25 July 2011

Perempuan Pintar dan Berani

Tidak sulit-sulit amat mencari perempuan pintar di negeri ini. Dari ujung barat ke timur Indonesia, mulai dari belahan utara hingga belahan selatannya, ada saja perempuan pintar yang menjadi dosen, peneliti, dan cerdik cendekia. Tapi, perempuan satu ini begitu berbeda dengan yang lain. Satu pembedanya, ia tak hanya pintar. Ia juga berani!



Ia adalah Siti Musdah Mulia. Pada 20 Juli 2011 lalu ia hadir dalam acara diskusi di kantor Pantau di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, untuk mengisi salah satu sesi angkatan kami. Cukup ramai kantor Pantau malam itu. Terang saja, ada sekitar 20 orang dari beberapa angkatan di Pantau yang turut hadir.

Musdah penulis produktif, meski mengaku tak pernah belajar menulis. Buktinya, sudah 30 buku yang ia tulis. Termasuk yang baru terbit, Muslimah Sejati. Itu belum termasuk artikel-artikel yang sudah ia tulis di media massa.

“Tulisan itu lebih tajam daripada pedang. Yang penting, jangan sekadar menulis, tapi ada misinya,” kata Musdah.

Saya cukup sering membaca sepak-terjang perempuan kelahiran Bone, Sulawesi Selatan, 3 Maret 1958 ini. Ia kerap membela kalangan minoritas di Indonesia. Kaum homoseksual, Ahmadiyah, umat nasrani, dan minoritas lainnya tahu persis bagaimana Musdah menjadi salah satu aktivis yang berani membela mereka. Nyaris tak ada gagasan baru yang saya dengar dari Musdah. Artinya, memang ia konsisten dan tekun dengan perjuangannya selama ini.

Musdah juga kerap berteriak soal kesetaraan gender. Ia pun lantang bercuap tentang peran pemerintah yang lebih sering diam, saat melihat ketidakadilan merebak di mana-mana. Satu yang baru saya dengar, ia ternyata juga punya sikap kritis pada militer. Ia mensinyalir, ada militerisme dan keyakinan yang berpadu dalam setiap aksi terorisme di Indonesia. Entahlah. Mungkin juga karena saya tidak mengenalnya dari dekat.

“Perhatikan saja peluru dan bom di banyak peristiwa bom di sini,”kata Musdah yang juga Ketua Umum Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP).

Nyalinya juga boleh diacungi jempol. Tak jarang ia menerima ancaman via telpon dan pesan singkat melalui telepon genggam. Tapi, Musdah tak mundur.

Apa yang Musdah perjuangkan selama ini mungkin tak pernah terbayang di masa belianya di Bone, Sulawesi Selatan. Meski sempat menempuh pendidikan dasar di Surabaya, Jawa Timur hingga tahun 1969, ia lahir dan menjalani sebagian besar masa mudanya di sana.

Musdah dilahirkan dan dibesarkan di keluarga Muslim Bugis tradisional. Sekian waktu ia menempuh pendidikan pesantren, yang menurut Musdah ‘aneh’. Selama di kelas, santriwan dan santriwati berada di satu kelas yang sama, namun dalam sisi yang berbeda, yang disekat kain. Selama di kelas, ia sama sekali tak pernah bisa melihat wajah guru laki-laki, karena sang guru hanya berada di depan murid laki-laki. Musdah dan santriwati lainnya hanya bisa mendengar suaranya.

“Saya suka curi-curi, mengintip ustad, dia tidak pernah menatap saya. Kok bisa ya? Tidak memperhatikan perempuan saat ngajar, tapi bisa punya istri empat,” imbuh Musdah yang disambut tawa peserta diskusi.

Anehnya lagi, kata Musdah, di luar kelas santriwati dan santriwan bergaul dengan wajar.

“Sejak kecil saya itu belajar agama. Di pesantren saya juga membaca kitab-kitab kuning. Saya orang Nahdhlatul Ulama (NU). Kakek saya hanya mengijinkan kuliah sastra Arab, ketika hendak kuliah. Tapi itu blessing in disguise,” ujar peraih penghargaan Yap Thiam Hien tahun 2008 itu.

Ya … Blessing in disguise. Ia katakan itu mengacu pada sesuatu yang agak tidak disukainya pada awal di awal masa kuliah: belajar Agama Islam dan bahasa Arab di Jurusan Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Alaudin, Makassar, Sulawesi Selatan.

Pemikirannya yang moderat atau bahkan cenderung liberal itu tidak lahir dalam sehari dua hari. Itu semua dibentuk dari pergulatannya dengan banyak pemikiran, setelah ia hijrah dari kampung halamannya ke Jakarta.

Tapi, keterpaksaan itu ternyata punya jalannya sendiri. Dengan mempelajari agama Islam dan bahasa Arab, ia membuka diri pada pemikiran banyak ahli Islam. Dari yang liberal hingga yang konservatif. Dari ahli lokal hingga pakar asing. Ia mengaku fasih berbahasa Arab, sehingga memahami betul makna setiap ayat yang tertulis dalam Alquran dan Hadits.

Suatu ketika, ia pernah terlibat dalam sebuah acara diskusi dengan Ustad Abubakar Ba'asyir, yang kita tahu amat gandrung dengan ide penegakkan Syariat Islam.

"Musdah, satu-satunya cara membangun Indonesia adalah meninggalkan sekularisme, melepaskan diri dari Pancasila, dan kembali ke dasar Islam, " kata si Ustad.

"Islam yang seperti apa?" Musdah menanggapi dengan pertanyaan.

“Malaysia?” – bukan.

“Saudi Arabia?” – bukan.

“Pakistan?” – bukan.

"Kita masih pikirkan, tapi bukan itu,” ujar si Ustad.

Kok masih mikir? Lebih baik yang sudah ada saja kita perbaiki,” sanggah Musdah. Dengan berani.

Tujuh pekan sebelumnya, tanggal 1 Juni 2011, saya datang terlambat pada sesi pertama Kelas Narasi Pantau angkatan XI. Dengan tergesa saya tiba di kelas, yang dimentori Andreas Harsono. Normalnya, kelas dimulai pukul tujuh hingga sembilan malam. Tapi malam itu kelas mulur hingga setengah jam.

Hanya sekitar 40 menit saya berada di kelas yang cukup ramai dengan tanya jawab itu. Saya masih terengah, dan butuh beberapa menit untuk mengatur napas, setelah menaiki anak tangga di sana. Tapi di tengah keletihan, ada satu kalimat Andreas yang begitu lekat di otak saya sejak malam itu, “Untuk menulis kita perlu tahu dan berani.” Kalimat itu juga ada dalam salah satu tulisannya di blog, yang kemudian diterbitkan dalam antologi berjudul ‘A9ama’ Saya Adalah Jurnalisme.

Musdah perempuan pintar. Ia juga berani. Ia memang berbeda.

Foto: Kompas Images

No comments:

Fransiskus Pascaries