Sang Sopir Merayakan Natal
Namanya Muis. Usianya 29 tahun.Tubuhnya kurus. Pria asli betawi ini kebingungan, lantaran tak kunjung mendapatkan biaya untuk pulang kampung halaman sang istri di tanah Batak sana. Sehari-hari ia bekerja sebagai sopir untuk sebuah perusahaan minuman asal Peru, yang tengah merintis bisnis di Indonesia, dengan membuka pabrik di kawasan Lippo Cikarang. Gaji sebesar Rp.1,5 juta yang ia terima setiap bulan, selalu tak cukup untuk menghidupi istri dan seorang anaknya yang berusia dua tahun. Sejak sebulan sebelum natal, ia mengaku kebingungan, karena belum mendapat biaya untuk pulang ke kampung istrinya di bumi Andalas. Ia berencana untuk menyewa mobil bersama istri dan dua keluarga lain dari istrinya, untuk mudik.
Sehari-hari, Muis bertugas untuk mengantarkan sang Presiden Direktur asal Peru, yang ditemani seorang penerjemah bahasa Spanyol, untuk menemui relasi bisnis, konsultan bisnis di kawasan Rasuna Said Kuningan, pengelola kawasan industri di Cikarang, mengantar-jemput tamu yang datang dari luar negeri di bandara Soekarno-Hatta, dan sebagainya. Setiap pagi, dari rumahnya tak jauh dari kawasan industri Lippo Cikarang, ia biasanya berjalan kaki selama sekitar 45-60 menit menuju perumahan Meadow Green, tak jauh dari Mal Lippo Cikarang, untuk menjemput sang bos. Biasanya ia tiba di rumah sang bos sekitar pukul delapan pagi, dan menggedor-gedor pintu sang majikan, yang kemudian membukakan pintu dalam kondisi terkantuk-kantuk. Jika amat lelah di malam sebelumnya, terkadang setelah setengah jam menggedor-gedor, barulah pintu rumah itu dibuka. Muis pun kemudian memanaskan mesin mobil, bila perlu mencucinya. Keduanya lebih kerap berbahasa 'tarzan' alias isyarat, karena sang bos tak mahir berbahasa Inggris, apalagi bahasa Indonesia, sementara Muis yang pernah bekerja sebagai sopir bis antar kota Sinar Jaya ini hanya bisa berbahasa Indonesia.
Kepada si penerjemah Muis pernah meminta masukan, bagaimana caranya bisa mendapatkan pinjaman uang sebesar tiga hingga empat juta rupiah. Ia mengaku mengenal seorang rentenir yang bisa meminjamkannya uang, namun bunganya sungguh mencekik leher: 50 persen! Hati sang penerjemah merasa trenyuh, tapi tak bisa berbuat banyak, kecuali mengatakan, “Jangan ke rentenir deh. Setengah mati lu mbayarnya nanti.”
Namun akhirnya kebingungan Muis berakhir. Awal Desember ini seorang manajer di kantornya berbaik hati. Muis berhasil mendapatkan pinjaman tanpa bunga sebesar Rp.3 juta. Mereka sepakat, pengembalian akan dilakukan mulai bulan Januari, di mana Muis akan mencicil sebanyak empat kali, masing-masing sebesar Rp. 750 ribu. Muis amat bersyukur, karena kebaikan hati sang manajer itu. Pekan lalu Muis berangkat ke Tanah Batak, untuk menemui keluarga besar istrinya, karena praktis tak ada yang bisa dikerjakannya di kantor, karena si bos juga tengah menghabiskan libur natalnya di Peru.
Muis juga sudah berusaha 'melobi' seorang pemilik usaha rental mobil di Lippo Cikarang, yang juga menyewakan mobil yang biasa Muis kendarai tiap hari. Tujuannya agar ia bisa mendapat harga 'damai' alias lebih murah. Alhasil, tarif Rp. 5 juta per 30 hari harus ia tanggung bersama dua keluarga lain dari pihak istrinya. Dari jumlah itu, Muis 'hanya' membayar Rp.1 juta rupiah. Namun di luar biaya itu, ia juga harus memikirkan biaya makan selama perjalanan, dan juga meninggalkan sedikit uang untuk beberapa keponakannya di sana.
Kepada si penerjemah Muis mengaku, sebenarnya ia tak ingin memaksakan pulang ke kampung halaman istrinya di tanah Batak kalau tak ada dana segar. Ia hanya tak tahan dengan sikap istrinya yang kerap mengeluh dan marah, ketika Muis membahas kemungkinan bahwa mereka tak bisa pulang kampung, karena ketiadaan biaya. Ia juga khawatir, ia akan dijauhi oleh keluarga istrinya karena tak bisa pulang kampung di masa natal ini. Ia mengaku tak bisa berbuat banyak, selain berusaha mencari pinjaman ke sana ke mari, untuk memenuhi keinginan sang istri dan tetap menjaga ikatan keluarga dengan keluarga besar di Sumatera. Seringkali, rasa penat dan tertekan atas sikap istrinya itu terbawa-bawa ke pekerjaannya. Ia kerap memaki sopir angkot yang berhenti seenaknya di tikungan tanpa memberi lampu sen. Kalau sudah begitu, pasti sang penerjemah akan membentaknya sambil berkata, ”“Hey, gue tau lu ada masalah di rumah. Tapi gak gini caranya! Kalau mobil kenapa-napa, lu juga yang repot ntar!”
Sekarang, ia tengah bersenang-senang bersama keluarganya di sana, sambil membayangkan bahwa ia harus mulai mencicil pembayaran pinjaman uangnya di bulan Januari 2010. “Sekarang gue seneng dapet pinjeman duit, tapi Januari ntar baru puyeng gue,” katanya sambil tersenyum kecut, setelah mendapat pinjaman tanpa bunga itu.
Beginilah cara Muis merayakan natal. Pasti masih banyak orang seperti Muis yang harus menguras kantong, bahkan mencari pinjaman uang ke sana ke mari, untuk pulang kampung, baik di masa natal ataupun di masa idul fitri. Bagaimana Anda merayakan natal tahun ini? Bagaimanapun, marilah kita bersyukur.
Salam Damai Natal....
0 komentar:
Post a Comment