05 April 2011

Memahami Rekonsiliasi: Pengalaman Indonesia, Jerman, dan Timor Leste

Seusai jam kantor Selasa, 25 Januari 2011 lalu saya meluncur ke Goethe Haus, Menteng, Jakarta Pusat, untuk menyaksikan pemutaran film dokumenter. Ada dua film yang diputar malam itu. Pertama, sebuah film dokumenter berdurasi 85 menit produksi tahun 2005 besutan Malte Ludin berjudul Zwei Oder Drei Dinge, Die Ich Von Ihm Weiβ (Dua atau Tiga Hal yang Kutahu tentang Dia) dan film kedua berjudul Mass Grave yang digarap Lexy Rambadeta. Film kedua yang berdurasi 26 menit dan diproduksi tahun 2001 itu sudah beberapa kali saya tonton, sedang film karya Malte Ludin baru saya saksikan sekali itu.



Film pertama mengangkat usaha Jerman dalam mengunyah buah-buah rekonsiliasi, setelah negeri itu sempat hancur lebur secara fisik dan mental akibat perang dunia kedua. Malte mengangkat kisah sang ayah, Hanns Ludin, yang menjadi penjahat perang Nazi, di masa jayanya Adolf Hitler. Sementara film kedua mengangkat acara penggalian kuburan massal 26 orang tersangka komunis yang menjadi dibantai tahun 1965.

Di film pertama saya lihat, bagaimana Jerman bisa menjadi contoh yang baik, bahwa bangsa Bavaria itu mampu menggulirkan sebuah proses rekonsiliasi, tidak dengan menutup-nutupinya. Syaiful, salah satu narasumber dalam diskusi setelah pemutaran film malam itu menambahkan, ada banyak hal lain yang menakutkan dari perang dunia kedua. Rangkaian persidangan dilakukan dari 20 November 1945 sampai 1 Oktober 1946., di gedung Pengadilan Nürnberg (Nuremberg Palace of Justice) Jerman. Konon itu adalah Pengadilan HAM pertama itu dunia.

“Tapi ternyata, pengadilan itu tidak begitu saja menyelesaikan masalah. Pasca PD II Jerman belum sempat menata diri, terbelah menjadi Timur-Barat. Infrastrutkur terbentuk dengan Marshal Plan, tapi integrasi sosial tidak sempat dilaukukan dengan sistematis. Salah satu titik apinya adalah Jerbar-Jertim,” kata Syaiful.

Saya lantas teringat pada kata-kata sejarawan Hilmar Farid yang berpandangan bahwa sebaiknya kita jangan takut pada sejarah.[1] Dalam film Zwei Oder itu Jerman berusaha untuk bangkit dari keterpurukan masa lalunya dan menjadi bangsa yang besar, termasuk dalam hal bidang teknologi, otomotif, olahraga, dan sebagainya. Merek mobil Opel Blazer, nama atlet seperti Boris Becker, Steffi Graf, atau para pesepakbolanya yang tiga kali menjadi jawara Piala Dunia, lahir dari sebuah negara yang dulu pernah hancur lebur karena perang.

Pengalaman Timor Leste
Oke, kalau kita mengambil contoh Jerman akan dengan mudah orang mencibir tulisan ini dan berkata, “Ya jelas saja, mereka kan udah berpuluh tahun jadi bangsa besar.” Tetapi, dari sebuah negara yang baru berusia 11 tahun, Timor Leste, tentu kita juga bisa menarik pelajaran serupa.

Kita tentu tahu, Timor Leste pernah menjalani masa penjajahan dari Portugal, sebelum mengalami masa pendudukan Indonesia antara tahun 1975 hingga 1999. Portugal masuk ke wilayah itu, untuk mencari kayu cendana pada tahun 1500-an, sebelum Gereja Katolik mendirikan sebuah gereja di Lifau, Oekusi, pada tahun 1590. Portugal menduduki wilayah itu setelah memenangkan peperangan melawan Belanda, dan akhirnya pada tahun 1709 pemerintahan administratif Portugal beralih ke Dili. Setelah tahun 1850-an, Portugal memperluas wilayah kekuasaan administrasi ke seluruh tempat di Timor Leste.[2] Negeri ini juga pernah mengalami penjajahan Jepang antara tahun 1942-1945.[3]

Pada tahun 2005 Timor Leste mencetak sejarah, setelah Komisi Penerimaan, Kebenaran dan Rekonsiliasi (CAVR) yang dibentuk di sana menghasilkan sebuah laporan setebal kira-kira 2500 halaman dengan judul yang hanya terdiri dari satu kata, Chega! Dalam Kata Pengantar laporan yang tersedia dalam bahasa Portugis, Indonesia, Inggris, dan sebagian dalam bahasa Tetum itu, Aniceto Guterres Lopez selaku Ketua CAVR menegaskan,

“ … bangsa kita memilih pertanggungjawaban untuk pelanggaran hak asasi manusia masa lalu, menyelenggarakannya secara menyeluruh untuk kejahatan berat dan kurang berat—tak seperti sebagian negara yang keluar dari konflik dan memusatkan perhatian hanya pada satu atau dua masalah, serta memperlihatkan betapa orang- orang dan masyarakat mengalami kerusakan luar biasa apabila kekuasaan digunakan dengan impunitas.”[4]

Mengapresiasi apa yang diangkat dalam film malam itu, Putu Oka, yang antara tahun 1966 hingga 1976 dipenjarakan di rumah tahanan Salemba dan Tangerang tanpa proses peradilan, mengatakan, “Jerman lebih cepat dan cerdas. Artinya berani melihat dirinya. Berani melihat sejarahnya secara objektif, karena mereka lebih rasional.”

Persoalan yang ada di Indonesia adalah, kita sering mendengar ajakan pejabat tinggi di negeri ini untuk lebih memikirkan masa depan, memendam apa yang sudah terjadi di masa lampau. Selain itu, banyak pula kalangan militer yang ‘berlumuran darah’ ingin menjadikan kesalahan mereka di Timor Leste sebagai urusan bangsa. Sejarawan Hilmar Farid menilai,

“Sikap ini saya kira sama bejatnya dengan mengkonversi utang pribadi para konglomerat menjadi utang publik yang kemudian harus dibayar oleh rakyat. Seperti halnya dalam urusan utang, banyak elite politik menggunakan jargon ‘harga diri bangsa’ atau patriotisme kosong untuk membela kepentingan mereka yang sangat sempit.”[5]

Ketua CAVR Aniceto Guterres juga mengatakan, bahwa lembaga yang ia ketuai itu diwajibkan untuk mengarahkan perhatian pada masa lalu demi kepentingan masa depan—masa depan Timor-Leste dan masa depan sistem internasional yang, sebagaimana diperlihatkan oleh Laporan itu, juga harus banyak belajar dari pengalaman Timor-Leste.[6]

Pesan dari Syaiful, sekiranya patut kita garisbawahi, “kalau memang negara belum sanggup, masih absen dalam upaya rekonsiliasi, saya pikir cara-cara kutlural: film, diskusi, (penerbitan) buku masih akan lebih efektif dalam rangka merawat ingatan. Mungkin butuh waktu yang lebih panjang. Tidak harus kita menunggu pemerintah.”

Bangsa yang berjiwa besar, tentu akan memandang penting pengungkapan sejarah. Supaya hal-hal buruk yang terjadi di masa lalu itu tidak terulang. Kasus Aceh, Papua, DI TII terulang karena kita tidak memiliki referensi sejarah, bahwa yang salah harus dihukum.

Jadi, masih takut pada sejarah?

[1] Wawancara Faisol Riza dengan Hilmar Farid di Edisi 558 | 20 Nov 2006 bisa dilihat juga di http://www.perspektifbaru.com/wawancara/558

[2] Film Dalan Ba Dame, produksi Comissão de Acolhimento, Verdade e Reconciliação de Timor Leste (CAVR - Komisi Penerimaan, Kebenaran dan Rekonsiliasi) tahun 2005

[3] Ibid

[4] Chega! adalah laporan resmi yang diterbitkan CAVR dan berisi dokumentasi pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi selama tahun 1975-1999. Chega! sendiri adalah kata dalam bahasa Portugis yang berarti “jangan lagi, stop, cukup”. CAVR mulai digagas pada tahun 2000 dan ditulis sesuai dengan Regulasi UNTAET No. 10/2001. Edisi bahasa Indonesia diterbitkan pertama kali oleh Kepustakaan Populer Gramedia pada Agustus 2010.

[5] Hilmar Farid, Keadilan Bagi Timor Leste Prasyarat Demokrasi Indonesia. Artikel ini disampaikan dalam peluncuran buku Chega! di Perpustakaan Nasional, Jakarta, 7 Oktober 2010. Naskah juga bisa dibaca di www.sejarahsosial.org.

[6] Chega!

31 December 2010

Catatan Seorang Penerjemah

Dua bulan sudah saya tinggalkan profesi itu. Setelah sebelas bulan menjadi ‘penyambung lidah’ alias penerjemah bahasa Spanyol di sebuah perusahaan asal Peru, saya banting setir, ke dunia yang baru sama sekali, yaitu Corporate Social Responsibility (CSR). Tetapi, bukan itu yang akan saya angkat di sini. Melainkan, betapa penerjemah adalah profesi yang tak cuma memerlukan keahlian berbahasa: memilih diksi, kata kerja, dsb. Lebih dari itu, sekurangnya berdasarkan pengalaman subyektif saya, profesi ini juga kerap membuat saya harus ‘menguras emosi’.

Itu bukan pertama kalinya saya menjadi penerjemah. Ketika gempa mengguncang Jateng dan DIY di penghujung Mei 2006, bersama sejumlah teman alumni dan siswa Kolese Kanisius Jakarta saya berkesempatan untuk menjadi penerjemah di sebuah rumah sakit lapangan. Di RS Lapangan yang dikelola pemerintah Kuba di daerah Prambanan itu, saya membantu sekitar 3-4 hari saja. Sementara 3-4 hari sebelumnya saya dan sejumlah rekan membangun sebuah posko kemanusiaan di Wedi, Klaten, yang juga porak poranda dihantam gempa berkekuatan 5,9 skala richter. Untuk pekerjaan itu, karena memang saya melabelkan diri sebagai relawan, dan tidak menerima bayaran sesenpun.

Sekitar 20 tahun sebelumnya, saya juga sudah menjadi penerjemah amatiran untuk orang tua saya di Timor Leste, yang dulu masih menjadi provinsi bontot di republik ini. Kok bisa? Ya, saya menjadi penerjemah untuk urusan sewa menyewa rumah di Baucau, salah satu kabupaten di provinsi itu dulu. Jadi, ceritanya sang empunya rumah, yang biasa kami sapa Avó (Portugis/Tetun: Nenek/Kakek) sama sekali tak bisa berbahasa Indonesia. Sementara orang tua saya sama sekali tak bisa bercuap-cuap dalam bahasa sang Avó, bahasa Tetun. Jadilah saya penerjemah amatiran itu. Saya juga ‘nggak jago-jago amat’ saat itu karena baru menapaki tahun pertama dari sepuluh tahun pengembaraan saya di sana. Tetapi, saya juga heran, kok bisa. Hehe. Ya sekurangnya pasif. Masih tertanam kuat di batok kepala saya ini, bagaimana Avó memperlakukan keluarga kami seperti anak dan cucunya. Ia tak pernah alpa memaksa kami untuk makan di rumahnya. Kami tak pernah berani menolak, karena setelah penolakan pertama kami padanya, ia marah besar karena menganggap kami tak menghargai tawarannya. Akhirnya, saya dan keluarga tak pernah menolak tawaran Si Avó. Meski perut telah terisi sebelumnya, beberapa sendok nasi dan lauk yang suguhkan harus kami lesakkan ke dalam perut, agar senyum bisa tetap mengembang di wajahnya yang telah keriput itu.

Dalam batas tertentu, belakangan saya mempersonfikasikan diri saya pada tokoh dalam cerpen karya Jhumpa Lahiri Interpreter of Maladies, Mr Kaspia. Ia adalah seorang supir yang melayani para turis di kawasan Konarak, India. Di luar jam kerjanya sebagai pengemudi taksi, Kaspia bekerja sebagai penerjemah bahasa Gujarat – Inggris dan sebaliknya bagi dokter di sebuah klinik. Ia menerjemahkan berbagai keluhan yang diderita para pasien. Sebuah pekerjaan yang dimaknai Kaspia sebagai penafsir kepedihan.*)

Hal itu juga menyeret memori saya ke tahun 2006, saat saya menjadi relawan di Jogja. Seorang ibu, saya duga berusia sekitar 35 tahun, harus diangkat rahimnya. Di suatu sore di RS Lapangan Kuba di kawasan Prambanan itu, seorang dokter perempuan, saya tak ingat namanya, bertanya dengan bahasa Inggris pada saya, ibu ini harus dioperasi keesokan paginya, jadi ia harus puasa malam itu. Sang dokter minta saya untuk mengingatkan bahwa dengan operasi ini, si ibu tidak akan bisa hamil lagi. Pernyataan itu diulang sang dokter tiga kali, dan sang ibu sepertinya sudah pasrah dengan nasibnya itu. Miris rasanya hati saya saat itu. Terlebih ketika keesokan harinya saya berpapasan dan berbagi senyum dengannya, beberapa saat sebelum ia melangkah ke ruang operasi.

Saya tak pernah bercita-cita menjadi penerjemah, meski saya selalu tertarik untuk belajar bahasa sejak SMP hingga perguruan tinggi. Kalau untuk urusan ilmu alam saya selalu ‘sempoyongan dan tak bergairah’, tetapi entah kenapa, soal bahasa saya seperti tak pernah kehabisan hasrat untuk belajar.

Menjadi penerjemah ternyata tak melulu soal kata, diksi, penggunaan tenses, atau segala tetek bengek teknis perbahasaan lainnya. Pengalaman menjadi penerjemah bahasa Spanyol di sebuah perusahaan minuman asal Peru mengajarkan, bahwa seorang penerjemah bisa menjadi penentu kondusif tidaknya suatu relasi. Suatu ketika bos saya yang asli Peru memerintahkan sesuatu kepada sejumlah teknisi di pabrik. Ia merasa tidak puas dengan kata-katanya dan melontarkan sederet ‘kata mutiara’ (baca: makian) di depan orang-orang itu. Saat orang-orang itu menanyakan artinya pada saya, tentu saya kaget. Karena, apa jadinya kalau saya harus menerjemahkannya secara verbatim, dalam bahasa Jawa, plek seperti aslinya. Akhirnya saya memilih mengatakan, “Ga, katanya dia pusing.”

Oya, anda ingat sosok botak yang hampir selalu menemani Presiden Soeharto menemani tamu asing dulu? Sampai sekarang saya tak tahu siapa namanya. Tetapi, lewat tayangan televisi, rasanya kita cukup familiar dengan sosok yang nyaris tak berambut itu. Saya kerap membayangkan, bagaimana ia harus menerjemahkan setiap kata yang keluar dari mulut sang Jenderal bengis itu kepada sang lawan bicara, dan sebaliknya. Saya acapkali bertanya dalam hati, sudah berapa ratus kali ia menemani Soeharto bertemu puluhan kepala negara dan kepala pemerintahan. Sudah berapa banyak rahasia yang masuk lewat telinganya dan lalu ia transfer ke telinga Soeharto. Saya berkhayal, kalau-kalau saja saya punya kesempatan untuk berbincang dengannya, mungkin menarik.
===
*) Sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Penafsir Kepedihan oleh Akubaca tahun 2003. Keresahan dan keterombang-ambingan Jhumpa Lahiri pada persoalan identitas menjadi mata air inspirasi untuk sembilan cerpennya dalam antologi Interpreters of Maladies, 2000. Buku pertamanya ini kemudian mengantarnya menjadi peraih penghargaan Pulitzer 2000, Pemenang PEN /Hemingway Award, dan pemenang New Yorker Prize untuk karya pertama terbaik. (Ruang Baca TEMPO Edisi 30 April 2006).
Di beberapa sumber lain, seperti situs www.bukukita.com, disebutkan nama tokohnya adalah Mr.Kapas, bukan Mr. Kaspia.


Riedl dan Klinsmann


Usai sudah pagelaran yang menyedot atensi publik sedemikian luasnya. Takluk dengan agregat 2 - 4 di tangan tim negeri jiran Malaysia, kita harus puas menjadi nomer dua di ajang Piala AFF 2010. Namun, terlepas dari hasil buruk di leg 1 di Stadion Bukit Jalil, saya rasa kita harus angkat topi pada semangat juang dan juga permainan ofensif yang disuguhkan para anak buah Alfred Riedl selama kejuaraan berlangsung. Sebuah tim yang dilatih seorang berkarakter kuat yang enggan diintervensi oleh siapapun dalam hal-hal teknis permainan. Melihat sosoknya, saya jadi teringat pada Jürgen Klinsmann. Kalau anda penggila bola, pasti anda tak asing dengan nama itu bukan? Keduanya mampu mengubah karakter permainan tim. Dari gaya permainan yang begitu membosankan, menjadi gaya yang begitu stylish, penuh kreasi serangan, meski akhirnya takluk di tangan Malaysia. Keduanya juga tak jarang menjadi kontroversi saat menangani tim nasionalnya masing-masing. Kita pun akhirnya mafhum. Menentang arus tentu bukan perkara mudah. Namun, kalau disertai prinsip yang kuat, tentu akan berbuah manis. Alfred Riedl dan Jürgen Klinsmann telah membuktikannya, meski kedua orang ini tidak (atau belum) memberi gelar juara bagi tim yang mereka tangani.

Alfred Riedl. Sosoknya dingin nyaris tanpa ekspresi. Ketika puluhan ribu suporter, dan official pertandingan di stadion, juga jutaan penggila bola berjingkrakan karena anak-anak buahnya mencetak gol, raut wajahnya hampir selalu begitu. Datar. Dingin. Bahkan mungkin tak sedikit di antara penggila bola tanah air yang menilainya angkuh. Tetapi, ternyata sosok seperti itulah yang (nyaris) mampu memuaskan dahaga prestasi sepakbola tanah air, terlebih ketika PSSI masih saja diduduki figur-figur korup. Doktrin permainan cantik bin agresif ia suntikkan ke kepala dan hati anak-anak asuhnya. Anak-anak asuhnya berhasil menjaringkan 17 gol dan hanya kemasukan 6 gol selama turnamen.

Publik tanah air dibuatnya histeris dengan penampilan mengesankan Firman Utina dan kawan-kawan. Aspek teknis sekaligus non-teknis ia perhatikan. Ia bak seorang jenderal yang begitu disegani para prajuritnya. Dari segi teknis misalnya, kini kita bisa melihat bagaimana umpan-umpan begitu akurat dari sisi ke sisi lapangan. Operan tang-ting-tung begitu fasih dijalankan para pemain. Skill individu sejumlah pemain seperti Okto, Nasuha, Gonzales, dan sebagainya, tak menutupi kerjasama tim yang menjadi faktor utama dalam sepakbola.

Pria kelahiran Wina, Austria, 2 November 1949 ini tak mengenal secuil pun kompromi dalam menegakkan disiplin buat para pemainnya. Publik tanah air tentu tak lupa bagaimana seorang bertalenta wahid seperti Boas Salossa ia coret karena terlambat bergabung dengan rekan-rekannya ke Pelatnas tempo hari. Meski ada yang memuji langkahnya itu, tak secuil yang mencibir langkah Riedl itu. Tetapi, Riedl tetap pada pendiriannya dan hanya berkata, “Boaz bisa masuk apabila empat pemain yang kita miliki cedera.”

Tak hanya itu. Riedl juga menerapkan hukuman denda bagi siapapun yang terlambat memasuki ruang makan, terlambat memasuki sesi latihan, dan sederet sesi lain yang sudah ia jadwalkan bersama asistennya (Wolfgang Pikal dan Widodo C Putro). Kapten Firman Utina menjadi salah satu pemain yang pernah terkena denda sebesar seratus hingga dua ratus ribu rupiah.

Tentu, ini bukan perkara berapa besaran dendanya, tetapi bagaimana disiplin menjadi salah satu modal mendasar bagi siapapun –dalam hal ini pemain sepakbola– yang ingin meraih prestasi. Ia tak peduli pada kebintangan seseorang. Ia hanya peduli pada kepentingan kebutuhan tim yang ia tangani. Akhirnya, terbukti kepemimpinan ‘tangan besi’ yang diterapkan Riedl berbuah manis. Dahaga prestasi publik tanah air ia puaskan dengan penampilan impresif anak-anak asuhnya.

Kita melangkah sejenak ke benua biru. Kita tentu tak lupa pada sosok asal Jerman Jürgen Klinsmann. Namanya menjulang menjadi salah satu striker licin bin lincah yang pernah ditakuti tidak hanya di Eropa, melainkan juga di dunia. Di timnas ia berjaya dengan membawa Jerman Barat menggondol Piala Eropa tahun 1996, dan puncaknya Klinsi (begitu ia biasa disapa) turut membawa tim panser menjuarai Piala Dunia 1990 setelah menaklukkan Argentina lewat gol tunggal Andres Brehme. Kemenangan yang membuat Diego Maradona terisak sedih.

Berselang 14 tahun kemudian, ia kembali ke tim panser Jerman sebagai pelatih kepala, menggantikan tandemnya semasa menjadi striker di timnas, Rudi Voller. Ia mengasuh talenta-talenta brilian seperit Bastian Schweinsteiger, Lukas Podolski, Philip Lahm. Beragam kritik datang menghampiri Klinsi. Mulai dari keengganannya untuk menetap di tanah air bersama anak buahnya, melainkan di California bersama keluarganya, keenganannya memasukkan sejumlah nama yang dianggap publik Bavaria bisa berkontribusi positif buat timnas, dan seterusnya. Tokoh-tokoh kunci sepakbola Jerman yang begitu disegani seperti Franz Beckenbauer tak urung melontarkan kritik tajam. Sang Kaisar kesal, lantaran Klinsi sebagai pelatih kepala tim panser tidak hadir di acara workshop beberapa hari sebelum Piala Dunia 2004 digelar. Ia hanya mengutus Oliver Bierhoff, asistennya.

Tetapi, terbukti tak hanya publik Jerman yang berdecak kagum saat di ajang itu anak-anak buahnya tampil begitu menawan. Memang, penggila bola sejagat sudah sekian puluh tahun memahami bahwa mereka hanya bermain untuk menang. Tiga kali menjuarai Piala Dunia, tiga kali menjadi jawara Piala Eropa, lahir bukan dari permainan cantik seperti Belanda. Para seniornya di kursi pelatih Jerman seperti Sepp Herberger (1954), Helmut Schoen (1974), dan Franz Beckenbauer (1990), memang berhasil membawa Jerman meraih kasta tertinggi di dunia. Tetapi tahun 2006 Klinsi menyuguhkan permainan ofensif yang mencengangkan dunia. Meski akhirnya Jerman tak menjadi juara karena takluk dari Italia di babak semifinal, publik Jerman menaruh simpati, hormat dan penghargaan yang luar biasa pada sosok ini. Seusai turnamen ia mengundurkan diri, meski negrinya menawarkan banyak hal menarik.

Riedl dan Klinsi seperti hendak mengajarkan kita, bagaimana sebuah prinsip harus ditegakkan apapun risikonya. Mereka tidak mengenal prinsip ‘asal bapak senang’ atau selalu ‘tebar pesona’ agar popularitas tak luntur ditelan waktu.

04 April 2010

Keteguhan Hati Melawan Stigmatisasi

Sore itu, di hari Minggu terakhir di bulan Maret 2010, sosok mungil anggun nan cantik duduk tepat di sebelah kiriku. Setelah sekitar dua jam bercengkerama dan melahap sajian di Restoran Solaria, di lantai enam Blok M Plaza, kami bergeser beberapa meter ke bioskop Twenty One, untuk memelototi film berdurasi 161 menit, yang berjudul My Name Is Khan. Sungguh tak menyesal menonton film itu. Kenapa? Saya tentu punya alasan.


Akting aktor senior Bollywood Sha Rukh Khan, yang berperan sebagai Rizwan Khan, sungguh nyaris sempurna. Ia tampil tanpa harus terkesan melecehkan penderita keterbelakangan mental, yang kerap ditampilkan secara serampangan bin ngawur oleh banyak sineas di republik ini.

Film itu bercerita tentang seorang dari sebuah wilayah bernama Borivali di Mumbai, pesisir barat India. Ya, si Rizwan Khan itu. Sedari kecil, penderita sindrom Asperger ini sudah terkenal cerdas, baik dalam berbahasa Inggris, selain juga memiliki daya ingat di atas rata-rata. Namun, ia selalu ketakutan saat melihat warna kuning, membenci suara keras, takut berhadapan dengan orang dan lingkungan baru, selalu mengulang perkataan lawan bicaranya, tanpa pernah menatap mata lawan bicaranya, atau bahkan sekadar berjabatan tangan.

Di usia dewasa, Rizwan beranjak ke kota San Fransisco di negeri Paman Sam, untuk tinggal bersama adik semata wayangnya yang telah menikah. Beberapa waktu menetap di sana, ia bekerja sebagai sales produk kosmetik. Profesi itulah yang kemudian mempertemukannya dengan seorang pekerja salon yang kemudian ia peristri, Mandira (seorang wanita Hindu yang diperankan oleh aktris kondang India, Kajol). Kenekatannya menikahi perempuan Hindu membuatnya harus dimusuhi oleh adik kandungnya sendiri.

Titik sentral yang coba dibidik film ini adalah usaha seorang Rizwan Khan, yang ingin melawan stigmatisasi pada kalangan Islam, pasca-tragedi 9/11. Kita tahu, sepasang menara kembar World Trade Centre harus runtuh karena sebuah pesawat menghantamnya tanpa ampun dan membuat begitu banyak orang meregang nyawa. Sentimen-sentimen menyesatkan khas pemerintahan Presiden George W Bush banyak menyeruak, apalagi setelah sang presiden langsung mengeluarkan pernyataan yang dicatat dunia, “Dunia sekarang hanya terbagi menjadi dua: bersama AS atau melawan AS.” Beberapa adegan di film itu menggambarkan dengan cukup baik, bagaimana sentimen anti-muslim, anti-Arab, atau hal-hal yang sedikit ‘menyerempet’ dan bisa diasosiasikan dengannya.

Keteguhan hati seorang penderita sindrom Asperger yang diperankan Shah Rukh Khan sungguh tergambar dalam beberapa momen. Sekurangnya ada dua gambaran yang masih menempel di kepala saya. Pertama, keputusannya untuk menikahi seorang wanita Hindu, meski ditentang keras saudara kandungnya sendiri. Adegan itu sontak membawa ingatan saya pada sebuah kisah di tahun 1948. Saat itu seorang Mohandas Karamchand Gandhi (yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Mahatma Gandhi) dibunuh oleh seorang Hindu radikal di India. Pria kurus itu tewas karena dianggap terlalu memihak kalangan muslim.

Alasan kedua, Khan bersikeras untuk bertemu langsung dengan Presiden AS untuk menggumamkan satu kalimat yang menjadi kalimat kunci dalam film itu: My Name is Khan, and I’m not a terrorist. Dalam kesempatan pertama, ia gagal meneriakkan kalimat itu, karena terlanjur diterjang pasukan pengamanan dari sang presiden yang secara samar (tetapi cukup jelas) dipersonifikasikan sebagai Presiden George W Bush. Di kesempatan kedua, keberuntungan sepertinya tak beranjak darinya. Ia berhasil mengatakan kalimat itu langsung di depan sang Presiden, yang secara samar (diperankan oleh aktor Afro- American, entah siapa) digambarkan sebagai Presiden Barrack Obama. Entahlah, apa film ini dibuat khusus sebagai white campaign untuk Presiden Obama.

Bukan tanpa alasan, Khan berikhtiar untuk mengucapkan kalimat itu langsung di depan muka Presiden AS. Hal itu ia lakukan sebagai janji kepada sang istri tercintanya, Mandira, yang begitu geram setelah anaknya dari suami pertamanya, Sameer, harus tewas, karena Sam harus menyandang atribut Khan di belakang namanya. Naluri seorang ibu yang kehilangan anak semata wayangnya, membuat Mandira dengan penuh emosi menuding Khan – lah yang menyebabkan anaknya tewas. “Jika aku tidak menikah denganmu –seorang muslim– anakku tidak akan mati!” Bahkan, ia mengatakan sesuatu secara emosional (yang kemudian ia sesali): “I should never have married a Muslim man.”

Keteguhan hati seorang Khan itu, sekurang-kurangnya dalam permenungan saya, mengajarkan bahwa ‘aksi tanpa refleksi adalah aktivisme yang berbahaya’, seperti halnya ‘refleksi tanpa aksi tak ubahnya wishfull thinking’ atau (maaf) beronani pikiran. Sabda dari filsuf pendidikan Brasil Paolo Freire ini, lantas berkelebat sekilas dan menempel di dinding otak saya. Tampilnya sosok Khan seolah hendak menyindir sebagian kalangan pejabat dan tokoh agama, yang kerap bermanis muka tampil di media, sambil berkoar tentang pluralisme, toleransi dan sederet kata manis lainnya, tanpa pernah berbuat sesuatu yang konkrit untuk menyemai benih-benih multikulturalisme di masyarakat.

Film itu usai setelah 161 menit mengajak penontonnya terbahak, termenung untuk beberapa saat merefleksikan adegan demi adegan, bahkan mungkin ada beberapa yang terisak menangis. Tidak ada adegan-adegan lebay alias berlebihan yang ditampilkan, seperti tari menari di taman yang begitu jamak kita temukan beberapa tahun silam di layar kaca.

Dalam film itu Khan juga digambarkan telah dengan teguh hati melawan stigmatisasi. Ia senang untuk mengucapkan kalimat “My Name is Khan, and I’m not a terrorist”. Dengan kelembutan hatinya, Khan terjun menolong korban bencana badai di Wilhelmina, Georgia, yang notabene adalah kawasan mayoritas Kristen kulit hitam. Adegan di gereja, saat Khan menyanyikan lagu berbahasa India, sambil diiringi nyanyian dengan bahasa Inggris sungguh mampu menggambarkan bahwa perbedaan agama, suku bangsa dan ras tak bisa dijadikan alasan untuk saling membenci.

Sajian sinema sore itu akhirnya usai. Saya pun menggengam tangan gadis cantik di sebelah kiri saya itu, untuk bergegas pulang. Gadis cantik, film yang menggugah nurani untuk sedikit berefleksi di kota metropolitan yang kerap memenjarakan kita dalam rutinitas. Sungguh, sepotong petang yang nyaris sempurna.


Blok M Plaza, 28 Maret 2010.

30 December 2009

Tahun 2009 Tahun Perlawanan. Tahun 2010?

Beberapa bulan belakangan ini, perhatian bapak dan ibu saya tersedot ke sekurangnya dua kasus: kriminalisasi dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi -Bibit S Rianto dan Chandra Hamzah- serta perseteruan antara Prita Mulyasari dan RS Omni International, Tangerang. Mereka selalu geram, setiap kali mendengar dan melihat melalui situs berita atau televisi, pemberitaan demi pemberitaan seputar dua kasus ini. Di masa pensiunnya, bapak selalu mengisi waktunya untuk memantau situs-situs berita dan televisi untuk mengikuti perkembangan kasus ini, jam demi jam. Sementara ibu saya kerap beranjak dari dapur dan meracik bumbu dapur di depan televisi di ruang tengah, saking tak ingin melewatkan momen-momen terkuaknya kebobrokan aparat hukum di negeri ini. Diputarnya rekaman bukti 'perselingkuhan' antara Anggodo-Anggoro dengan para penegak hukum, dalam persidangan uji materil di Mahkamah Konstitusi menjadi menu yang tak ingin mereka lewatkan.

Betapa tidak, dua kasus ini suatu tontonan yang (cukup) langka di republik ini. Buntutnya, masyarakat secara terang-terangan menunjukkan ketidakpercayaan mereka pada lembaga-lembaga peradilan. Sepertinya, tidak ada satupun penghalang yang mengurungkan niat masyarakat untuk menyuarakan rasa muak, jenuh, amarah pada aparat penegak hukum, yang ironisnya justru tidak pernah membuat hukum berdiri tegak. Tak berlebihan tentu, apa yang disampaikan Soetandyo Wignyosoebroto , bahwa “kepada yang lemah, hukum berlaku sangat keras. Sedangkan kepada yang kuat, hukum menjadi sangat lembek.”

Masyarakat dari beragam strata sosial di republik ini seperti sudah satu suara, bahwa ketidakadilan di republik ini sudah mencapai titik yang sangat mengkhawatirkan. Tidak hanya kalangan terdidik seperti mahasiswa dan aktivis LSM, sudah amat paham bahwa perlawanan harus dilakukan, dengan cara apapun yang mungkin, sejauh tidak destruktif.

Penyair Adhie M Massardi dalam sajak bertajuk Negeri Para Bedebah meyakini, ada bermacam cara untuk melawan. Katanya dalam sajak itu, “Maka bila negerimu dikuasai para bedebah, Usirlah mereka dengan revolusi Bila tak mampu dengan revolusi, Dengan demonstrasi Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi .” Dan para tukang becak, pemulung, dan kalangan akar rumput lain, melakukan perlawanan dengan cara mereka masing-masing. Mereka mengumpulkan koin untuk Prita Mulyasari. Mereka melakukan itu dengan motif “senasib sepenanggungan”. Kalau di masa kampanye pemilu mereka umumnya menjadi sasaran 'serangan fajar' para politisi, tapi kali ini dengan penuh kesadaran mereka justru mengumpulkan koin demi koin yang biasa mereka belikan sandang-pangan-papan untuk Prita.

Seorang pemulung bernama Mundala (65) bahkan mengumpulkan uang receh, yang ia kumpulkan bersama rekan-rekannya di komunitas pemulung Srengseng Sawah, Jakarta. Dengan penuh kesadaran ia berkata, "“Orang pakai e-mail, kenapa mesti dicecar? Tapi kalau kasus Century, enak-enak saja,” ujarnya. Kasus Century yang awalnya hanya masuk ke alam sadar kalangan elit (intelektual - pebisnis), ternyata sudah sedemikian melekat di benak rakyat jelata seperti Mundala. Meski tak mengenal Prita secara langsung, Mundala mengaku, ia mewakili rekan-rekannya menyumbang karena panggilan hati. Sebagai sesama orang kecil, mereka melihat kurangnya keadilan bagi masyarakat kecil.

Chico Mendes
Kisah perlawanan rakyat jelata melawan rezim lalim ini bukan hanya ada di Indonesia. Akhir tahun 1988, petani karet di Brasil melakukan perlawanan yang begitu solid melawan rezim diktatorial, meski untuk itu nyawa seorang Chico Mendes harus menjadi tumbal. Ia harus meregang nyawa, karena menjadi motor gerakan perlawanan para petani karet di hutan Amazon. Beberapa hari sebelum ia tewas di ujung bedil, ia melontarkan satu perkataan yang dikenang banyak orang hingga kini: ”Awalnya saya kira perjuangan saya hanya untuk menyelamatkan pohon karet. Kemudian saya mengira saya berjuang untuk menyelamatkan hutan hujan Amazon. Kini, saya sadar saya berjuang bagi kemanusiaan.”

Sementara dari negerinya pesebakbola Lionel Messi, Argentina, kita bisa melihat bagaimana para perempuan yang mayoritas adalah ibu rumah tangga melakukan perlawanan tanpa henti terhadap rezim militer, yang menghilangkan 30 ribu sanak saudara mereka. Mereka dihilangkan karena dituduh subversif, dan berhaluan kiri.

Sejak April tahun 1977 sekali dalam sepekan mereka (para ibu itu dimulai dengan 14 perempuan, 13 orang di antara mereka adalah ibu) berkumpul di Plaza de Mayo -yang terletak berhadap-hadapan dengan Istana Presiden Casa Rosada- untuk menuntut penuntasan kasus penghilangan paksa itu. Dan setelah bertahun-tahun berjuang, akhirnya Presiden Raul Alfonsin, yang dipilih secara demokratis setelah junta militer berakhir, membentuk Komisi Nasional untuk Orang-orang yang Dihilangkan, sepanjang junta militer di bawah Presiden Jenderal Jorge Rafael Videla Redondo tujuh tahun berkuasa. Selama tujuh tahun itu, tak kurang sembilan ribu orang dihilangkan. Di laporan yang sama dikatakan, pada masa presiden sebelumnya, Isabel Peron, 600 orang hilang dan 458 orang dibunuh.

Gerakan ini pula yang mengilhami Gerakan Kamisan yang rutin melakukan aksi bisu di depan Istana Negara setiap hari Kamis. Akankah rutinitas ini akan berujung pada dibukanya kasus-kasus pelanggaran HAM di Indonesia, tentu kita harus menunggu, entah sampai kapan.

Masyarakat sepertinya juga sudah bisa memilah, isu mana yang sudah layak dan sepantasnya mereka perjuangkan kebenarannya, dan kasus mana yang hanya mencari-cari sensasi. Ingat kasus Manohara? Lihatlah, ada berapa pasang mata di republik ini yang memperhatikan kasus yang melibatkan putra mahkota Kerajaan Kelantan, Malaysia itu? Bandingkan dengan kasus kriminalisasi Bibit-Candra, apalagi Prita Mulyasari. Meski tidak bisa disangkal, media menjadi faktor penting dalam dua kasus ini, kesadaran masyarakat lintas strata untuk melawan dengan berbagai cara (dukungan via FaceBook, pengumpulan koin, ikut unjuk rasa, dsb) sungguh terasa sebagai manifestasi perlawanan yang membanggakan. Mereka yang tidak bisa keluar dari kantor untuk
berunjukrasa, bisa memberi dukungan via FaceBook.

Sebagai bangsa, kita sudah mengalami episode-episode hitam yang berlumuran darah. Sebut saja kekerasan 1965-1966, tragedi Tanjung Priok, kekerasan sebelum dan sesudah Soeharto terguling dari puncak kekuasaan, dan sejumlah tragedi berdarah lainnya. Penguasa kerap menggunakan praktik-praktik yang 'itu-itu saja': penyusupan, adu domba, hasut-menghasut, pengalihan isu publik, dsb. Tapi, gerakan mendukung Prita dan melawan kriminalisasi pimpinan KPK, memperlihatkan masyarakat bergerak atas kesadaran senasib-sepenanggungan. Sejumlah penelitian menunjukkan, bahwa aksi kekerasan sepanjang 1965-1966 yang dilakukan masyarakat pada sesamanya, tak mungkin terjadi tanpa adanya sponsor, pengkondisian, atau bahkan intimidasi dari rezim yang lalim.

Patut kita tunggu, seperti apa 'metode' perlawanan yang akan ditunjukkan masyarakat Indonesia pada rezim otoriter yang berwajah (sok) manis ini di tahun 2010. Kalangan terdidik di negeri ini memang bukan mayoritas. Dalam gerakan sosial mereka 'hanya' pemrakarsa, bukan satu-satunya penentu. Namun, ketika ada semakin banyak orang seperti Mundala di negeri ini, kita layak berharap bahwa kesewenang-wenangan para penguasa bisa kita hadapi. Bukan dengan senjata. Bukan dengan batu. Bukan kekerasan. Tapi dengan cara-cara yang lebih beradab.

Ibarat paduan suara, saya yakin tulisan saya ini hanya satu suara di antara jutaan suara lain, di nada dasar yang sama. Nada dasar yang menyanyikan sebuah lagu melawan ketidakadilan, melawan kelaliman, yang dilakukan justru oleh para penyelenggara negara, yang beberapa bulan silam mendapat mandat lewat pemilu. Namun, justru di situlah pentingnya. Artinya, kesadaran akan ketidakadilan sudah merasuk ke dalam diri kita masing-masing.

Akankah perlawanan ini berlanjut di tahun 2010?

antara Cibitung dan Cikarang, di ujung tahun 2009

23 December 2009

Sang Sopir Merayakan Natal

Namanya Muis. Usianya 29 tahun.Tubuhnya kurus. Pria asli betawi ini kebingungan, lantaran tak kunjung mendapatkan biaya untuk pulang kampung halaman sang istri di tanah Batak sana. Sehari-hari ia bekerja sebagai sopir untuk sebuah perusahaan minuman asal Peru, yang tengah merintis bisnis di Indonesia, dengan membuka pabrik di kawasan Lippo Cikarang. Gaji sebesar Rp.1,5 juta yang ia terima setiap bulan, selalu tak cukup untuk menghidupi istri dan seorang anaknya yang berusia dua tahun. Sejak sebulan sebelum natal, ia mengaku kebingungan, karena belum mendapat biaya untuk pulang ke kampung istrinya di bumi Andalas. Ia berencana untuk menyewa mobil bersama istri dan dua keluarga lain dari istrinya, untuk mudik.



Sehari-hari, Muis bertugas untuk mengantarkan sang Presiden Direktur asal Peru, yang ditemani seorang penerjemah bahasa Spanyol, untuk menemui relasi bisnis, konsultan bisnis di kawasan Rasuna Said Kuningan, pengelola kawasan industri di Cikarang, mengantar-jemput tamu yang datang dari luar negeri di bandara Soekarno-Hatta, dan sebagainya. Setiap pagi, dari rumahnya tak jauh dari kawasan industri Lippo Cikarang, ia biasanya berjalan kaki selama sekitar 45-60 menit menuju perumahan Meadow Green, tak jauh dari Mal Lippo Cikarang, untuk menjemput sang bos. Biasanya ia tiba di rumah sang bos sekitar pukul delapan pagi, dan menggedor-gedor pintu sang majikan, yang kemudian membukakan pintu dalam kondisi terkantuk-kantuk. Jika amat lelah di malam sebelumnya, terkadang setelah setengah jam menggedor-gedor, barulah pintu rumah itu dibuka. Muis pun kemudian memanaskan mesin mobil, bila perlu mencucinya. Keduanya lebih kerap berbahasa 'tarzan' alias isyarat, karena sang bos tak mahir berbahasa Inggris, apalagi bahasa Indonesia, sementara Muis yang pernah bekerja sebagai sopir bis antar kota Sinar Jaya ini hanya bisa berbahasa Indonesia.

Kepada si penerjemah Muis pernah meminta masukan, bagaimana caranya bisa mendapatkan pinjaman uang sebesar tiga hingga empat juta rupiah. Ia mengaku mengenal seorang rentenir yang bisa meminjamkannya uang, namun bunganya sungguh mencekik leher: 50 persen! Hati sang penerjemah merasa trenyuh, tapi tak bisa berbuat banyak, kecuali mengatakan, “Jangan ke rentenir deh. Setengah mati lu mbayarnya nanti.”

Namun akhirnya kebingungan Muis berakhir. Awal Desember ini seorang manajer di kantornya berbaik hati. Muis berhasil mendapatkan pinjaman tanpa bunga sebesar Rp.3 juta. Mereka sepakat, pengembalian akan dilakukan mulai bulan Januari, di mana Muis akan mencicil sebanyak empat kali, masing-masing sebesar Rp. 750 ribu. Muis amat bersyukur, karena kebaikan hati sang manajer itu. Pekan lalu Muis berangkat ke Tanah Batak, untuk menemui keluarga besar istrinya, karena praktis tak ada yang bisa dikerjakannya di kantor, karena si bos juga tengah menghabiskan libur natalnya di Peru.

Muis juga sudah berusaha 'melobi' seorang pemilik usaha rental mobil di Lippo Cikarang, yang juga menyewakan mobil yang biasa Muis kendarai tiap hari. Tujuannya agar ia bisa mendapat harga 'damai' alias lebih murah. Alhasil, tarif Rp. 5 juta per 30 hari harus ia tanggung bersama dua keluarga lain dari pihak istrinya. Dari jumlah itu, Muis 'hanya' membayar Rp.1 juta rupiah. Namun di luar biaya itu, ia juga harus memikirkan biaya makan selama perjalanan, dan juga meninggalkan sedikit uang untuk beberapa keponakannya di sana.

Kepada si penerjemah Muis mengaku, sebenarnya ia tak ingin memaksakan pulang ke kampung halaman istrinya di tanah Batak kalau tak ada dana segar. Ia hanya tak tahan dengan sikap istrinya yang kerap mengeluh dan marah, ketika Muis membahas kemungkinan bahwa mereka tak bisa pulang kampung, karena ketiadaan biaya. Ia juga khawatir, ia akan dijauhi oleh keluarga istrinya karena tak bisa pulang kampung di masa natal ini. Ia mengaku tak bisa berbuat banyak, selain berusaha mencari pinjaman ke sana ke mari, untuk memenuhi keinginan sang istri dan tetap menjaga ikatan keluarga dengan keluarga besar di Sumatera. Seringkali, rasa penat dan tertekan atas sikap istrinya itu terbawa-bawa ke pekerjaannya. Ia kerap memaki sopir angkot yang berhenti seenaknya di tikungan tanpa memberi lampu sen. Kalau sudah begitu, pasti sang penerjemah akan membentaknya sambil berkata, ”“Hey, gue tau lu ada masalah di rumah. Tapi gak gini caranya! Kalau mobil kenapa-napa, lu juga yang repot ntar!”

Sekarang, ia tengah bersenang-senang bersama keluarganya di sana, sambil membayangkan bahwa ia harus mulai mencicil pembayaran pinjaman uangnya di bulan Januari 2010. “Sekarang gue seneng dapet pinjeman duit, tapi Januari ntar baru puyeng gue,” katanya sambil tersenyum kecut, setelah mendapat pinjaman tanpa bunga itu.

Beginilah cara Muis merayakan natal. Pasti masih banyak orang seperti Muis yang harus menguras kantong, bahkan mencari pinjaman uang ke sana ke mari, untuk pulang kampung, baik di masa natal ataupun di masa idul fitri. Bagaimana Anda merayakan natal tahun ini? Bagaimanapun, marilah kita bersyukur.

Salam Damai Natal....

10 November 2009

d’Masiv dan Seorang Pahlawan Bernama Tan Malaka

Hari Pahlawan. Hari ini kita kembali mengenang jasa-jasa para pahlawan kita. Di antara sekian banyak nama pahlawan, sosok satu ini sungguh malang. Meski sudah dianugerahi gelar pahlawan kemerdekaan nasional oleh Presiden Soekarno sejak 28 Maret 1963, penghargaan padanya terbilang sangat minim. Jangankan memiliki ‘rumah’ di Taman Makam Pahlawan. Keberadaan makamnya di Desa Selopanggung pun belum bisa dipastikan, meski beberapa pekan lalu pembongkaran makamnya sudah digelar. Selama puluhan tahun, namanya tersingkir dari buku-buku sejarah. Begitu banyak generasi muda (juga generasi tua?) yang tak mengenal nama ini. Tetapi, tak bisa dipungkiri, ia, Ibrahim Datuk Tan Malaka, tetaplah pahlawan, dengan atau tanpa Keputusan Presiden.

Majalah Tempo Edisi Khusus Hari Kemerdekaan tahun 2008 itu akhirnya bisa berada dalam genggaman sekitar dua bulan lalu. Saya sempat memburunya ke sejumlah tempat, tapi nihil. Perburuan itu berakhir, ketika akhirnya seorang teman, yang tahu saya pernah memburu majalah itu, dan gagal, berbaik hati untuk membelikan majalah itu di penjual majalah bekas di salah satu sudut Jakarta. Satu nama yang menjadi alasan saya untuk mendapatkan majalah itu: Tan Malaka! Bukan yang lain!

Kenapa “Che” ?
Sosok Tan Malaka, yang di bulan Oktober 1932 pernah menaklukkan dua polisi Hongkong yang akan menangkapnya di Kowloon dengan jurus-jurus Kungfu, mulai memadati ruang otak saya beberapa tahun belakangan ini. Nama itu sepertinya pernah singgah barang sejenak dua jenak di otak saya ketika SMA, meski hanya sepintas lalu. Tan Malaka, yang total sudah menjelajah di 11 negara di dua benua (setara dengan dua kali keliling bumi). Jarak 89 ribu kilometer yang ditempuhnya itu dua kali lebih jauh dibandingkan jarak yang ditempuh superhero Amerika Latin, Ernesto “Che” Guevarra. Tapi, sepertinya lebih banyak dari kita yang mengenakan baju bergambar “Che”, daripada baju bergambar Tan. Meski belum tentu orang yang mengenakan baju dengan gambar pria gondrong bernama “Che” itu paham siapa sebenarnya "Che".

Tan mulai menjadi ‘prioritas’ ketika saya berkenalan dengan mantan petinggi Kompas, Pak Swantoro, yang pertama kali saya temui pada 13 Mei 2007 untuk keperluan wawancara Majalah Hidup. Pak Swan akhirnya tak bersedia saya wawancara karena ini dan itu. Tetapi satu yang membuat saya senang, ia bersedia melayani saya untuk berbincang ngalor-ngidul tentang banyak topik selama tak kurang dari tiga jam di ruang baca, yang berada di lantai dua rumahnya di Kompleks PWI, Cipinang, Jakarta Timur. Sepulang dari pertemuan pertama itu saya mendapat hadiah dari Pak Swan: buku berjudul Dari Buku ke Buku, Sambung Menyambung Menjadi Satu dan dua buku lain. Di buku itulah saya mulai berkenalan dengan sosok Tan Malaka. Terima kasih untuk Pak Swan, karena sudah memberi saya jalan untuk mengenal orang yang sudah bertahun-tahun ditepikan dari panggung sejarah republik ini. Padahal, Muhammad Yamin menjulukinya sebagai Bapak Republik Indonesia, sedangkan Presiden Soekarno menyebutnya sebagai “seorang yang mahir dalam revolusi.”

Tapi, ironisnya, seperti diteliti dan dicatat oleh sejarawan Harry A Poeze, hidup Tan Malaka harus berakhir di ujung bedil serdadu republik yang sangat ia cintai, Republik Indonesia. Menurut Poeze, Tan meregang nyawa setelah peluru menembus raganya di Dusun Selopanggung, Semen, Kediri, 21 Februari 1949. Tan ditembak atas perintah Letda Soekotjo dari Batalion Sikatan bagian Divisi IV Jawa Timur. Soekotjo ini mengakhiri karir militernya dengan pangkat jenderal bintang satu, dan pernah beberapa tahun menjadi Wali Kota Surabaya. Peluru itu mengakhiri hidup Tan, orang pertama (bukan Soekarno, bukan Hatta, bukan Syahrir) yang mengusung ide republik, dalam bukunya Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) tahun 1924.

Inspirasi untuk Indonesia Raya
Kita hampir selalu menyebut Soekarno, Mohammad Hatta, dan sejumlah tokoh lain saat membahas sejarah Indonesia, terutama dalam kaitannya dengan perjuangan merebut kemerdekaan dari imperialisme asing. Selama puluhan tahun nama Tan Malaka tak pernah mengisi lembaran buku-buku sejarah perjuangan bangsa merebut kemerdekaan. Di era Soeharto, murid SD hingga mahasiswa di perguruan tinggi selalu dijauhkan dari tokoh ini. Di era pasca-ordebaru pun, belum banyak buku pelajaran di sekolah (dan perguruan tinggi?) yang memberi tempat pada nama Tan Malaka. Meski kita juga tak bisa menutup mata, bahwa di era keterbukaan informasi ini, buku-buku, majalah, dan kajian mengenai Tan Malaka bisa jauh lebih mudah kita dapatkan.

Sungguh ironis. Seorang yang tercatat menjadi pelopor ide Republik Indonesia ini justru tersapu dari panggung sejarah bangsa yang begitu ia cintai. Padahal, buku Naar de Republiek dan juga Massa Act (1926) menjadi ‘bensin ideologis’ bagi Soekarno dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. Saat memimpin Klub Debat di Bandung semasa mahasiswa, Soekarno menjadikan Massa Actie sebagai sumber inspirasi. Dan, yang juga perlu dicatat, salah satu tuduhan yang memberatkan Soekarno saat harus diadili di Landraat Bandung tahun 1931 adalah: menyimpan buku terlarang berjudul Massa Actie ! Buku ini akhirnya juga turut mengilhami pledoi Soekarno yang kondang itu, Indonesia Menggugat.

Tak hanya Soekarno. Saat menciptakan lagu Indonesia Raya WR Supratman juga ‘dirasuki’ spirit Massa Actie goresan tangan Tan Malaka itu. Ke dalam syair lagu itu ia memasukkan kalimat “Indonesia tanah tumpah darahku” setelah membaca bab terakhir dari Massa Actie, yang bertajuk “Khayal Seorang Revolusioner.” Di situ Tan Malaka menulis, “Di muka barisan laskar, itulah tempatmu berdiri… Kewajiban seorang yang tahu kewajiban putra tumpah darahnya.”

Saya ingin sedikit berandai-andai. Meski saya sadar, mungkin saya juga bisa dicap lebay alias berlebihan. Apa yang ada di pikiran Tan Malaka ‘di sana’ sekarang? Ya, sekarang. Saat bangsa ini tak kunjung merdeka 100 persen. Mungkin ia akan bersedih dan murka. Barangkali, ia akan menggalang massa (seperti yang pernah ia lakukan saat menggalang massa dalam rapat besar di Lapangan Ikada, dua hari setelah proklamasi 1945) untuk melakukan perlawanan. Yang pasti, ia akan marah, sangat marah bahkan, karena melihat betapa republik yang ia cintai ini dengan begitu mudahnya dikangkangi oleh kepentingan imperialis asing. Bahkan, sejumlah petinggi di sini seperti ‘mempersilahkan’ kekuatan imperialis itu masuk, agar mereka ikut ‘kecipratan’ rezeki. Hasilnya, kekayaan alam kita banyak dikeruk. Melambungnya harga minyak dunia, misalnya, justru tak pernah dinikmati manfaatnya oleh sebanyak-banyaknya kalangan masyarakat. Hanya mudaratnya saja yang hadir di sini. Sejak Presiden Soekarno disingkirkan oleh kekuatan barat, di saat itulah Indonesia menjadi negeri yang siap sedia ‘menjamu para penjarah’.

Tan, yang oleh mantan Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono dinilai sebagai satu-satunya pimpinan teladan yang benar-benar konsekuen di Indonesia, juga pasti marah seandainya melihat sendiri bagaimana Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dikeroyok ‘buaya’ dan ‘godzilla’. Dulu Tan dan pejuang lain melawan imperialisme asing (yang menggunakan kekuatan dalam negeri untuk membunuh Tan), tapi kini imperialisme dilakukan oleh orang-orang Indonesia sendiri yang disponsori pihak asing. Kemerdekaan seratus persen yang dulu ia teriakkan bersama Jenderal Soedirman sampai kini belum juga mewujud. Bahkan, kemunduran demi kemunduran semakin terlihat jelas: korupsi merajalela, aparat hukum ‘berselingkuh’ dengan para cukong dan kriminal yang berperkara, dan sejumlah contoh lain.

Tan pun, dalam mewujudkan sikap Merdeka 100%, pernah bersitegang dengan Soekarno selaku presiden, yang hanya berbasa-basi menolak Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Desember 1949. Belanda tahu benar bahwa Soekarno hanya berpura-pura, karena faktanya utang Hindia Belanda sebesar 4,3 miliar gulden yang dibebankan kepada RIS tetap dipatuhi oleh Republik. Itulah sebabnya, baru pada 17 Agustus 2005 ada perwakilan Belanda yang turut hadir dalam peringatan kemerdekaan RI di Istana Negara. Terang saja, karena utang Hindia Belanda sudah lunas dibayar.
Bagian refrain dari lagu d’Masiv berjudul Diam Tanpa Kata bisa menjadi cermin dari apa yang ada di benak Tan Malaka lebih dari sepuluh windu lalu. Simak saja,
Kau takkan pernah sadari / betapa ku mencintaimu / kau yang selalu aku banggakan // Kau takkan pernah mengerti / betapaku menyayangimu/ kau yang selalu aku inginkan //

Selama ini, kita mungkin tak pernah menyadari, betapa Tan mencintai Indonesia. Indonesia yang selalu ia banggakan. Betapa ia ingin agar negeri ini Merdeka 100 persen!
Atau, jangan-jangan d’Masiv terinspirasi oleh Tan Malaka saat menciptakan lagu Diam Tanpa Kata. Ah, lebay deh...

Sumber bacaan:
1) Majalah TEMPO Edisi Khusus Hari Kemerdekaan 17 Agustus 2008
2) P. Swantoro, Dari Buku ke Buku: Sambung Menyambung Menjadi Satu (Jakarta, Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) bekerjasama dengan Rumah Budaya TEMBI, 2002)
3) Harry A. Poeze, Memuliakan, Mengutuk, dan Mengangkat Kembali Pahlawan Nasional: Kasus Tan Malaka, dalam Henk Schulte Nordholt, Bambang Purwanto, dan Ratna Saptari (editor), Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia (Jakarta, Yayasan Obor Indonesia-KITLV-Pustaka Larasan, 2008)

26 October 2009

Belajar di Lokalisasi

Surabaya malam Natal tahun 2004. Tiba-tiba, telepon berdering di rumah Theresia Mike Verawati Tangka. Di ujung telepon terdengar suara seorang perempuan. Perempuan di ujung telepon itu berkata, “Mbak Mike, saya sudah melihat gereja, tapi tidak masuk. Doain ya mbak, supaya nggak hanya sampai di depan gereja, tapi bisa masuk, seperti yang dibilang Mbak Mike.” Mike lantas menjawab, “Kamu di mana? Kalau kamu di gereja malam ini, saya temenin. Kalau pun sudah nggak ada misa, saya temenin kamu sampai masuk.” Tapi, perempuan di ujung telepon itu hanya tertawa dan berkata, “Nanti deh, Mbak. Kapan-kapan saya ceritakan lagi. Ini sudah malam...” Telepon pun terputus.


Perempuan yang menelpon Mike itu seorang pedila, alias perempuan yang dilacurkan. Kepada Mike, pedila yang seorang Katolik itu menceritakan keengganannya beribadat di gereja. “Orang seperti saya apa pantas masuk ke gereja?” ujar Mike menirukannya. Perempuan itu mengaku, menjadi pedila setelah dijual suaminya.
Dengan suara bergetar, Mike yang kini aktif di Divisi Advokasi Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) menceritakan kisah ini. Mungkin kita cukup asing dengan istilah ‘pedila’. Istilah itu ia gunakan, untuk tak menyebut mereka dengan ‘pekerja seks komersil’ atau PSK. “Karena, tak ada seorang pun yang rela menjual tubuhnya,” tegas Mike.

Rasa takut
Begitulah Mike. Dunia pedila seolah sudah digariskan menjadi bagian dari hidupnya. Keterlibatan Mike di pendampingan kaum marjinal perempuan, seperti pedila, bermula di tahun 1997. Saat itu, ia mengikuti pelatihan analisis sosial yang diadakan Forum Studi Ansos (FORSAS) di kampusnya, Universitas Surabaya, Jawa Timur.
Awalnya, Mike ditugaskan melakukan pengamatan di Pasar Wonokromo, dan Pasar Keputran, Surabaya. Ia harus tinggal di pasar agar bisa mengamati keseharian para pedagang. Semula, ia dijadwalkan menjalani masa live-in selama satu bulan. Di luar dugaan, salah satu trainer dalam pelatihan, Yanuar Nugroho, memintanya mengobservasi lokalisasi di Wonokromo.

Belum genap sebulan, Mike dipindahtugaskan ke lokalisasi di perlintasan Kereta Api Stasiun Wonokromo, Surabaya. Terlintas di benaknya, berhenti mengikuti pelatihan, karena merasa tak mampu menjalaninya. Ia membayangkan akan bertemu dengan preman yang bisa mengancam keselamatannya. Belum lagi, ia harus mengalami ‘tabrakan’ nilai di dunia yang kerap dianggap ‘kotor’ itu.

Dengan berat hati, masa live-in ia jalani. Ia harus menerima risiko yang tak ringan dan mengiris hati, saat berada di tengah lokalisasi kelas bawah itu. Mulai dari menyaksikan proses transaksi hingga aktivitas prostitusi di bilik-bilik yang kumuh. Bahkan, ia pun sempat ‘ditawar’ beberapa pria. “Saya dikira pedila juga,” kisahnya disertai senyum.

Suatu hari, ia berkeluhkesah pada Pastor Edi Laksito Pr, pastor mahasiswa di Surabaya saat itu. Romo Nanglik, begitu Pastor Edi biasa disapa, berkata pada Mike, “Lebih menyenangkan, jika kita memasuki ketakutan itu, bukan malah menjauhi. Area ketakutan harus didatangi dan dicari. Sebenarnya, apakah benar-benar menakutkan atau hanya pikiran kita yang menakutkan?” Pesan itu terus mengiang di tambur telinga dan hatinya. Mike bertanya dalam hati, benarkah mereka menakutkan seperti yang ada dalam pikiran.

Seorang fasilitator asal Denmark juga terus menantang Mike, “Kenapa hanya begitu saja kamu nggak bisa? Kamu mau jadi orang muda seperti apa?” Sebuah cambukan semangat ia dapatkan lagi. Mike tertantang. Ia pun masuk ke area prostitusi. Di luar dugaan, Mike justru menikmati masa live-in itu. Ia dapat bergaul dengan para preman, waria, juga para pedila. “Ketakutan itu hanya ada pada pikiran,” ujarnya.

Mike bersyukur dapat melihat sisi kehidupan yang berbeda. Ia menemukan banyak pengetahuan yang membuatnya mampu menyatu dengan komunitas yang ia datangi. Terlebih, saat ia makin menyadari, bahwa kaum pedila memang dikondisikan agar tak bisa mengubah jalan hidupnya.

Lapisan bawang
Menurut Mike, ada banyak pihak terlibat di kancah prostitusi di Indonesia. Setelah bertahun-tahun menggeluti dunia ini, ia menyadari, selain mucikari, ada pihak lain, seperti aparat pemerintah mulai tingkat RT, petugas tramtib, keamanan, bahkan suami yang turut menguasai para pedila. “Ibarat lapisan bawang, mereka (para pedila) berada di lapisan paling pucuk. Selama ini kita berpikir bahwa pedila itu dikuasai para mucikari,” gugat Mike yang pada tahun 1997 pernah diciduk aparat keamanan karena berdemonstrasi anti-Soeharto bersama Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) di depan Gedung Grahadi Surabaya.

Istri Willybrodus Sulistyo Wardhono ini menambahkan, para perempuan itu memilih menjadi pedila, bukan karena senang atau sadar. Tapi, ada banyak aspek yang membuat mereka harus menjadi pedila. Dan sangat disesalkan, pemerintah sepertinya membiarkan prostitusi terus berjalan. “Kebijakan pemerintah selalu bersifat parsial. Ujung-ujungnya malah memarjinalkan pedila, sebagai ‘tersangka’ dalam penyebaran HIV/AIDS,” ungkap Mike yang pernah mengadvokasi para pedila di lokalisasi Dolly dan Kembang Kuning Surabaya.

Tersingkir
Mike pun mengaku pernah merasa tersingkir dari rekan-rekannya di Mudika, saat masih di Surabaya. Beberapa anggota Mudika mempertanyakan pilihan Mike mendampingi pedila. “Ngapain sih kerja kayak gitu? Kan berisiko,” kata Mike menyitir perkataan rekan-rekannya itu.

Mike tak menampik, penyakit menular seksual dapat berasal dari para pedila. Namun, ia juga mempertanyakan pada teman-temannya di Mudika, yang tak pernah menyalahkan orang-orang yang datang pada pedila. Seharusnya, mereka tahu bahwa berhubungan seks dengan berganti-ganti pasangan berisiko tertular HIV/AIDS.

Bahkan, seorang suster di Surabaya pun pernah mempertanyakan pilihannya. Mike yang notabene berlatarbelakang pendidikan psikologi, diminta suster itu memberi konseling bagi anggota Mudika di parokinya. Tapi, Mike menjawab lugas, “Untuk apa saya memberi konseling? Mereka hanya tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Tapi, ketika saya melihat orang-orang di luar sana, saya merasa, tak hanya persoalan konseling, tapi pikiran dan keimanan yang harus kita sumbangkan ke mereka. Buat apa memberi konseling pada mudika? Mereka sudah punya guru Bimbingan dan Penyuluhan (BP) di sekolah.” Jawaban yang tegas.

Sebagai seorang Katolik, Mike mengaku menimba inspirasi dari Yesus yang tak melakukan diskriminasi pada profesi yang dijalani umat-Nya. “Ajaran-ajaran Yesus sebenarnya mengandung banyak nilai-nilai hak asasi manusia,” tegas Mike.

Terpisah Jarak

Mike terbilang beruntung. Lantaran, memiliki pendamping hidup yang dapat memahami aktivitasnya. Saat ini ia dan suaminya, Willybrodus Sulistyo Wardhono, harus terpisah jarak. Sang suami tinggal dan bekerja di Surabaya, sementara ia tinggal di Jakarta. Padatnya aktivitas Mike, membuatnya hanya bisa bertandang ke Surabaya sekali sebulan. Ia dan suami berharap, dapat berkumpul di Jakarta tahun ini.
Mike mengaku, tak hanya mendapatkan pendamping hidup, tapi juga sahabat, partner, dan motivator yang amat setia memberinya masukan yang membangun. Barangkali, hal ini terjadi karena sebelum menggeluti pekerjaannya sekarang, suaminya juga seorang aktivis mahasiswa di Fakultas Teknik Manajemen Industri Universitas Surabaya. “Dulunya kami juga berteman, sama-sama aktif di Forum Studi Analisis Sosial,” kata Mike.

Franky Susanto a.k.a. F Pascaries

Dimuat di rubrik Eksponen Majalah Mingguan HIDUP, 22 Februari 2009

28 August 2009

Chappy Hakim, Dari Kokpit ke Blog

Ruangan di Airman Planet, Hotel Sultan itu saya sambangi. Bukan untuk kongkow-kongkow bareng teman-teman se-'gank', atau ngedate bareng cewek pujaan. Di hari pertama bulan Agustus 2009 itu, saya datang ke tempat itu untuk acara kopi darat kompasiana. Seorang purnawirawan marsekal, dengan lebih dari delapan ribu jam terbang, berpengalaman sekian tahun sebagai pilot pesawat kepresidenan, menorehkan prestasi membanggakan, menuliskan gagasan-gagasanya di blog kompasiana.com. Di bulan kemerdekaan ini, ia meluncurkan sebuah buku yang berisi sebagian tulisannya di blog itu, Cat Rambut Orang Yahudi. Ia adalah Chappy Hakim. Dari kokpit pesawat ia beranjak ke jagat maya dengan menjadi blogger. Tak heran, Museum Rekor Indonesia (MURI) mencatat Chappy Hakim sebagai “Bintang empat pertama (marsekal/jenderal) yang tulisan-tulisannya di blog (Kompasiana) diterbitkan menjadi buku”.


Si anak zaman
Banyak orang bilang, setiap zaman punya 'anaknya' masing-masing. Setiap generasi memiliki cara dan gaya masing-masing dalam mengungkapkan pemikiran, perasaan, atau apapun yang ada dalam hati dan pikirannya. Bangsa kita ini pernah memiliki seorang pejuang -mesti (sempat) ditepikan dari panggung sejarah- bernama Tan Malaka, yang terkenal tekun dalam menulis artikel, esai, bahkan naskah drama. Naskah dramanya, Merdeka 100%, bahkan sudah diterbitkan oleh Penerbit Marjin Kiri, dalam sebuah buku berwarna sampul merah darah. Soe Hok Gie, juga setali tiga uang. Sejumlah naskahnya sudah dibukukan. Sebut saja, Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan (hasil skripsi S-1-nya), Di Bawah Lentera Merah (hasil skripsi sarjana muda-nya), dan tentu saja Catatan Seorang Demonstran. Bahkan tahun 2005 Miles Production meluncurkan film Gie, yang sedikit banyak semakin mengangkat sosok ini ke dalam ruang publik.
Sekitar 40 tahun setelah Soe Hok Gie menulis CHSD di tahun 1960-an, lebih setengah abad tahun setelah Tan Malaka menuliskan pamflet-pamfletnya, di hari pertama bulan Agustus itu, Chappy Hakim bersama Penerbit Kompas menerbitkan kumpulan tulisan Sang Marsekal, hasil ngeblog kakek dari seorang cucu ini. Saya percaya, tulisan-tulisan CH sekian tahun ke depan, akan menjadi 'harta karun' yang amat berharga bagi bangsa ini. Ditulis oleh seorang dari kalangan militer, yang umumnya (terkesan) kaku, dengan bahasa yang lumayan renyah, buku Cat Rambut Orang Yahudi (CROY) sama sekali tidak terkesan 'seadanya'. Beginilah seharusnya sebuah buku atau tulisan dikemas di era moderen ini. Substansi tidak selayaknya menghamba pada tampilan. Sebaliknya, tampilan juga tidak selayaknya dikorbankan demi menarik pembaca, dengan mengabaikan substansi.

Pertemuan kompasianers Sabtu 1 Agustus 2009 lalu, membuat saya kembali tergairahkan untuk menulis. Saya harus mengangkat topi pada Chappy Hakim (CH). Di masa purnabaktinya, ia masih produktif merangkai kata menjadi kalimat, menata kalimat menjadi sejumlah paragraf, dan kemudian menjadikan paragraf demi paragraf itu tulisan yang bisa mengajak kita untuk berpikir, membuka wawasan, dan tidak jarang tergelitik bahkan tersentil. Bahkan, dua tulisan CH sudah menjadi buah bibir dan perdebatan di portal kompasiana, CROY (diposting 10 November 2008) dan Mengapa Orang Yahudi Banyak yang Pintar ?(diposting 5 Februari 2009). Satu hal yang (barangkali) tidak pernah diduga oleh penulisnya sendiri.

Beda era
Hari demi hari, saya meyakini bahwa menulis sejarah tidak melulu urusan para sejarawan. Setiap saat kita bisa menulis sejarah. Apa yang dilakukan kompasianers pun tak ubahnya adalah menulis sejarah. Bayangkan, taruhlah 20 tahun lagi, kita akan kembali membaca tulisan CH, dan kompasianers yang lain sambil mengingat-ingat dan membaca setiap postingan. Kita patut bersyukur, bisa menikmati satu hal yang tidak pernah dinikmati atau sekadar dibayangkan oleh Soe Hok Gie, Tan Malaka, Pramoedya Ananta Toer, Bung Karno, Bung Hatta, dan sejumlah tokoh-tokoh besar lain. Mereka menulis di atas kertas lusuh. Mereka menggoreskan tinta mereka dengan penuh ketekunan. Tidak jarang pula, mereka menuliskan gagasan mereka di tengah tekanan. Bahkan, ketika tulisan itu telah selesai mereka harus menyelundupkan naskah mereka, dari tangan orang-orang dekat mereka, agar tulisan itu bisa disebarluaskan. Bagaimana tidak, saya pernah mewawancarai imam Katolik, Pastor Stanislaus Sutopranoto Pr. Ia berkisah tentang suatu kejadian yang cukup membuat detak jantungnya berdegup kencang, saat tahun 1972 menyelundupkan transkrip Bumi Manusia dari Pulau Buru, karya Pramoedya Ananta Toer.
CH, Tan Malaka, Soe Hok Gie hidup di era berbeda. Sebelum dibukukan, tulisan-tulisan CH menjumpai pembacanya di dunia maya. Sementara, Tan Malaka, Soe Hok Gie menyebarkan naskah-naskah mereka lewat pamflet dan media massa di eranya. CH meluncurkan bukunya di sebuah cafe yang berada di sebuah hotel berbintang lima, tidak seperti Tan Malaka dan Soe Hok Gie. Begitulah. Tidak ada yang salah tentu. Mereka hidup di era yang berbeda.

Di halaman 180 buku CROY, dalam artikel berjudul Obama Meninggalkan NASA? CH menuliskan moto dari badan ruang angkasa milik pemerintah Amerika Serikat: For The Benefit of All. Saya percaya CH sudah memberikan apa yang dia bisa berikan untuk bangsa ini. Baik sebagai prajurit, komandan, penerbang, dan kini sebagai blogger. Tentu, bukan untuk dirinya, melainkan, for the benefit of all, dan dari kokpit ke blog.

Saya belajar dari Anda, Marsekal !

Photo by Edy Taslim

07 August 2009

Mengisi Lembaran Kelimapuluhenam

Hari ini setahun yang lalu di sebuah rumah di Tomang, Jakarta Barat. Sebotol anggur ‘diserbu’ oleh lima orang pria, yang sudah sekian jam mengadakan rapat. Sekitar pukul 12 tengah malam, lima gelas berisi anggur itu pun beradu. Bukan untuk bermabuk ria. Melainkan untuk berucap syukur, karena salah seorang di antara lima pria itu berhari jadi. Ia adalah Romo Johannes Hariyanto SJ, yang hari ini kembali merayakan hari kelahirannya, di tengah-tengah para Komjakers, yang “lagi lucu-lucunya”. Bukan hanya para fasilitator, seperti di hari jadinya tahun lalu


Tahun lalu, seingat saya, selain Romo Hari –begitu ia biasa disapa- ada Daniel Awigra, Felix Iwan Wijayanto, Lexy Rambadeta, dan saya sendiri yang berkumpul untuk rapat fasilitator Komjak. Selepas jam 12 malam, sekali lagi seingat saya, kami mengucapkan selamat, dan merayakan momen itu dengan sebotol anggur penghangat. Di rapat kali itulah, nama Kampus Orangmuda Jakarta (KOMJAK) tercetus. Dan, tahun ini, Romo Hari kembali mengenang peristiwa kelahirannya itu.

Pendampingan orangmuda sepertinya memang sudah menjadi jalan hidup Romo Hari, sejak ia masih menjalani pendidikan sebagai frater teologan di Kolese Santo Ignatius (Kolsani) Yogyakarta di awal tahun 1980-an. Suatu masa, di mana sebagian besar dari fasilitator dan komjakers, termasuk saya, masih harus belajar berjalan, atau bahkan belum ‘dirilis’ ke dunia ini. Dalam situasi yang berbeda, segenap proses pembelajaran yang coba diterapkan di Komjak ini, tak lain adalah buah-buah pembelajaran yang telah ia jalani lebih dari dua dasawarsa silam. Di suatu masa, ketika ia pun kerap mengalami kebingungan, kegundahan, kegelisahan, sebagai orangmuda.

Ia mengaku, proses pembelajaran di Komjak ini tidak murni lahir dari pemikirannya. “Bukan made in saya,” begitu ia mengistilahkan. Semua yang ia jalani terkait pendampingan kaum marjinal di Yogyakarta, dan juga yang coba diterapkan di Komjak sekarang ini, tak lain adalah bentuk adaptasi dari kuliah-kuliah teologi saat itu. Untuk semua itu, ia mengaku harus berterima kasih pada almarhum Romo Tom Jacobs SJ dan Romo Bernard Kieser SJ, dua seniornya di Serikat Jesus. “Dua orang itulah yang katakanlah menjadi sumber inspirasi saya,” kata Romo kepada saya dan Awi dalam sebuah obrolan di 23 Juni 2009 malam, di Wisma Agustinus, Tomang, Jakarta Barat.

Bola itu pun ditendang
Pertemuannya dengan Awi dalam sebuah acara di sebuah hotel di Jakarta 15 Februari 2008, menjadi sebuah titik berangkat. Awi, yang bersama jaringan masyarakat sipil saat itu tengah mengadvokasi kasus Ahmadiyah, lantas ia ‘todong’, untuk membuat sebuah kaderisasi untuk orangmuda Katolik. Awi yang terkadang sulit direm ketika sedang berkata-kata, sontak tergagap. Saat kekagetan dan keheranan Awi belum beringsut, Romo Hari malah menambahkan, “Kamu nggak usah mikir duitnya!” Romo Hari pun lantas pulang begitu saja, seolah tanpa rasa bersalah sedikitpun. Sebelumnya, Awi juga sudah tersentak saat Romo Hari berkata, target dari kaderisasi ini adalah “masuk parlemen!!!” Awi bertanya-tanya dalam hatinya, apa maksud dari semua ini? Jadilah tanggal 15 Februari 2008 itu, hari yang mengelisahkan untuk Awi. Bola itu pun mulai ditendang, dalam bahasa Romo Hari. Bola itu ditendang, tanpa Romo Hari bertanya terlebih dulu, “Awi, kamu sibuk apa sekarang?”

Komjak (sepertinya) adalah (salah) satu yang sudah menjadi keprihatinan dan kepedulian Romo Hari dua dasawarsa lalu. Tentu bukan Komjak dalam arti seperti sekarang ini, melainkan kaderisasi orangmuda Katolik yang serius. Pertemuannya dengan Awi, perkenalannya dengan Felix beberapa tahun lalu, perjumpaannya dengan semua fasilitator lain, dan berlanjut ke para Komjakers, seakan menjadi jawaban Tuhan atas keprihatinan dan kepeduliannya selama ini. Awi, biasanya mengistilahkan ini dengan “persentuhan”, yang dibaca secara terpisah” persen(an) dari Tuhan. Romo Hari menganggap, pertemuannya dengan Awi Februari tahun lalu itu adalah providentia Dei alias penyelenggaraan ilahi. “Karena, dalam hidup sesuatu yang sifatnya aksenden, sesuatu yang terputus, lepas-lepas, seolah-olah, bisa saja dilihat terkait satu sama lain,” ujarnya.

Pendidikan Ignasian a la Jesuit ia jalani. Sehingga tak heran, setiap proses pembelajaran yang coba diterapkan di Komjak ini diilhami oleh spirit sang prajurit (St.Ignatius Loyola, sebelum mendirikan Serikat Jesus adalah seorang prajurit). “Saya sendiri merasa, nggak perlu malu untuk mengatakan itu. Karena, ada pepatah Latin nemo dat quod non habet (orang tidak bisa memberi dari sesuatu yang tidak dimiliki),” katanya. Pengalamannya selama menjadi frater teologan dua dasawarsa silam di kota gudeg, Yogyakarta, coba dijalaninya dengan sejumlah adapatasi, agar bisa dijalankan dalam konteks yang berbeda secara sosial budaya, sosial ekonomi, dan entah apa lagi, di kota metropolis, Jakarta.

Sisi lain

Saya baru tahu, dan mungkin juga tak banyak orang tahu, bahwa Romo Hari bisa mengendarai sepeda motor. Di sela-sela kegiatan pelatihan public speaking Komjak di Wisma Training Pondok Labu, Jakarta Selatan, 21 Juni 2009 lalu, Felix tercekat. Bagaimana tidak, Romo Hari ingin meminjam motornya, untuk membeli beberapa keperluan bersama Victoria Sendy, “Menteri Keuangan” Komjak, yang bertubuh mungil itu, di Indomaret, sekitar 500 meter dari Wisma Training. “Bukan hanya Komjaker dan fasilitator. Mungkin dunia juga baru terbuka matanya, akan fakta bahwa Romo Hari bisa naek motor,” kata Felix dalam perbincangan melalui Yahoo Messenger siang ini. Sejumlah fasilitator yang ada di sana was-was, lantaran kondisi motor Felix, yang tidak terlalu mudah untuk dikendarai. Saya sendiri pernah membawa motor itu, dan merasakan deg-degan, karena stang motor itu sungguh tidak mudah dikendarai, kecuali oleh pemiliknya sendiri, yang tetap saja berani membawanya dengan kecepatan cukup tinggi.

Oya, di pelatihan public speaking itu, Romo Hari berlaku iseng. Saat seorang Komjaker tengah unjuk kebolehan dalam simulasi orasi dengan penuh semangat, tiba-tiba Romo Hari melempari sang orator dan “massa” dengan puluhan permen. Sekumpulan “massa” itu pun kontan bubar, dan lebih memilih untuk memunguti permen demi permen, ketimbang menyimak omongan sang orator. Belakangan, ia menjelaskan bahwa hal itu ada bagian simulasi dari “operasi kontra demo” yang ia refleksikan dari teori intelijen, bahwa baik orator maupun massa harus sama-sama menjaga konsentrasi. “Pas latihan orasi, itu oratornya semangat, massa juga. Oleh Romo Hari mereka dilempari permen, ‘massa’ bubar, sang oratorpun kehilangan konsentrasi,” ujar Felix.

Romo Hari, selamat memasuki lembar kelimapuluhenam dalam hidup ini. Selamat melanjutkan karya keselamatan di lembar yang masih baru ini. Lima puluh lima lembar yang lalu, sudah diisi dengan berbagai sukacita dan sukaduka. Keberhasilan, kegagalan, kegembiraan, kesedihan sudah membuncah di sana-sini. Kiranya, itu semualah yang membentuk Romo sampai saat ini.

Tak ada kado untuk diberi. Saya hanya memiliki kisah ini untuk dibagi. Dibagi, dengan harapan bisa menjadi bahan untuk direnungkan. Tidak hanya untuk Romo, melainkan juga untuk teman-teman lainnya di Komjak.
Tuhan memberkati kita semua… Amin


Suatu pagi 6 Agustus 2009, di Tirtayasa VII No.1, Kebayoran Baru.


Fransiskus Pascaries