31 December 2010

Riedl dan Klinsmann


Usai sudah pagelaran yang menyedot atensi publik sedemikian luasnya. Takluk dengan agregat 2 - 4 di tangan tim negeri jiran Malaysia, kita harus puas menjadi nomer dua di ajang Piala AFF 2010. Namun, terlepas dari hasil buruk di leg 1 di Stadion Bukit Jalil, saya rasa kita harus angkat topi pada semangat juang dan juga permainan ofensif yang disuguhkan para anak buah Alfred Riedl selama kejuaraan berlangsung. Sebuah tim yang dilatih seorang berkarakter kuat yang enggan diintervensi oleh siapapun dalam hal-hal teknis permainan. Melihat sosoknya, saya jadi teringat pada Jürgen Klinsmann. Kalau anda penggila bola, pasti anda tak asing dengan nama itu bukan? Keduanya mampu mengubah karakter permainan tim. Dari gaya permainan yang begitu membosankan, menjadi gaya yang begitu stylish, penuh kreasi serangan, meski akhirnya takluk di tangan Malaysia. Keduanya juga tak jarang menjadi kontroversi saat menangani tim nasionalnya masing-masing. Kita pun akhirnya mafhum. Menentang arus tentu bukan perkara mudah. Namun, kalau disertai prinsip yang kuat, tentu akan berbuah manis. Alfred Riedl dan Jürgen Klinsmann telah membuktikannya, meski kedua orang ini tidak (atau belum) memberi gelar juara bagi tim yang mereka tangani.

Alfred Riedl. Sosoknya dingin nyaris tanpa ekspresi. Ketika puluhan ribu suporter, dan official pertandingan di stadion, juga jutaan penggila bola berjingkrakan karena anak-anak buahnya mencetak gol, raut wajahnya hampir selalu begitu. Datar. Dingin. Bahkan mungkin tak sedikit di antara penggila bola tanah air yang menilainya angkuh. Tetapi, ternyata sosok seperti itulah yang (nyaris) mampu memuaskan dahaga prestasi sepakbola tanah air, terlebih ketika PSSI masih saja diduduki figur-figur korup. Doktrin permainan cantik bin agresif ia suntikkan ke kepala dan hati anak-anak asuhnya. Anak-anak asuhnya berhasil menjaringkan 17 gol dan hanya kemasukan 6 gol selama turnamen.

Publik tanah air dibuatnya histeris dengan penampilan mengesankan Firman Utina dan kawan-kawan. Aspek teknis sekaligus non-teknis ia perhatikan. Ia bak seorang jenderal yang begitu disegani para prajuritnya. Dari segi teknis misalnya, kini kita bisa melihat bagaimana umpan-umpan begitu akurat dari sisi ke sisi lapangan. Operan tang-ting-tung begitu fasih dijalankan para pemain. Skill individu sejumlah pemain seperti Okto, Nasuha, Gonzales, dan sebagainya, tak menutupi kerjasama tim yang menjadi faktor utama dalam sepakbola.

Pria kelahiran Wina, Austria, 2 November 1949 ini tak mengenal secuil pun kompromi dalam menegakkan disiplin buat para pemainnya. Publik tanah air tentu tak lupa bagaimana seorang bertalenta wahid seperti Boas Salossa ia coret karena terlambat bergabung dengan rekan-rekannya ke Pelatnas tempo hari. Meski ada yang memuji langkahnya itu, tak secuil yang mencibir langkah Riedl itu. Tetapi, Riedl tetap pada pendiriannya dan hanya berkata, “Boaz bisa masuk apabila empat pemain yang kita miliki cedera.”

Tak hanya itu. Riedl juga menerapkan hukuman denda bagi siapapun yang terlambat memasuki ruang makan, terlambat memasuki sesi latihan, dan sederet sesi lain yang sudah ia jadwalkan bersama asistennya (Wolfgang Pikal dan Widodo C Putro). Kapten Firman Utina menjadi salah satu pemain yang pernah terkena denda sebesar seratus hingga dua ratus ribu rupiah.

Tentu, ini bukan perkara berapa besaran dendanya, tetapi bagaimana disiplin menjadi salah satu modal mendasar bagi siapapun –dalam hal ini pemain sepakbola– yang ingin meraih prestasi. Ia tak peduli pada kebintangan seseorang. Ia hanya peduli pada kepentingan kebutuhan tim yang ia tangani. Akhirnya, terbukti kepemimpinan ‘tangan besi’ yang diterapkan Riedl berbuah manis. Dahaga prestasi publik tanah air ia puaskan dengan penampilan impresif anak-anak asuhnya.

Kita melangkah sejenak ke benua biru. Kita tentu tak lupa pada sosok asal Jerman Jürgen Klinsmann. Namanya menjulang menjadi salah satu striker licin bin lincah yang pernah ditakuti tidak hanya di Eropa, melainkan juga di dunia. Di timnas ia berjaya dengan membawa Jerman Barat menggondol Piala Eropa tahun 1996, dan puncaknya Klinsi (begitu ia biasa disapa) turut membawa tim panser menjuarai Piala Dunia 1990 setelah menaklukkan Argentina lewat gol tunggal Andres Brehme. Kemenangan yang membuat Diego Maradona terisak sedih.

Berselang 14 tahun kemudian, ia kembali ke tim panser Jerman sebagai pelatih kepala, menggantikan tandemnya semasa menjadi striker di timnas, Rudi Voller. Ia mengasuh talenta-talenta brilian seperit Bastian Schweinsteiger, Lukas Podolski, Philip Lahm. Beragam kritik datang menghampiri Klinsi. Mulai dari keengganannya untuk menetap di tanah air bersama anak buahnya, melainkan di California bersama keluarganya, keenganannya memasukkan sejumlah nama yang dianggap publik Bavaria bisa berkontribusi positif buat timnas, dan seterusnya. Tokoh-tokoh kunci sepakbola Jerman yang begitu disegani seperti Franz Beckenbauer tak urung melontarkan kritik tajam. Sang Kaisar kesal, lantaran Klinsi sebagai pelatih kepala tim panser tidak hadir di acara workshop beberapa hari sebelum Piala Dunia 2004 digelar. Ia hanya mengutus Oliver Bierhoff, asistennya.

Tetapi, terbukti tak hanya publik Jerman yang berdecak kagum saat di ajang itu anak-anak buahnya tampil begitu menawan. Memang, penggila bola sejagat sudah sekian puluh tahun memahami bahwa mereka hanya bermain untuk menang. Tiga kali menjuarai Piala Dunia, tiga kali menjadi jawara Piala Eropa, lahir bukan dari permainan cantik seperti Belanda. Para seniornya di kursi pelatih Jerman seperti Sepp Herberger (1954), Helmut Schoen (1974), dan Franz Beckenbauer (1990), memang berhasil membawa Jerman meraih kasta tertinggi di dunia. Tetapi tahun 2006 Klinsi menyuguhkan permainan ofensif yang mencengangkan dunia. Meski akhirnya Jerman tak menjadi juara karena takluk dari Italia di babak semifinal, publik Jerman menaruh simpati, hormat dan penghargaan yang luar biasa pada sosok ini. Seusai turnamen ia mengundurkan diri, meski negrinya menawarkan banyak hal menarik.

Riedl dan Klinsi seperti hendak mengajarkan kita, bagaimana sebuah prinsip harus ditegakkan apapun risikonya. Mereka tidak mengenal prinsip ‘asal bapak senang’ atau selalu ‘tebar pesona’ agar popularitas tak luntur ditelan waktu.

2 comments:

Dewi said...

bagus tulisannya hehe

Anonymous said...

dewi, makasih udah mampir...

masih sama2 belajar kita, dewi.
aku masih ngerasa belum puas kok dg tulisan2ku...

sekali lg, makasih udah mampir

Fransiskus Pascaries