para Yesuit. Atau dengan sekolah-sekolah yang dikelola para biarawati Ursulin di Jakarta, dan berbagai kota lain. Jika di sekolah yang disebut pertama, halaman mereka melulu diisi oleh belasan motor, bandingkan dengan Kolese Kanisius di Menteng yang setiap hari selalu “memajang” belasan mobil milik orangtua murid, tamu dan atau guru. Yah, sudah bukan rahasia lagi kalau Kolese Kanisius sudah menghasilkan sejumlah ‘orang’ di republik ini. Sebut saja: Akbar Tanjung, Fauzi Bowo, Rhenald Kasali, Sarwono Kusumaatmadja, Wimar Witoelar, dan sederet nama beken lain. Artinya, hanya murid dari kalangan A (kelas 1) yang bisa mendapat kursi di sekolah yang bermarkas di Menteng Raya itu. Diferensiasi diangkat di sini semata untuk memotret sekilas profil dua institusi pendidikan Katolik yang berusia “sebaya”, namun “berbeda wajah”.
Lebih miris lagi, YMJ pada 1998 terpaksa harus menutup SMA Santa Melania di Rawasari yang telah berjalan delapan tahun. Pada tahun itu, jumlah murid yang terdaftar tak memenuhi syarat yang ditentukan pemerintah, kurang 16 orang per kelas. Setelah semua murid kelas 3 lulus, murid kelas 1 dan kelas 2 dipindahkan ke sekolah lain. “Dengan berat hati, sekolah pun ditutup,” kata Theresia Sri Lestari Sadiman, Ketua Bidang Pendidikan YMJ saat itu. Setali tiga uang, dengan Sekolah Rawasari, kesederhanaan juga masih menjadi warna mencolok di Sekolah Mangga Besar, TK-SD-SMP. Bisakah kita membayangkan, bagaimana perasaan para pengurus YMJ saat memutuskan itu. Pastilah sangat emosional: sedih, malu, merasa bersalah, dan entah apa lagi.

Bukan Selebriti
“Melania ? Apaan, tuh ?” Hampir setiap orang menanyakan pertanyaan ‘singkat tapi dalam’ itu, setiap kali saya bercerita bahwa saya tengah menulis buku sejarah YMJ. Tak terlalu mengherankan, karena saya sendiri mungkin tak akan pernah tahu ada YMJ, sekiranya tak terlibat dalam penulisan buku itu.
Bagiku, hal itu merefleksikan satu hal bahwa kita kerap membelalakkan mata saat melihat sesuatu yang dibangun dengan penuh kemewahan, fasilitas yang first class, dikelola oleh para pejabat, selebriti, atau tokoh masyarakat. Media cenderung untuk mengedepankan ‘who’ ketimbang ‘what’ untuk hal-hal di ranah publik. Singkatnya, “Siapa yang menggarap ?”, lebih dianggap penting, ketimbang “Apa yang digarap ?”.

Konservatisme versus Progresivitas
Saya sungguh mengacungkan dua jempol pada para srikandi yang bersedia meluangkan waktu tanpa dibayar di YMJ, selama bertahun-tahun. Kalender sudah berganti 81 kali, ‘cuaca’ dan ‘musim’ sosial politik, sosial ekonomi, sosial budaya, berulang kali berubah, sejak para mephreuw merintis karya mulia ini. Namun, YMJ masih tetap berdiri dengan segala keterbatasannya.
Peran sekurangnya tiga Uskup Agung Jakarta, Mgr. Adrianus Djajasepoetra SJ, Mgr.Leo Soekoto SJ, dan Yulius Kardinal Darmaatmadja SJ, benar-benar menjadi warna bagi Melania. Tantangannya, para melanian harus menghidupi tegangan antara konservatisme dan progresivitas. Mempertahankan nilai-nilai inti adalah wajib hukumnya. Sementara kita juga harus menatap maju menghadapi tantangan zaman yang tak akan pernah mudah.
Melanian, terima kasih. Dari mereka saya belajar tentang kesederhanaan. Dari mereka saya menimba spirit man/woman for others. Di tengah dunia yang sangat narsistik, Melania tetap tampil low profile. Saya percaya, dan semoga memang demikian, jika ada orang yang mau mengabdikan dirinya tanpa sorotan media massa, sesungguhnya itulah makna pengabdian yang hakiki. Bandingkan dengan para politisi yang kerap kehausan publikasi setiap kali memberi sumbangan bagi rakyat kecil. Bandingkan dengan sejumlah tokoh yang tengah bersiap menyongsong perhelatan politik 2009 atau 2004 lalu. Saya hanya bisa bilang, caaapeee deh...


Fransiskus Pascaries