22 April 2013
Media Massa dan Pembodohan Massal
20 April 2013
Wakil Rakyat, Beda Era Beda Motif
Sejak beberapa tahun belakangan, kalangan artis, atlet yang sudah mandul prestasi, ikut-ikutan terjun ke dunia itu. Mirisnya, bahkan seorang anak presiden yang baru-baru ini mundur dari Senayan, tanpa malu menyatakan niat untuk kembali maju dalam pertarungan perebutan kursi 2014.
Eddy Baskoro Yudhoyoo alias Ibas kembali menarik perhatian publik. Setelah terpergok wartawan hanya mengisi absen tanpa masuk ruang rapat, ia mengajukan pengunduran diri dari DPR. Dalihnya: konsentrasi di partai. Tapi tak lama berselang, sejumlah petinggi Partai Demokrat menyatakan ia akan maju kembali untuk memperebutkan suara dari Dapil Jawa Timur VII. Ia akan ‘diperalat’ Partai Demokrat untuk mengeruk suara di Kabupaten Pacitan, Kabupaten Ponorogo, Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Magetan, dan Kabupaten Ngawi. Setelah meninggalkan parlemen, yang artinya ia khianat atas mandat para pemilihnya, tanpa malu Partai Demokrat terang-terangan akan mengajukan dirinya untuk pemilu 2014.
"Mas Ibas sudah jelas jadi vote getter yang terbesar di daerahnya. Kalau dia maju akan mempermudah mekanisme sistem seperti ini untuk Demokrat mendapat suara terbanyak," begitu kata Ketua DPP Partai Demokrat Gede Pasek Suardika.
“Maju caleg untuk menyerap suara,” ujar anggota Dewan Pembina PD Ahmad Mubarok.
Menurut dia, jika nanti terpilih, Ibas akan langsung mundur. Perolehan suara Ibas nanti diberikan kepada caleg urutan selanjutnya. “Dia potensial menarik suara. Dia pada (Pemilu) 2009 suaranya tertinggi se-Indonesia,” imbuhnya. Entah apa yang ada di pikiran para petinggi Demokrat itu. Suara para pemilih dianggap sebagai angin lalu. Setiap lembar suara itu tak ubahnya sebuah pesan: “tolong perjuangkan nasib kami lewat Dewan.”
Itu cerita Ibas. Satu yang menarik saya temui dari ungkapan salah satu politisi muda Partai Demokrasi Indonesi Perjuangan (PDIP) Maruarar Sirait. Dalam sebuah acara, ia menceritakan bagaimana ia maju sebagai wakil rakyat di DPR RI, karena sanggup meraih simpati publik dari daerah pemilihan Subang, Majalengka, dan Sumedang yang 95 persen beragama Islam, dan tentu saja bersuku Sunda.
“Kalau orang Medan maju dari Medan, orang Papua maju dari Papu, saya rasa ini bukan Indonesia yang kita mau,” tegasnya.
***
Ingatan saya melayang kembali ke sebuah obrolan dengan salah satu petinggi Partai Komunis Indonesia. Oey Hay Djoen namanya. Tahun 2006 saya pernah menyambanginya di rumahnya yang sejuk di Cibubur, Jakarta Timur.
Oey yang dulu juga pegiat Lekra itu menyambut dengan ramah kedatangan saya. Keletihan yang terlihat di wajahnya seolah ia ingin sembunyikan dari saya. Bagaimana tidak letih? Saban hari ia berkutat dengan penerjemahan buku-buku asing bertema filsafat dan sejenisnya.
Salah satu pegiat Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang lalu menjadi elit Partai Komunis Indonesia, almarhum Oey Hay Djoen pernah bercerita, bagaimana tahun 1954 ia didatangi beberapa petinggi PKI untuk menjadi calon anggota DPR dan Konstituante dalam Pemilu 1955. Saat itu Oey bekerja sebagai Sekretaris Organisasi Perusahaan Sejenis. Ia menjadi Sekretaris Gabungan Perusahaan-Perusahaan Rokok tingkat nasional.
“Mereka minta apakah aku bersedia dicalonkan oleh PKI untuk masuk ke DPR dan Konstituante pada waktu itu,” kata Oey.
Ia sontak bingung, dan menganggap ajakan itu penting. Karena, pada waktu itu ia sama sekali bukan anggota partai palu arit itu. PKI meminta orang seperti Oey ini membuat program partai untuk pengusaha nasional, seniman, agar bisa memperjuangkannya di parlemen.
Tapi era sudah berganti. Menjadi anggota dewan sekarang, tak ubahnya profesi ‘basah’. Profesi itu bisa menghantarkan seseorang memasuki kelas sosial ekonomi yang lebih tinggi. Hakikat mereka sebagai wakil rakyat seperti dilantunkan Iwan Fals dalam lagunya sungguh makin jauh panggang dari api. Simak saja liriknya, “Wakil rakyat seharusnya merakyat...”
Saya ingin mengutip pidato Walikota New York Michael Bloomberg. “Political controversies come and go, but our values and our traditions endure.” Itu ia ucapkan menanggapi penolakan sebagian besar warganya atas pendirian masjid dan Islamic Cultural Centre kurang lebih satu blok dari tempat kejadian hancurnya WTC New York.
Begitulah (calon) anggota legislatif dari masa ke masa. Beda era, beda pula motifnya.
SBY, Twitter, dan Paradoks Komunikasi
Kancah twitter Indonesia memang sedang heboh, setelah orang yang nangkring di tampuk kekuasaan tertinggi di negri ini, ikut-ikutan berkicau di sana. Saban hari, situs berita mengulasnya. Ruang siar di radio-radio tanah air juga tak ketinggalan mengulasnya. Seperti dikutip banyak media, ada yang berkomentar nyinyir seperti, “Mending ngurus negara aja deh. Daripada twitteran mulu.” Tak sedikit yang minta difolbek, alias follow back.
Sebagai salah satu ikon populer di internet, twitter sungguh sarat dengan paradoks. Barangkali anda pernah mendengar ungkapan bahwa internet ini mendekatkan yang jauh sekaligus menjauhkan yang dekat. Sudah pemandangan yang jamak kalau kita naik bus kota, ada orang yang cengar-cengir sendiri sambil mengelus-elus ponselnya. Tapi di saat yang bersamaan, kita mengabaikan penumpang lain yang barangkali membutuhkan tempat duduk. Atau mungkin kita tak sadar, tangan jahil copet tengah beraksi.
Rupanya, presiden yang namanya Susilo Bambang Yudhoyono alias SBY juga terjangkit ‘endemi’ ini. Polahnya betul-betul paradoksal. Perhatikan cuitan pertamanya 13 April lalu: “Halo Indonesia. Saya bergabung ke dunia twitter untuk ikut berbagi sapa, pandangan dan inspirasi. Salam kenal. *SBY* ” Bapak dari Pacitan itu merasa yakin, bergabungnya ia ke twiter land bisa mendekatkan dirinya dengan masyarakat. Ia tak sadar, bahwa komunikasi via dunia maya hanyalah pelengkap dari komunikasi tradisional: tatap muka.
Tapi faktanya apa? Kegiatan blusukan yang ia lakukan hanya berusia jagung. Kesan seremonial nan kaku lebih kuat terasa, ketimbang suasana penuh kehangatan.
Kalau kita tengok ke belakang, di masanya dulu, para pegiat Lembaga Kebudayaan Rakyat alias Lekra sudah menjalankan itu dengan istilah turba alias turun ke bawah. Bukan secara sporadis. Bukan untuk semata pencitraan (walau harus kita sadari, tanpa pencitraan politik tak akan pernah ada) yang kadang memualkan. Ya, memualkan karena lebih mengedepankan polesan menor ketimbang substansi. Pada masanya, Lekra melakukannya secara sistematis. Seniman-seniman berbulan-bulan hidup di tengah masyarakat agar dapat menghasilkan karya seni yang betul-betul mengangkat denyut nadi kaum tertindas.
Kembali ke soal SBY dan mainan baru twitternya. Salah satu tujuan dari dibuatnya akun twitter itu adalah untuk mendekatkan diri dengan rakyat dan mendengar aspirasi secara langsung. Akun Twitter Presiden akan dikelola oleh tim. Namun, Presiden bisa nge-tweet sendiri jika ada informasi penting yang ingin disampaikan kepada publik. Itu saya kutip dari Kompas.com.
Saya barangkali hanya satu dari sekian banyak orang yang bertanya-tanya, kenapa (baru) di ujung masa pemerintahannya SBY nongol di twitter. Kalau mau mendekatkan diri, kenapa baru sekarang? Lagipula, apa iya selama ini SBY dan jajarannya kekurangan media untuk berkomunikasi dengan rakyat? Seharusnya, bapak mertua Anisa Pohan ini tak usah was-was, karena apapun yang ia lakukan pasti akan jadi bahan liputan. Cucunya lahir diliput. Ia terserang flu diliput. Pamer hobi memasak diliput. Semua bisa diliput tanpa ia harus repot-repot mengerahkan media. Ia tak seperti seorang teman saya yang selalu cemberut, kalau acara yang ia gelar hanya diliput segelintir wartawan.
Anehnya lagi, kalau SBY benar mau menangkap aspirasi masyarakat, kenapa ia sangat selektif dalam mem-follow akun twitter orang lain? Para wartawan kepresidenanpun harus diundi untuk dapat ‘keberuntungan’ di-follow menantu Sarwo Edhie Wibowo ini. Apakah dengan mem-follow para artis ia merasa bisa menangkap aspirasi masyarakat?
Paradoks itu benar-benar terasa baunya.
09 January 2013
Editor
Naskah itu dilahirkan dari tangan seorang yang bekerja sebagai sekretaris Sinclair Lewis penerima hadiah nobel sastra tahun 1930. Hersey juga pernah menggondol hadiah Pulitzer tahun 1944 lewat novel A Bell for Adano. Jadi sebelumnya naskah ini terbit, reputasi Hersey juga sudah cukup mentereng.
Ceritanya, akhir tahun 1945 Hersey mendapat tugas dari majalah The New Yorker dan Life untuk meliput situasi perang dunia kedua di Tiongkok dan Jepang. Kita tahu Hiroshima pada tanggal 7 Agustus 1945 dibom sekutu. Sebelumnya, redaktur pelaksana The New Yorker William Shawn menawarkan sepuluh ide kerangka tulisan. Shawn awalnya ingin reporter Joel Sayre untuk meliput kota Cologne di Jerman Barat yang kena bom maut. Tapi, perang Eropa kelar duluan, dan ada peristiwa maha dahsyat di Hiroshima. Hal itu membuat Cologne tampak kecil. Shawn mau Hersey menulis soal bom dari sudut pandang korban.
Hersey pun berangkat ke Jepang melalui daratan Cina. Tanah di mana pada tanggal 17 Juni 1904 ia dilahirkan dari pasangan misionaris Roscoe dan Grace Baird Hersey. Tepatnya di kota Tientsin.
Sebenarnya Hersey belum membayangkan akan seperti apa naskah yang harus dia tulis. Tapi novel The Bridges of San Luis Rey karya Thornton Wilder terbitan tahun 1927 yang ia baca sepanjang perjalanan laut dari Tiongkok ke Jepang, ternyata menjadi inspirasi buatnya. Novel itu berkisah tentang bencana alam di Peru pada abad kedelapanbelas. Hersey secara kreatif meniru gaya Wilder, yang menceritakan peristiwa dari pandangan lima tokoh. Singkatnya, Hersey lantas mempunyai gambaran seperti apa naskah tentang bom atom yang dijatuhkan di kota Hiroshima itu bakal ia tulis kelak.
Selama tiga pekan di Hiroshima, Hersey mewawancara sekitar 40 orang, termasuk akademisi, ahli dan warga sipil. Ada enam tokoh utama dalam kisah itu: Toshiko Sasaki (klerk), Hatsuyo Nakamura (penjahit), Masakuzu Fujii (dokter), Wilhelm Kleinsorge (imam Yesuit), Terufumi Sasaki (apoteker) dan Kiyoshi Tanimoto (pendeta). Sekembalinya ke Amerika 12 Juni 1946, enam pekan Hersey bekerja keras menulis naskah itu.
Setelah dikerjakan Hersey, naskah itu ditangani William Shawn dan Harold W Ross pemimpin redaksinya. Duet editor itu mengedit naskah 30 ribu kata karya Hersey. Sepuluh hari mereka berdua tak beranjak dari ruang kerja yang terkunci. Hanya petugas kebersihan yang di jam-jam tertentu diperbolehkan masuk untuk membersihkan ruangan itu.
Saya pernah kecewa berat karena liputan saya di salah satu majalah ibu kota dibabat tanpa ampun oleh editornya. Dengan alasan sensitivitas, pertimbangan-pertimbangan yang saya ajukan begitu saja diabaikan. Tak ada keseimbangan dalam naskah itu, karena perspektif salah satu (dari dua) pihak yang saya wawancara tidak ditampilkan. Meski kecewa, saya ikhlaskan saja naskah itu terbit.
Sebelum membaca kisah bagaimana naskah Hiroshima ini direncanakan, diliput, ditulis, diedit hingga akhirnya diterbitkan, saya selalu berpandangan bahwa editor adalah tugas yang begitu sakral. Kata-katanya tak ubahnya sabda yang harus dipatuhi penulis atau wartawan yang meliputnya. Tapi, peristiwa editing Hiroshima mengajarkan saya, bahwa perlu ada hubungan saling mengerti antara penulis dan editornya. Editor tidak bisa semena-mena membabat atau sebaliknya menambahkan kata. Perlu ada proses dialog yang kuat, karena bisa jadi antara kedua pihak ada jurang pemaknaan yang berbeda.
Coba Anda perhatikan catatan yang dibuat Ross untuk Hersey, khususnya untuk bagian kedua:
Saya masih tidak puas dengan judul serial ini. Saya pikir ada lubang besar dalam cerita ini. Mungkin itu memang maksud Hersey. Jika iya, tanyakan usul yang saya ajukan. Secara keseluruhan, saya menduga-duga apa yang menyebabkan orang-orang ini terbunuh, luka bakar, tertimpa puing-puing, gegar otak? Setahun sudah saya menduga tentang hal ini dan saya berharap cerita ini akan memberitahukan saya. Ternyata tidak. Hampir seratus ribu orang terbunuh, tapi Hersey tak memberi tahu bagaimana mereka terbunuh. ... Pada suatu tempat, di cetak percobaan 14, seorang wanita dengan luka yang tak terlihat, mati. Apakah banyak mayat di hari itu yang lukanya tak terlihat. Bagaimana mayat-mayat yang bergelimpangan di trotoar saat orang-orang Katolik pindah –berapa proporsi dari mereka yang tak terlihat. Saya pikir memasukkan sedikit hal itu ke dalam cerita, sesegera mungkin, merupakan ide bagus –kecuali, sebagaimana saya katakan, bertentangan dari rencana dasar Hersey.
Satu hal lagi, saya pikir dia seharusnya menyebutkan muntah-muntah. Dia tak menyebutkannya sampai cetak percobaan 13, yang akan jadi kejutan besar bagi pembaca bahwa secara umum para pesakitan muntah.... Saya mengusulkan (saya membuat ini seperti dalam sisipan di catatan setelah menyelesaikan notasi) bahwa Hersey sebaiknya menyelipkan waktu –cantumkan jam dan menitnya, setepatnya atau perkiraan, dari waktu ke waktu. Pembaca kehilangan seluruh kesadaran akan berlalunya waktu di dalam alur cerita dan takkan pernah tahu pukul berapakah saat itu; apakah 10 pagi atau 4 sore. ..
Di catatan itu jelas terlihat, Ross dan Shawn tidak memposisikan diri mereka sebagai ‘diktator’ yang tanpa kompromi mengedit naskah. Mereka berdua boleh berada dalam posisi atasan Hersey. Mereka pun berhak mengedit, atau bahkan menolak naskah itu sekiranya memang tak layak muat. Tapi, untuk mengedit sebuah naskah tentu diperlukan kejelasan maksud dari sang penulis, yang telah berpeluh menggali informasi di lapangan. Kalau editor, yang notabene kerjanya hanya di balik meja, mengedit tanpa mempertimbangkan maksud si penulis, pengaburan makna bisa sangat mungkin terjadi.
Untuk naskah itu, John Hersey pertama-tama mendapatkan sebanyak 47 komentar dari duet editor kondang itu. Di tahap kedua, berkurang menjadi 27 komentar, dan enam komentar setelah revisi kedua.
Sekitar sepekan sebelum terbit, Shawn itu ingin agar naskah itu diterbitkan dalam satu edisi. Tidak bersambung dalam empat edisi seperti yang direncanakan penulisnya. Tapi, menerbitkan satu naskah dalam satu edisi sama sekali belum pernah dilakukan The New Yorker sejak terbit perdana pada 21 Februari 1925. Tapi, akhirnya duet editor itu sepakat, naskah yang awalnya diberi judul Some Events at Hiroshima itu diturunkan dalam satu edisi. Pada 31 Agustus 1946 The New Yorker menerbitkan naskah itu dengan judul yang hanya terdiri dari satu kata: Hiroshima.
Naskah itu mendapat respon luas. Banyak orang membahas laporan fenomenal itu. Radio American Broadcasting Company dan British Broadcasting Corporation (BBC) Inggris membacakannya tanpa iklan. Sejumlah koran dan majalah mengangkatnya dalam tajuk rencana.
Majalah yang dicetak ludes terjual. Albert Einstein penemu teori relativitas berniat untuk membeli seribu eksemplar untuk ia bagi ke sejumlah kerabatnya, tapi ia gigit jari. Maestro fisika itu tak kebagian, selain satu eksemplar yang ia dapatkan secara berlangganan.
Dalam dua hari harga terbitan bekasnya melonjak dari $15 sen ke angka $18 di pelelangan. Naik 120 kali lipat. Jadi, kalau misalnya sekarang harga majalah tempo Rp. 29.700 ia melonjak ke angka Rp.3.564.000!
Naskah bersejarah itu tak mungkin hadir tanpa seorang peliput yang tangguh. Kita juga tak mungkin tahu seperti apa peristiwa tragis itu persisnya, tanpa ada dua editor handal yang memeriksa ejaan, diksi, kejelasan, logika, dan sederet hal lain yang perlu diperhatikan oleh penulisnya. Artinya, perlu saling mengenal antara editor dan penulisnya.
Menurut Ross, seperti ditulis Andreas Harsono dalam blognya, menjadi editor berarti menjadi anonim, memainkan peran Pygmalion. Peran tersembunyi. Tak terdengar dan tak terlihat. Tapi, sekali lagi, naskah sehebat Hiroshima tak mungkin lahir kalau hanya ditangani editor abal-abal.
Soal editor ini, kita juga bisa belajar dari sosok guru jurnalisme Bill Kovach. Setelah 18 tahun bekerja untuk New York Times, pada tahun 1986 Kovach hijrah dari The New York Times ke harian Atlanta Journal-Constitution. Hanya dalam waktu dua tahun pengabdiannya di harian itu, Kovach berhasil menjadikan dua naskah yang ia edit menyabet Pulitzer. Penghargaan pertama untuk Atlanta Journal-Constitution dalam dua dekade. Artinya, sekali lagi, peran editor dalam penerbitan sebuah naskah memang sangat vital.
Saat pemilu legislatif dan pemilihan presiden tahun 2009, saya kebagian job sebagai editor tamu untuk Komunitas Indonesia untuk Demokrasi (KID) yang berbasis di Jakarta. Lembaga yang berkantor di tak jauh dari terminal Blok M Jakarta Selatan itu bekerjasama dengan Netherlands Institute for Multiparty Democray (NIMD) dan European Centre for Conflict Prevention (ECCP) yang berbasis di The Hague, Belanda. Saat itu saya ditugasi untuk mengkoordinir dua jurnalis warga di Malang, Jawa Timur; seorang di Musi Banyuasin Sumatera Selatan; dan di Lembata, Flores Timur.
Ketika masa pemilu legistlatif, setiap hari mereka mengirim satu dua naskah hasil liputan via email, yang kemudian saya edit dan terjemahkan di Jakarta, dan diterbitkan secara bilingual di situs NIMD. Ada versi Bahasa Indonesia dan juga versi Bahasa Inggris. Saya merasa banyak belajar dari pekerjaan itu, termasuk saat bekerjasama dengan personil NIMD, Maarten van den Berg. Kami berkomunikasi intensif via internet nyaris tiap hari.
Saat ini saya sedang dalam proses persiapan menulis buku tentang warga Indonesia yang menjadi penyintas di Timor Leste tahun 1999. Awal Januari ini saya baru menemui seorang pensiunan Radio Republik Indonesia Dili yang menjadi saksi mata, saat radio pemerintah mengakhiri siaran di Bumi Lorosae. Semoga saja saya menemukan editor seperti William Shawn dan Harold W Ross, yang tidak sekadar pintar, tapi juga tangguh dan super teliti.
Antara Pecundang dan Petarung
Ketika meninggal, Alexander telah menaklukkan sejumlah wilayah di dunia. Sebut saja: Anatolia, Suriah, Punisia, Yudea, Gaza, Mesir, Baktria, dan Mesopotamia. Bahkan kekaisarannya juga merambah Punjabi nun jauh di India. Negeri leluhurnya Shah Rukh Khan itu.
Sebelum ajal menjemput, Alexander bahkan sudah merencanakan ekspansi militer dan perdagangan ke jazirah Arab, Kartago, Romawi dan Semenanjung Iberia. Tapi, sayang sekali, suksesornya yang bernama Diadokhoi tak bisa menjalankan itu. Bahkan beberapa tahun setelah Alexander wafat, kekaisarannya terpecah-belah menjadi beberapa kerajaan.
Alexander mungkin murka di alam kuburnya...
Ada beberapa pertempuran yang melibatkan Alexander. Sebut saja: Pertempuran Granikos (334 Sebelum Masehi), Pengepungan Miletos (334 SM), Pengepungan Halikarnassos (334 SM), Pertempuran Issos (333 SM), Pengepungan Tyre (332 SM), Pengepungan Gaza (332 SM), Pertempuran Gaugamela (331 SM), Pertempuran Gerbang Persia (330 SM), Pertempuran Sungai Hydaspes (326 SM).
Pertempuran Gaugamela tak ayal menjadi ajang paling fenomenal dan prestisius yang bisa dicatat dunia. Ajang itu menjadi bukti kehebatan seorang Alexander Agung. Bagaimana tidak? Saat itu Persia dipimpin Raja Darius III, dan dianggap sebagai negara yang punya pasukan perang terbaik di dunia. Tapi Alexander dan pasukannya menang!
Singkat cerita, tibalah Alexander bersama 36.000 personil tempurnya di sebuah selat bernama Dardanelles. Di wilayah itulah Persia punya basis kekuatan cukup solid. Dari sisi jumlah, Alexander dan pasukannya kalah jauh. Nama besar Raja Darius III dan pasukannya sempat membuat ciut nyali anak buah Alexander.
Tapi apa yang diperintahkan Alexander pada anak buahnya? Ia perintahkan mereka untuk menghancurkan kapal yang membawa mereka dari Makedonia. Ia berkata, “Kita pulang dengan kapal Persia, atau kita akan mati!!!”
Ada sejumlah hal menarik untuk kita cermati di sini. Pertama, peran seorang pemimpin. Kepemimpinan yang kuat bisa jadi merupakan 60 persen kekuatan sebuah organisasi atau tim. Tak peduli seberapa kecil atau besar skalanya. Kalau ketegasan, kewibawaan, kecerdasan dan keberanian mengambil risiko bisa dipadukan dalam diri seorang pemimpin, anda bayangkan sendiri manfaatnya.
Kedua, kapasitas personil. Pemimpin yang baik hanya akan terlihat tajinya jika ia didukung orang-orang yang handal. Bukan personil abal-abal. Dalam kasus Alexander terlihat, selain karena faktor kepemimpinan yang kuat, prajurit terlatih turut menjadi determinan yang tak bisa dikesampingkan dalam menaklukkan Persia.
Ketiga, percaya diri. Tak ada gunanya kapasitas personal tanpa adanya rasa percaya diri. Ada baiknya kita bisa mengingat kata seorang filsuf:
“Ada orang yang tahu di tahunya; ada orang yang tahu di tidak tahunya; ada orang yang tidak tahu di tahunya; dan ada orang yang tidak tahu di tidak tahunya.”
Percaya diri adalah sikap yang tercermin dari mereka “yang tahu di tahunya” dan “yang tahu di tidak tahunya.” Artinya, orang itu mengetahui apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan dirinya, sehingga bisa secara proporsional mengambil sikap: tidak minder sekaligus tidak terlalu percaya diri. Hanya komandan perang dengan rasa percaya diri yang berani menyerang Persia saat itu. Dan menang!
Keempat, point of no return. Apa yang bakal kita pikirkan, kalau kita berada dalam posisi prajurit anak buah Alexander saat itu, yang mendengar sang panglima berseru, “Kita pulang dengan kapal Persia, atau kita akan mati!!!” Orang bermental pengecut akan langsung ngacir, sedangkan para petarung justru akan bertarung habis-habisan supaya bisa kembali pulang dengan kapal-kapal Persia dan menemui keluarga di kampung halaman.
Kelima, wariskanlah nilai. Kehancuran Makedonia salah satunya disebabkan oleh pembangkangan Diadokhoi atas rencana-rencana yang sudah disusun Alexander. Bisa dibilang, inilah salah satu kegagalan mencolok yang bisa kita kritisi dari seorang panglima perang termasyhur dalam sejarah. Ia gagal mewariskan nilai pada orang yang ia pimpin dan menjadi suksesornya. Seorang pakar manajemen boleh bilang “change is the only evidence of life”, tapi perubahan pada tataran nilai hanya akan membawa perjalanan sebuah tim menjauh dari cita-cita awalnya.
Kisah itu sudah berlalu lebih dari 2300 tahun. Tapi pelajaran yang kita bisa timba tetaplah ada.
Tahun baru sudah datang. Seperti yang sudah-sudah. Dua belas bulan penuh tantangan kembali membentang di hadapan kita. Apakah kita akan bertarung habis-habisan atau menjadi pengecut yang akan ngacir begitu tantangan datang? Pilihan ada di tangan kita.
Selamat Tahun Baru ... Foto: wikipedia
28 October 2012
Pertengkaran (tidak) Substansial
Seperti ditulis Greg Soetomo SJ, dkk dalam buku Semangat Lebih Yesuit: From Good to Great, terbitan OBOR tahun 2009, van Lith dan Hoevenaars diutus untuk memulai karya misi di antara orang Jawa pada awal abad kesembilanbelas.
Sejarah kemudian mencatat, terjadi 'ledakan' jumlah personil gerejani -imam, suster,maupun bruder- di negeri Belanda antara tahun 1900-1940. Banyak di antara mereka yang kemudian diutus ke Hindia Belanda, yang kemudian menjadi Indonesia.
Hoevenaars dan van Lith memiliki beberapa kesamaan. Keduanya cerdas. Sama-sama bersemangat besar, juga tidak kenal lelah dalam berkarya. Namun, beberapa perbedaan cara pandang di antara keduanya ternyata berbuntut panjang dalam perjalanan karya misi di Indonesia. Pastor van Lith berpandangan, seorang misionaris yang berada di tanah Jawa harus menjadi sebagaimana layaknya orang Jawa. Sementara Hoevenaars berpendirian, sebaiknya para misionaris bertindak sebagaimana layaknya seorang bapa-pendidik. Seiring perjalanan waktu, van Lith melakukan eksperimen dengan menerjemahkan doa Bapa Kami dan doa-doa lain ke dalam Bahasa Jawa. Guna mendalami Bahasa Jawa, van Lith mempelajari berbagai kamus, paramasastra, terjemahan kitab suci, dsb. Untuk itu, van Lith sering kongkow-kongkow dengan petani dan pamong praja. Lebih dari 30 kali ia mondar-mandir ke Yogyakarta dan Solo untuk menemui beberapa bangsawan Jawa. Itu semua dilakukan van Lith, untuk memperdalam pandangan masyarakat Jawa tentang Sang Pencipta.
Di titik itulah mulai tampak perbedaan yang melekat antara van Lith dan Hoevenaars muda. Keduanya punya pandangan yang berbeda tentang penggunaan Bahasa Jawa krama inggil. Hoevenaars berpandangan, penggunaan krama inggil sebagi wujud mentalitas budak belian. Sementara, van Lith berkeyakinan, penggunaan krama inggil sama sekali tidak meniadakan hubungan cinta kasih dan kepercayaan antara orangtua dengan anak, pada keluarga dan masyarakat Jawa. “Saya hidup di tengah-tengah orang Jawa. Saya merasa dan berpikir seperti mereka,” kata van Lith.
Perbedaan mulai terlihat ketika Vikaris Apostolik Jakarta Mgr.Edmundus S Luypen SJ memerintahkan kedua imam muda itu untuk membuat memorandum. Mereka ia perintahkan menuliskan ide-ide masing-masing mengenai masa depan misi Jawa, sarana yang harus digunakan, juga metode yang harus digunakan. Luypen tak ingin, perbedaan antara kedua londo muda itu merusak misi yang baru seumur jagung. Hoevenaars mencetuskan program-program pendidikan dan sosial ekonomi. Ia yakin, di Mendut dan sekitarnya, juga mungkin kelak di tempat lain, harus dibangun sekolah-sekolah desa dan beberapa unit ekonomi yang dapat menolong umat Katolik. Sementara van Lith yakin, metode Hoevenaars itu hanya akan berhasil di beberapa tempat. Karena, jumlah misionaris tidak akan pernah cukup untuk melayani umat Katolik di seluruh Jawa.
Menurut van Lith, yang pertama harus dilakukan adalah menggembleng kaum elit dalam masarakat Jawa seperti guru, pamong praja, imam, dokter. Tak penting untuk menunjuk, manakah di antara kedua imam londo itu yang lebih unggul. Satu hal yang perlu kita ambil maknanya adalah mereka sama-sama berjuang untuk mewujudkan karya mereka.
***
Hari Sumpah Pemuda kembali kita peringati beberapa hari ini. Banyak cara dilakukan anak bangsa ini untuk mengenang. Ada yang menggelar diskusi, upacara, bedah buku, dan macam-macam. Dalam sebuah tulisan di Indo Progress, Wilson Obrigado mengakhiri reportasenya mengenai diskusi bersama Tariq Ali di Restoran Tjikini 17, pada 12 Oktober 2011 lalu, demikian: "Di negeri ini, kebanyakan aktivis lebih suka mengambil jalan pintas, masuk ke dalam partai mainstream dengan ilusi membuat perubahan dari dalam."
Saya percaya, Wilson tak sendiri. Ada banyak aktivis lain yang enggan masuk ke parpol berpandangan sinis seperti Wilson. Perubahan dari dalam yang tengah diupayakan oleh mantan aktivis seperti Budiman Sudjatmiko, Rieke Diah Pitaloka, Agung Putri, dsb mereka pandang sebagai ilusi. Sementara di seberang Wilson, politisi PDI Perjuangan seperti Budiman dan Rieke memandang, jalur partai politik menjadi penting untuk merintis perubahan. Rieke, teman separtai Budiman, bahkan sedang digadang-gadang untuk maju sebagai Gubernur Jawa Barat oleh PDI Perjuangan.
Saya percaya, seperti Wilson, Budiman punya kubu sendiri-sendiri. Terlepas dari aspek moral, masing-masing punya jalan yang diyakin tepat untuk ditempuh, katakanlah, untuk Indonesia yang lebih baik. Dikotomi 'di luar' ataukah 'di dalam' parlemen sebenarnya bukan baru kali ini terjadi. Kalau kita menyimak sejarah negeri ini, kita akan ingat bahwa dikotomi itu bukan barang baru. Pada masanya, tahun 1966, almarhum Soe Hok Gie dan Arief Budiman kakaknya, juga pernah memilih jalan yang berbeda dari rekan-rekannya mereka seperti Cosmas Batubara dan Akbar Tanjung.
Sejarah mencatat, perbedaan pilihan itu punya jalannya masing-masing. Cosmas dan Akbar menjadi politisi, sementara Arief Budiman menjadi intelektual yang berpandangan kritis pada zaman orde lama yang ia turut jungkalkan, maupun orde baru. Rekan-rekannya yang sebelumnya berpeluh di jalan raya, berdemonstrasi menuntut mundurnya Presiden Soekarno, kemudian masuk parlemen. Sementara Gie tewas menghirup gas beracun di Semeru. Tapi, sampai kapan kita akan terus-menerus terjerembab dalam diskusi, yang jika tidak disikapi secara kritis akan berujung pada debat kusir ini?
Sebaiknya, sebagai angkatan muda di negeri ini kita tidak terus-menerus bertengkar dalam dikotomi itu. Alangkah baiknya, orang muda di republik ini menjalani pilihannya masing-masing. Menjalani apapun itu dengan penuh dedikasi, dan menjunjung tinggi nilai universal: anti-korupsi, menjunjung tinggi HAM, kemanusiaan, anti-kekerasan, mengedepankan intelektualitas, dsb.
Saat menghadapi perbedaan antara van Lith dan Hooevenaars, Luypen bersikap amat bijak. Ia tak ingin, perbedaan antara kedua orang muda itu merusak misi yang baru seumur jagung. Sekarang, apakah kita mau terus-menerus bertengkar? Apakah kita sadar bahwa pertengkaran yang tidak substansial bisa merusak impian kita dalam sebuah nasion bernama Indonesia ini? Foto: Wikipedia
25 July 2011
Perempuan Pintar dan Berani
Tidak sulit-sulit amat mencari perempuan pintar di negeri ini. Dari ujung barat ke timur Indonesia, mulai dari belahan utara hingga belahan selatannya, ada saja perempuan pintar yang menjadi dosen, peneliti, dan cerdik cendekia. Tapi, perempuan satu ini begitu berbeda dengan yang lain. Satu pembedanya, ia tak hanya pintar. Ia juga berani!
Ia adalah Siti Musdah Mulia. Pada 20 Juli 2011 lalu ia hadir dalam acara diskusi di kantor Pantau di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, untuk mengisi salah satu sesi angkatan kami. Cukup ramai kantor Pantau malam itu. Terang saja, ada sekitar 20 orang dari beberapa angkatan di Pantau yang turut hadir.
Musdah penulis produktif, meski mengaku tak pernah belajar menulis. Buktinya, sudah 30 buku yang ia tulis. Termasuk yang baru terbit, Muslimah Sejati. Itu belum termasuk artikel-artikel yang sudah ia tulis di media massa.
“Tulisan itu lebih tajam daripada pedang. Yang penting, jangan sekadar menulis, tapi ada misinya,” kata Musdah.
Saya cukup sering membaca sepak-terjang perempuan kelahiran Bone, Sulawesi Selatan, 3 Maret 1958 ini. Ia kerap membela kalangan minoritas di Indonesia. Kaum homoseksual, Ahmadiyah, umat nasrani, dan minoritas lainnya tahu persis bagaimana Musdah menjadi salah satu aktivis yang berani membela mereka. Nyaris tak ada gagasan baru yang saya dengar dari Musdah. Artinya, memang ia konsisten dan tekun dengan perjuangannya selama ini.
Musdah juga kerap berteriak soal kesetaraan gender. Ia pun lantang bercuap tentang peran pemerintah yang lebih sering diam, saat melihat ketidakadilan merebak di mana-mana. Satu yang baru saya dengar, ia ternyata juga punya sikap kritis pada militer. Ia mensinyalir, ada militerisme dan keyakinan yang berpadu dalam setiap aksi terorisme di Indonesia. Entahlah. Mungkin juga karena saya tidak mengenalnya dari dekat.
“Perhatikan saja peluru dan bom di banyak peristiwa bom di sini,”kata Musdah yang juga Ketua Umum Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP).
Nyalinya juga boleh diacungi jempol. Tak jarang ia menerima ancaman via telpon dan pesan singkat melalui telepon genggam. Tapi, Musdah tak mundur.
Apa yang Musdah perjuangkan selama ini mungkin tak pernah terbayang di masa belianya di Bone, Sulawesi Selatan. Meski sempat menempuh pendidikan dasar di Surabaya, Jawa Timur hingga tahun 1969, ia lahir dan menjalani sebagian besar masa mudanya di sana.
Musdah dilahirkan dan dibesarkan di keluarga Muslim Bugis tradisional. Sekian waktu ia menempuh pendidikan pesantren, yang menurut Musdah ‘aneh’. Selama di kelas, santriwan dan santriwati berada di satu kelas yang sama, namun dalam sisi yang berbeda, yang disekat kain. Selama di kelas, ia sama sekali tak pernah bisa melihat wajah guru laki-laki, karena sang guru hanya berada di depan murid laki-laki. Musdah dan santriwati lainnya hanya bisa mendengar suaranya.
“Saya suka curi-curi, mengintip ustad, dia tidak pernah menatap saya. Kok bisa ya? Tidak memperhatikan perempuan saat ngajar, tapi bisa punya istri empat,” imbuh Musdah yang disambut tawa peserta diskusi.
Anehnya lagi, kata Musdah, di luar kelas santriwati dan santriwan bergaul dengan wajar.
“Sejak kecil saya itu belajar agama. Di pesantren saya juga membaca kitab-kitab kuning. Saya orang Nahdhlatul Ulama (NU). Kakek saya hanya mengijinkan kuliah sastra Arab, ketika hendak kuliah. Tapi itu blessing in disguise,” ujar peraih penghargaan Yap Thiam Hien tahun 2008 itu.
Ya … Blessing in disguise. Ia katakan itu mengacu pada sesuatu yang agak tidak disukainya pada awal di awal masa kuliah: belajar Agama Islam dan bahasa Arab di Jurusan Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Alaudin, Makassar, Sulawesi Selatan.
Pemikirannya yang moderat atau bahkan cenderung liberal itu tidak lahir dalam sehari dua hari. Itu semua dibentuk dari pergulatannya dengan banyak pemikiran, setelah ia hijrah dari kampung halamannya ke Jakarta.
Tapi, keterpaksaan itu ternyata punya jalannya sendiri. Dengan mempelajari agama Islam dan bahasa Arab, ia membuka diri pada pemikiran banyak ahli Islam. Dari yang liberal hingga yang konservatif. Dari ahli lokal hingga pakar asing. Ia mengaku fasih berbahasa Arab, sehingga memahami betul makna setiap ayat yang tertulis dalam Alquran dan Hadits.
Suatu ketika, ia pernah terlibat dalam sebuah acara diskusi dengan Ustad Abubakar Ba'asyir, yang kita tahu amat gandrung dengan ide penegakkan Syariat Islam.
"Musdah, satu-satunya cara membangun Indonesia adalah meninggalkan sekularisme, melepaskan diri dari Pancasila, dan kembali ke dasar Islam, " kata si Ustad.
"Islam yang seperti apa?" Musdah menanggapi dengan pertanyaan.
“Malaysia?” – bukan.
“Saudi Arabia?” – bukan.
“Pakistan?” – bukan.
"Kita masih pikirkan, tapi bukan itu,” ujar si Ustad.
“Kok masih mikir? Lebih baik yang sudah ada saja kita perbaiki,” sanggah Musdah. Dengan berani.
Tujuh pekan sebelumnya, tanggal 1 Juni 2011, saya datang terlambat pada sesi pertama Kelas Narasi Pantau angkatan XI. Dengan tergesa saya tiba di kelas, yang dimentori Andreas Harsono. Normalnya, kelas dimulai pukul tujuh hingga sembilan malam. Tapi malam itu kelas mulur hingga setengah jam.
Hanya sekitar 40 menit saya berada di kelas yang cukup ramai dengan tanya jawab itu. Saya masih terengah, dan butuh beberapa menit untuk mengatur napas, setelah menaiki anak tangga di sana. Tapi di tengah keletihan, ada satu kalimat Andreas yang begitu lekat di otak saya sejak malam itu, “Untuk menulis kita perlu tahu dan berani.” Kalimat itu juga ada dalam salah satu tulisannya di blog, yang kemudian diterbitkan dalam antologi berjudul ‘A9ama’ Saya Adalah Jurnalisme.
Musdah perempuan pintar. Ia juga berani. Ia memang berbeda.
Foto: Kompas Images08 July 2011
Terus Melaju, Meski Pernah Ditipu
Pria bernama Abdul Kadir ini menjalankan bisnis yang dirintis oleh ayahnya, Almarhum Haji Muhayat, sebelum Abdul dilahirkan. Bisnis kos-kosan ia rintis sekitar empat tahun lalu guna menambah pedapatan. Lima kamar kos yang ia sewakan itu letaknya berpunggung-punggungan dengan rumahnya. Sejak Desember 2010 lalu, saya menghuni salah satu kamar itu.
Kami duduk berbincang sambil duduk di lantai, sembari ia mengecek dan memasukkan empat pasang baju dan celana, bersama dengan sabuk berukuran 70 atau 80 centimeter, ke dalam tiap kemasan plastik. Ia menyuguhkan segelas kopi hitam pekat buat saya.
Dua meter dari tempat kami mengobrol, seorang pekerja berusia sekitar 20 tahun tengah menempelkan kancing ke ratusan baju yang ada di situ. Tangan kanannya menggenggam alat berbentuk huruf L, yang terhubung dengan listrik. Dari alat itu cairan lilin panas disemprotkan ke tengah kancing. Tiga kancing untuk tiap baju, dan dua kancing untuk celana. Jadi, kancing itu tidak dijahit, melainkan direkatkan dengan lem yang dihasilkan dari lilin panas.
Pria muda itu adalah satu dari sekitar 15 karyawan Abdul dalam menjalankan bisnis rumahan ini. Kalau sedang banyak permintaan, bisa 30 hingga 40 karyawan yang ia pekerjakan. Ada yang bertugas menjahit. Ada yang mengobras. Ada yang mengurusi pola. Juga ada tiga orang gadis yang menangani urusan finishing. Mereka ia rekrut dari daerah-daerah di Jawa Barat seperti Sukabumi, Cianjur, Bandung dan Bogor. Beberapa karyawannya berasal dari kota di Jawa Tengah seperti Wonosobo. Mereka bekerja enam hari dalam seminggu. Senin hingga Sabtu. Jam 12 siang hingga jam 12 tengah malam, diiringi musik yang cukup nyaring terdengar.
Dalam sehari semalam, Abdul rata-rata bisa menghasilkan 300 potong baju anak-anak. Perhitungannya, kalau dari 15 orang pekerja, masing-masing bisa menghasilkan 20 potong, maka 300 potong pakaian anak siap ia kumpulkan.
Sekali dalam sepekan, Abdul mengirimkan baju-baju itu ke seorang rekan bisnisnya yang berjualan di Pasar Mester Jatinegara, Jakarta Timur. Ia juga memiliki rekan kerja yang ia sebut “Loper” di Bandung, Jawa Barat.
“Jadi, ngambil barang, tar dia yang nyebar gitu. Seminggu sekali dia ngambil ke mari. Tar dia punya anak buah, dia sebar ke toko-toko di Bandung.”
Anak ketujuh dari 11 bersaudara tersebut tampak tekun menjalani bisnis konveksi ini, meski mengaku tidak mendapat wasiat khusus dari mendiang ayahnya. Perjalanan yang ia tempuh tak selalu mulus. Ia bahkan pernah ditipu orang.
“Ya itu, waktu giro jebol. Nah tuh orang kabur. Hahahaha. Ada orang Makassar, orang Palembang. Orang-orang daerah gitu dah,” kata Abdul mengisahkan kisah tragis pada tahun 1998 itu sembari tertawa lebar.
Sejauh yang saya kenal, ia termasuk tipe orang yang easy going. Ceria. Doyan tertawa lebar. Di Facebook pun ia suka bikin status yang kocak. Ia mengaku enggan menulis status Facebook yang berat-berat. Sesekali, ia pun menanggapi dengan kocak status Facebook saya.
Peristiwa penipuan itu terjadi sekitar tahun 1998. Duit ratusan juta yang ia investasikan, melayang terbang bersama seorang pebisnis konveksi dari Makassar, Sulawesi Selatan. Ia mengaku, itu terjadi karena tidak ada surat perjanjian atau apapun yang secara hukum mengikat.
“Ya sistemnya kepercayaan sih ya?” tambah Abdul.
Cerita itu setali tiga uang dengan dua penipuan lain, yang ia alami saat berbisnis dengan dua orang berbeda dari Palembang, Sumatera Selatan.
Abdul hanya menjawab enteng, ketika saya tanyakan harapan atau cita-citanya. “Nggak muluk-muluk cita-cita saya sih. Mbantu pemerintah aja, buat lapangan kerja. Gitu aja deh,” kata Abdul dengan logat Betawi yang kental.
Ia tampak rileks menjalani hari-harinya. Meski tentu bukan perkara mudah menjalankan bisnis di era ketika modal usaha tak bisa mudah diraih di negeri ini.
Seorang ilmuwan asal Peru Hernando de Soto pernah menulis dalam buku Mystery of Capital, bahwa ia percaya betul pada peran kapital sebagai penggerak ekonomi. Dalam buku itu, ia mengutip Adam Smith dan Karl Marx, yang sama- sama percaya bahwa kapital merupakan mesin penggerak ekonomi yang paling penting.
Abdul Kadir telah berhasil menggerakkan ekonomi dalam porsi yang ia mampu. Dan, seandainya Hernando de Sotto ada bersama kami malam itu, ia pasti mengacungkan dua jempolnya untuk Abdul Kadir.
09 May 2011
25 Tahun Lalu (25 April 1986 – 25 April 2011)
Ditulis oleh Mgr. Carlos Filipe Ximenes Belo SDB
Dialihbahasakan oleh Fransiskus Pascaries
Catatan penterjemah:
Naskah asli karangan ini ditulis dalam Bahasa Tetun, dan diterbitkan 25 April 2011 lalu di blog Jano Buti, selain juga diterbitkan di beberap blog lain. Setelah mendapat izin dari penulisnya, saya mengalihbahasakan karangan ini dengan harapan agar publik di Indonesia bisa sedikit memahami peristiwa yang terjadi di Timor Leste seperempat abad silam itu, dalam kaitannya dengan gerakan perlawanan Timor Leste terhadap pendudukan militer Indonesia di sana. Tak lama sebelum naskah ini ditulis, saya juga sudah menerbitkan tulisan berjudul Mas Gus dan Cinta yang Tak Saling Memiliki di blog ini. Tulisan itu mencatat kunjungan Xanana Gusmão ke Universitas Indonesia, sebagai Perdana Menteri Timor Leste pada tanggal 22 Maret 2011 lalu untuk menyampaikan kuliah umum bertajuk “Timor Leste’s State Building Experiences Within Regional & Global Context”.
Catatan kaki saya buat di sini dengan maksud untuk secara sekilas memberi konteks ikhwal ruang, waktu dan pribadi-pribadi yang menjadi tokoh dalam kisah ini.
Semoga bermanfaat...
=====
Hari ini tanggal 25 April tahun 2011. Hari kemerdekaan bagi negeri Portugal. Pada tahun itu, Timor Lorosae masih diduduki oleh tentara Indonesia. Pada tahun 1986, tanggal 25 April, di Kolese Banewaga (Fatumaka)1 kami bertemu dengan Komandan Falintil Kay Rala Xanana Gusmão.
Sesuai permintaan Nunsius Apostolik (Dubes Vatikan untuk Republik Indonesia - penterjemah), Mgr. Fransesco Canalini, kami mengirimkan sebuah surat, melalui Pastor Eligio Locatelli 2, ke hutan, agar sekiranya bisa, untuk bertemu dengan Komandan Falintil Xanana Gusmão. Setelah mendapat jawaban positif, kami bersama Pastor José António da Costa, Sekretaris dan Kanselor Dioses Dili, berangkat ke Baucau, agar pada malam itu juga, bisa berbincang dengan Xanana Gusmão.
Kami tiba di Kolese pukul enam petang. Malam, pukul delapan, setelah berdoa bersama dengan para murid, saya dengan Pastor José beranjak menuju kamar masing-masing. Sementara para murid berjalan ke dormitori. Setelah mematikan generator Pastor Locatelli menunggu di beranda, sementara Diakon Baltazar 3 berjalan mengelilingi rumah. Menjelang pukul sebelas malam, Pastor Locatelli mengetuk pintu kamar kami sambil berbisik bahwa Komandan tak lama lagi akan tiba. Pastor José dan saya, berjalan menuju ruang tamu menunggu Komandan. Di ruangan itu, kami menyalakan lilin sambil menunggu tamu itu. Tak lama kemudian, dari arah kebun muncullah seseorang. Mengenakan tutup muka dan sepatu boot, dan mengenakan baret. Pastor Locatelli pun membawa tamu itu ke dalam rumah. Ketika masuk ke dalam rumah kami saling menyapa dengan berjabat tangan biasa saja. Tetapi Komandan dan Pastor José berpelukan dengan sangat eratnya. Sementara Pastor Locatelli berdiri menunggu di beranda.
Setelah duduk, saya menyampaikan bahwa kami amat senang bisa bertemu dengan Komandan. Kami pun menyampaikan salam dari Nunsius. Kemudian, kami menyampaikan beberapa hal berikut ini:
1) Nunsius mengirimkan pesan untuk disampaikan kepada Sang Komandan, kalau ia atau ada gerilyawan sekiranya berpikir untuk bepergian ke luar negeri, Gereja bisa menjadi perantara, untuk bisa membantu.
2) Kami tidak datang ke sini untuk meminta Komandan untuk menyerahkan diri, tetapi, kalau bisa, meminta agar perjuangan perlawanan mengubah “strategi perjuangan” nya. Kami mengatakan, dengan “perjuangan militer” anda tidak akan menang, karenanya mungkin bisa memulailah dengan sebuah perjuangan baru, yaitu perjuangan diplomasi.
3) Kami juga meminta pada Komandan agar para gerilyawannya jangan membakar rumah dan barang-barang milik masyarakat.
Komandan duduk terdiam. Sambil berpikir lama dan serius. Kemudian, barulah ia berbicara panjang, untuk menjelaskan “filosofi” daripada Perjuangan dan Perlawanan. Akhirnya Komandan berkata,
“Kami gerilyawan tidak akan keluar negeri, ini negeri kami. Walaupun kami akan mati dan terkikis habis, kami tak akan menyerahkan diri, juga tak akan pergi ke luar negeri. Kami siap untuk mati berdiri seperti tetumbuhan.”
Menjelang malam terbelah, kami berpisah. Pastor Locatelli menemani Komandan menurun menuju ke arah perkebunan dan kembali ke tempat (persembunyiannya). Kami pun kembali ke kamar.
Pada pagi harinya kami langsung kembali ke Dili. Di Kolese Fatumaka, tak ada seorangpun yang mendengar tentang pertemuan ini. Para tentara di Baucau pun tak ada yang tahu!
Setelah sepekan berlalu, Pastor Locatelli bertandang ke Lecidere4, dan bercerita bahwa, seorang pekerja memberikan laporan demikian, “Tadi pagi kami melihat jejak kaki di perkebunan; tadi malam, sepertinya ada orang yang memakai sepatu boot, lewat di sini...”
Ini adalah pertemuan kami dengan Komandan Kay Rala Xanana Gusmão dua puluh lima tahun lalu!
Porto, Portugal, 25 April 2011.
----
1 - Fatumaka adalah sebuah dusun yang terletak di Kecamatan Baucau, dan berjarak sekitar 17km dari ibukota Kabupaten Baucau. Kota Baucau sendiri 130 km arah timur kota Dili. Fatumaka terkenal dengan Sekolah Teknik Menengah (STM) dan Seminari Menengah Atas (setingkat SLTA) yang dikelola oleh kongregasi Salesian. Areanya amat luas, saya tak tahu persisnya. Selain bangunan sekolah untuk SMA dan STM, ruang komputer dan laboratorium IPA yang terhitung maju di masanya, berhektar-hektar lahan yang ditanami jagung dan lain-lain. Ada pula Gua Bunda Maria yang menjadi tujuan wisata rohani umat dari berbagai daerah di Baucau, atau mungkin juga daerah-daerah lain, terutama pada bulan devosi Maria: Mei & Oktober. Umat Katolik di negeri itu memang terkenal kuat menjalani ritus-ritus devosi.
2- Pastor Eligio Locatelli adalah imam salesian asal Italia yang telah berpuluh tahun berkarya di Timor Leste. Sejak dulu sampai sekarang ia menjadi pembimbing di komunitas salesian Fatumaka. Konon, karena kedekatannya dengan para aktivis gerakan pro-kemerdekaan Timor Leste, ia kerap dimata-matai pihak keamanan Indonesia.
3- Baltazar Pires saat itu adalah diakon salesian yang berkarya di Fatumaka
4- Lecidere adalah kawasan tempat kediaman Uskup Diosis Dili. Terletak di bagian timur Kota Dili.

