05 August 2009

Tak Ada Si Doel di Ragunan

Arak-arakan itu benar-benar mengganggu lalu-lintas. Menurut Traffic Management Centre (TMC) Ditlantas Polda Metro Jaya, ada sekitar 15 ribu anggota dan simpatisan FBR diperkirakan yang terjun dalam arak-arakan itu. Mereka datang dengan menggunakan sepeda motor dan Metro Mini. Kemacetan terparah terjadi, ketika bus Transjakarta harus mengalah, demi gerombolan massa FBR yang memenuhi semua sisi jalan. Bahkan, mereka tidak segan-segan menggunakan sisi jalan untuk kendaraan dari arah Ragunan. Beginikah cara mereka menunjukkan eksistensi?


Sepasang kaki ini terasa pegal. Bagaimana tidak, dari halte busway Kuningan Timur –tidak jauh dari Hotel Gran Melia– saya harus berdiri sampai pemberhentian akhir di Kebon Binatang Ragunan. Jarak belasan kilometer itu harus saya tempuh selama lebih kurang 60 menit. Dari Halte Mampang, bus yang saya tumpangi berangkat pukul 11.18, dan turun sebelum Halte Ragunan jam 12.14. Meski itu pertama kalinya saya naik bus Transjakarta jurusan Halimun-Ragunan, saya berani bertaruh paling lama jarak itu bisa ditempuh dalam waktu lebih cepat. Bagaimana tidak, ratusan pengguna jalan –sekurangnya dari Kuningan– harus mengalah pada arak-arakan anggota dan simpatisan Forum Betawi Rempug (FBR) yang menuju ke Kebun Binatang Ragunan. Mereka menuju ke sana, untuk menghadiri Milad ke-8 FBR, sekaligus peringatan 100 hari wafatnya KH Fadloli El Muhir, pendiri FBR. Arak-arakan itu benar-benar mengganggu lalu-lintas. Menurut Traffic Management Centre (TMC) Ditlantas Polda Metro Jaya, ada sekitar 15 ribu anggota dan simpatisan FBR diperkirakan yang terjun dalam arak-arakan itu. Mereka datang dengan menggunakan sepeda motor dan Metro Mini. Kemacetan terparah terjadi, ketika bus Transjakarta harus mengalah, demi gerombolan massa FBR yang memenuhi semua sisi jalan. Bahkan, mereka tidak segan-segan menggunakan sisi jalan untuk kendaraan dari arah Ragunan. Beginikah cara mereka menunjukkan eksistensi?

Di Minggu 2 Agustus lalu itu, berkali-kali, ponsel saya bergetar. Artinya, berkali-kali pula saya harus merogoh saku celana untuk membaca dan mengirim pesan pendek dari beberapa teman, di antara himpitan para penumpang bus transjakarta yang lain. Dua dari delapan teman yang rencananya akan bersenang-senang di Kebon Binatang Ragunan telah tiba di sana. Saya membalas pesan-pesan pendek mereka seraya menggerutu. Menggerutu, karena rencana untuk tiba di Ragunan sekitar jam 11 siang harus tertunda, lantaran pawai kendaraan FBR itu.

Ngomong-ngomong soal orang Betawi, saya tidak bisa memalingkan pikiran saya dari sosok Si Doel, yang sempat kondang diperankan aktor Rano Karno di layar kaca. Sosok Si Doel yang diperankan Rano sungguh santun. Ia sungguh menghargai tetangga dan kerabatnya. Tentu, saya tidak perlu panjang lebar menceritakan bagaimana keluarga Si Doel menjalin relasi dengan Mas Karyo, Pak Bendot, dan tokoh-tokoh lain dalam sinetron itu. Meski digambarkan sebagai sosok yang santun, Si Doel juga bisa bersikap tegas. Silahkan mengingat-ingat lagi sinetron itu.

Tetapi, apa lacur. Kemarin saya justru menyaksikan dengan sepasang mata sendiri, sekitar 15 ribu orang yang mengaku orang Betawi, namun melakukan hal yang bertolak belakang dengan apa yang coba diperankan oleh Rano Karno, yang sekarang jadi Wakil Bupati Tangerang itu, di sinetron. Tentu kita tahu, ini bukan pertama kalinya FBR melakukan aksi seperti ini. Mereka juga bukan satu-satunya ormas di republik ini, khususnya di Jakarta, yang doyan unjuk kekuatan massa dengan cara seperti ini.

Di sepanjang jalan, terutama selepas perempatan Departemen Pertanian, terlihat jelas betapa massa FBR ini betul-betul melumpuhkan lalu-lintas. Satu badan jalan ternyata tidak cukup untuk mereka. Mereka akhirnya juga harus memaksa pengguna kendaraan dari arah Ragunan mengalah, dan memberikan jalan itu untuk mereka. Sejumlah kendaraan pribadi dan angkutan umum harus menyingkir, demi massa FBR itu. Dan kami, penumpang Bus Transjakarta juga harus mengalah, dengan turun sekitar 100 meter menjelang halte terakhir, Ragunan.

Bang Doel, di mana engkau berada hari Minggu lalu? Mengapa kau tak ada di Ragunan?
Dalam hati, saya teringat kembali syair lagu ini…

Anak betawi, ketinggalan zaman..katenye!
Anak betawi, gak berbudaye...katenye!
Aduh, sialan!! Nih si Doel anak betawi asli.
Kerjaannye sembahyang mengaji
Tapi jangan bikin die...sakit hati..
Bikin perih sekali..hey!! orang bisa mati...


No comments:

Fransiskus Pascaries